Awal Musim Semi di Irak

Kompas.com - 15/01/2013, 02:12 WIB
Editor

Konflik Sunni-Syiah

Kedua, konflik Sunni dan Syiah. Mungkin bukan sebuah kebetulan, mereka yang menjadi korban politik otoritarian pemerintahan Nouri al-Maliki adalah tokoh-tokoh Sunni, seperti Thariq Hasyimi. Akibatnya, kekuatan-kekuatan politik Sunni di negara itu semakin antipati dan turun ke jalan untuk memprotes pemerintah seperti terjadi sekarang.

Persoalan Sunni dan Syiah merupakan persoalan yang sangat sensitif mengingat adanya lembaran konflik yang sedemikian tebal terkait dua sekte terbesar dalam Islam itu. Khususnya, di negara-negara yang dihuni dua pengikut ini secara seimbang, seperti Irak.

Mungkin karena alasan itulah, hingga saat ini di Irak tak ada data pasti yang disepakati terkait jumlah masyarakat Muslim Sunni dan Syiah. Masing-masing kerap menolak data yang menegaskan ”pesaingnya” lebih banyak secara populasi.

Dalam perjalanannya yang terus berlangsung hingga kini, musim semi Arab ”menyerempet” luka lama dalam bentuk konflik Sunni-Syiah ini, yaitu ketika Bahrain sempat bergejolak dan Suriah terus bergejolak hingga sekarang.

Banyak penduduk Bahrain dari kalangan Syiah, tetapi dipimpin segelintir elite Sunni. Sebaliknya, mayoritas penduduk Suriah adalah Sunni, tetapi dipimpin segelintir elite Syiah.

Intervensi negara-negara Arab Teluk (GCC) memang berhasil ”mengakhiri” secara paksa musim semi yang pernah terjadi di Bahrain. Meski demikian, sampai hari ini GCC dan sekutunya dari negara-negara Barat belum berhasil melengserkan Bashar al-Assad dalam konteks Suriah yang didukung kuat oleh Iran Rusia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam konteks konflik Syiah-Sunni dan Iran-Arab, krisis politik yang terjadi di Irak saat ini sangat menarik untuk dicermati. Di satu sisi, krisis ini semakin memperkuat nuansa konflik sektarian (Syiah dan Sunni) terhadap musim semi Arab.

Di sisi lain, musim semi Arab yang sudah berbau sektarian ini semakin dekat ke ”kiblat” masing-masing, yaitu Iran dalam konteks Syiah dan GCC (khususnya Arab Saudi) dalam konteks Sunni.

Jika segenap elite Irak dan pihak-pihak terkait lainnya tidak segera mengambil langkah cepat dan tepat, bukan tidak mungkin krisis politik yang terjadi di negara itu akan semakin membuka lebar luka lama yang ada antara kelompok Sunni dan Syiah.

Krisis ini tak hanya menjadi pertanda bagi masuknya musim semi ke Irak, tetapi juga bisa menjadi awal bagi terjadinya musim semi sektarian antara Sunni dan Syiah.

Hasibullah Satrawi Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.