Kompas.com - 23/08/2012, 11:06 WIB
EditorEgidius Patnistik

JERUSALEM, KOMPAS.com Israel terganggu dengan masuknya tank-tank Mesir ke Semenanjung Sinai bagian utara yang tanpa koordinasi dengan Israel. Pergerakan tank-tank itu merupakan pelanggaran atas ketentuan perjanjian perdamaian yang telah berusia 33 tahun di antara kedua negara. Oleh karena itu, Israel telah meminta Mesir untuk menarik tank-tank tersebut, menurut seorang pejabat Pemerintah Israel, seperti dilaporkan New York Times, Rabu (22/8/2012).

Menurut pejabat tersebut, Selasa, permintaan Israel itu telah disampaikan beberapa hari lalu. Ia menambahkan,  pemerintahan Presiden Barack Obama tampaknya telah melakukan pendekatan yang sama terhadap Kairo.

Menurut New York Times, pejabat Israel itu tak mau disebut jati dirinya karena kerapuhan hubungan Israel dengan Mesir, yang telah menegang akibat gejolak yang baru-baru ini terjadi di sana. Penggulingan Presiden Hosni Mubarak tahun lalu juga membuat Israel kehilangan sekutu tepercayanya.

Laporan tentang permintaan Israel itu memunculkan reaksi yang kontradiktif dari Mesir. Seorang juru bicara Presiden Mesir, Mohammed Mursi, membantah bahwa pemerintahnya telah menerima keluhan dari Israel. Harian Al Ahram, yang dikelola negara, mencoba mengonfirmasi laporan itu. Namun sebuah sumber militer, sebagaimana diberitakan harian tersebut, menepis laporan itu dengan menyebutnya sebagai pabrikasi media Israel. Sumber itu malah mengatakan pergerakan tank-tank itu telah dikoordinasikan dengan militer Israel.

Menurut New York Times, sengketa terkait pergerakan tank-tank itu ke Sinai pada awal bulan ini tampaknya menjadi bagian dari langkah penyeimbangan rumit saat pemimpin baru Mesir, yang tertarik untuk mengubah aspek ketentuan militer perjanjian itu, menguji kesabaran Israel. Pada gilirannya, Israel berusaha untuk mendorong Mesir untuk memulihkan ketertiban di Sinai yang semakin kacau, tetapi tanpa menimbulkan ancaman bagi keamanannya sendiri.

Dengan adanya pasukan Mesir di Sinai yang dibatasi secara ketat sesuai lampiran ketentuan militer dari perjanjian damai itu, daerah padang pasir yang luas itu hingga sekarang menjadi sebuah zona penyangga demiliterisasi. Namun, Mesir yang telah lama dongkol dengan pembatasan itu berpendapat bahwa memulihkan keamanan di Sinai, yang merupakan kepentingan bersama Israel-Mesir, membutuhkan pasukan tambahan dan persenjataan berat.

"Sangat jelas bagi semua orang bahwa Mesir—apakah mereka berhasil dalam berurusan dengan teror di Sinai atau tidak—pada suatu titik akan meminta untuk membuka pembatasan militer itu," tulis Alex Fishman, seorang analis militer, Selasa, di Yediot Aharonot, sebuah harian populer Israel. "Makna dari hal ini adalah bahwa demiliterisasi Sinai akan terkikis, yang merupakan salah satu jangkar paling penting dari perjanjian damai antara Israel dan Mesir."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Para pejabat mencatat, lampiran militer pada perjanjian itu diubah dua tahun lalu, ketika situasi di Sinai mulai memburuk, untuk memungkinkan tujuh batalyon tambahan Mesir masuk ke daerah itu, meskipun Mesir belum memenuhi kuota tersebut.

Seorang pejabat mengatakan, komunikasi di antara kedua pihak mungkin tidak sebaik sebelumnya karena adanya wajah-wajah baru dan kekacauan setelah serangan pada 5 Agustus lalu. Namun dia menambahkan, Pemerintah AS telah mendorong Israel dan Mesir untuk tetap bekerja sama.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.