Anders Breivik Akan Beberkan Bukti Terakhir

Kompas.com - 23/04/2012, 15:59 WIB
EditorKistyarini

Anders Behring Breivik, terdakwa kasus pengeboman dan penembakan massal di Norwegia tahun lalu, akan membeberkan bukti-bukti terakhir miliknya terkait tindakan brutalnya itu.

Sebelumnya, dia sudah mengaku sebagai pelaku pengeboman di Oslo dan penembakan yang menewaskan 77 orang.

Tujuan sidang kali ini adalah untuk membuktikan apakah Breivik mengalami gangguan jiwa atau tidak.

Dalam sidang sebelumnya, Jumat (20/4/2012), Breivik mengatakan, dia datang ke Pulau Utoeya yang saat itu dipenuhi pemuda yang tengah mengikuti perkemahan pemuda Partai Buruh.

Sebelum menembak korban pertamanya, Breivik menuturkan, dia mendengar "100 suara" di kepalanya agar mengurungkan niatnya itu.

Namun, setelah sempat ragu, dia akhirnya menembak dua korban pertamanya di kepala dan terus berjalan.

Breivik menjelaskan, dia mengisi ulang senjatanya saat kehabisan peluru.

"Semua memohon agar tidak dibunuh. Saya tembak mereka semua di kepala," kata Breivik.

Beberapa orang, lanjut Breivik, berpura-pura mati. Namun, dia mengetahuinya dan tetap menembak mereka.

Breivik melanjutkan aksinya di sekeliling pulau. Dia membujuk para pemuda itu keluar dari persembunyiannya dengan mengatakan bahwa dia adalah polisi yang datang untuk melindungi mereka.

Wartawan BBC Steven Rosenberg yang hadir di dalam sidang mengatakan, keheningan di ruang sidang berubah menjadi tangis ketika Breivik mengungkapkan kisahnya itu.

Mekanisme perlindungan

Breivik mengakui telah membunuh 77 orang, tetapi menolak jika dia dianggap melakukan kejahatan. Dia mengatakan tengah melindungi Norwegia dari ancaman multikulturalisme.

Dia mengatakan telah melakukan sebuah aksi penting saat melakukan pengeboman kantor pemerintah di Oslo.

"Namun, penembakan Utoeya menjadi yang terpenting saat kantor pemerintah tidak ambruk seperti yang direncanakan," ujarnya.

Hukuman Breivik tergantung keputusan pengadilan soal kewarasannya. Jika waras maka Breivik akan menghadapi hukuman penjara. Namun, jika dianggap gila maka dia akan dikirim ke rumah sakit jiwa.

Breivik sendiri mengaku dirinya tidak gila, tetapi dia adalah pelaku politik ekstrem.

Dalam pernyataan lain di depan pengadilan, Breivik mengaku, dia adalah manusia normal dalam situasi normal dan sangat peduli dengan orang di sekitarnya.

Dia juga memahami bahwa kesaksian yang dipaparkan di pengadilan membuat orang lain ketakutan.

Tetapi, lanjut Breivik, dia telah menjalani program "dehumanisasi" pada 2006 untuk mempersiapkan dirinya melakukan pembunuhan.

Pria berusia 33 tahun itu menambahkan memunculkan empati sangat tidak mungkin, karena dia akan ambruk secara mental jika mencoba memahami apa yang telah dia lakukan.

Saat ditanya apakah dia pernah merasakan kesedihan, Breivik mengatakan, dirinya pernah berada dalam sebuah situasi menyedihkan.

"Saat pemakaman saudara teman saya, itulah saat yang paling menyedihkan," ujar Breivik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.