Kompas.com - 12/04/2012, 06:49 WIB
EditorRobert Adhi Ksp

BANDA ACEH, KOMPAS.com -  Gempa 8,5 skala Richter yang berpusat di Simeulue, Aceh, Rabu (11/4/2012) pukul 15.38, memicu kepanikan di sepanjang pesisir barat Sumatera. Gempa berikutnya terjadi pukul 17.43 berkekuatan 8,8 skala Richter. Para ahli mengkhawatirkan gempa beruntun ini akan memicu gempa yang lebih besar.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, dibandingkan dengan gempa dan tsunami Aceh 2004, situasi pascagempa kali ini lebih terkendali. Sistem peringatan dini bekerja dengan baik. ”Situasi sekarang terkendali, berbeda dengan tsunami Aceh 2004 dan bencana-bencana lainnya,” kata Yudhoyono dalam jumpa pers bersama Perdana Menteri Inggris David Cameron, di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin.

Berdasarkan pantauan di lapangan, gempa kali ini menimbulkan kepanikan di sepanjang pesisir barat Sumatera, mulai dari Lampung hingga Banda Aceh. Sistem kesiapsiagaan masih banyak yang harus dibenahi.

Di Banda Aceh, gempa menyebabkan warga bergegas menjauh dari pantai dengan kendaraan bermotor sehingga menimbulkan kemacetan di berbagai ruas jalan. Kepanikan juga menimbulkan kecelakaan yang melibatkan sepeda motor.

Ayu Konella (24), warga Lamlagang, Banda Aceh, mengatakan tidak mendengar sirene tsunami pascagempa. Warga berhamburan. Arus listrik yang padam setelah gempa menambah kekacauan. Sementara Fithrah (33) mengatakan, suara sirene peringatan tsunami baru terdengar di Lampriet, Banda Aceh, sekitar 40 menit setelah gempa.

Warga Calang, Kabupaten Aceh Jaya, Novita Apriliana, menyebutkan, informasi soal kemungkinan terjadinya tsunami juga tak sampai ke masyarakat. Tak terdengar suara sirene atau pengumuman yang memandu warga bergerak menuju jalur evakuasi.

”Kami langsung lari meninggalkan Calang ke arah Gunung Keutapang di dekat Kodim Aceh Jaya dan bertahan di sana selama satu jam. Begitu turun, ternyata ada gempa lagi sehingga kami lari ke Gunung Carak. Rencananya, kami bermalam di sini,” ujar Novita.

Calang termasuk kawasan yang luluh lantak saat tsunami menerjang pada 26 Desember 2004. Hampir semua bangunan di kota yang diapit Samudra Hindia dan pegunungan itu musnah disapu tsunami.

Kepanikan juga dialami ribuan warga Meulaboh. Menurut Taufik Yanizar, warga setempat, tak terdengar sirene saat gempa atau ketika air laut mulai naik. Di Meulaboh disebutkan, ketinggian tsunami mencapai 80 sentimeter.

”Saya tak sempat melihat air laut naik karena langsung menyelamatkan keluarga ke tempat lebih tinggi. Namun, saat kami terjebak macet karena banyak kendaraan menuju Kaway XVI, orang-orang bilang air naik di Meulaboh,” ujar Taufik.

Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X