Pyongyang Setujui Moratorium Nuklir

Kompas.com - 01/03/2012, 07:55 WIB
EditorEgidius Patnistik

PYONGYANG, KOMPAS.com — Korea Utara akhirnya setuju menangguhkan seluruh program persenjataan nuklirnya sebagai ganti bantuan pangan dari Amerika Serikat. Demikian dinyatakan kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, Rabu (29/2/2012).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara (Korut), yang dikutip KCNA, mengatakan, negara tersebut menyetujui moratorium uji coba senjata nuklir dan penembakan rudal jarak jauh, serta pengayaan uranium di Yongbyon. Korut juga mengizinkan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) memonitor dan melakukan verifikasi terhadap penangguhan proses pengayaan uranium dan pemadaman reaktor nuklir di Yongbyon.

Secara bersamaan, Departemen Luar Negeri AS juga mengeluarkan pernyataan serupa di Washington DC. Menurut Juru Bicara Deplu AS Victoria Nuland, pihak AS akan bertemu lagi dengan para pejabat Pyongyang untuk menuntaskan detail kesepakatan terkait paket bantuan 240.000 ton bahan pangan dari AS kepada Korut.

Terobosan penting

Kesepakatan ini adalah sebuah terobosan dalam kebuntuan pembicaraan untuk melucuti persenjataan nuklir Korut. Negara komunis tersebut melakukan uji peledakan bom nuklir pada 2006 dan 2009, serta mengundurkan diri dari pembicaraan enam pihak dengan AS, Rusia, China, Jepang, dan Korea Selatan (Korsel) pada 2009.

”AS masih memiliki berbagai keprihatinan mendalam terkait sikap Korut dalam berbagai hal, tetapi pengumuman (kesepakatan) hari ini menunjukkan kemajuan penting dalam menyelesaikan beberapa masalah tersebut meski masih terbatas,” tutur Nuland.

Kesepakatan di antara dua negara tersebut diduga tercapai dalam pertemuan para juru runding Korut dan AS di Beijing, China, pekan lalu. Menurut pihak Korut, selain menawarkan bantuan pangan, AS juga menjanjikan akan mencabut semua sanksi dan syarat pembangunan reaktor air ringan untuk pembangkit listrik di Korut begitu pembicaraan enam pihak dilanjutkan kembali.

Kesepakatan ini terjadi hanya sekitar dua bulan setelah meninggalnya pemimpin Korut, Kim Jong Il. Sebelum Jong Il meninggal dunia, kedua negara dikabarkan hampir menyetujui perjanjian serupa. Namun, perundingan waktu itu terputus setelah Jong Il meninggal dunia dan terjadi pergantian pucuk kepemimpinan di Korut. (AP/AFP/Reuters/DHF)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.