Mali Siap Terima Kembali Petempur Khadafy

Kompas.com - 11/10/2011, 15:08 WIB
EditorEgidius Patnistik

KIDAL, KOMPAS.com - Pihak berwenang dan organisasi-organisasi non-pemerintah di Mali sedang melakukan persiapan bagi kepulangan para tentara pendukung Moammar Khadafy yang kelahiran Mali. Meski kelahiran Mali, mereka telah menjadi warga Libya.

"Ini satu hal yang normal bahwa kami menyambut saudara-saudara kami," kata seorang pengusaha. Tenda-tenda telah dipasang, sekitar 30 km di utara Kidal di barat daya Mali.

Pengumpulan dana telah dilakukan oleh satu komite yang dibentuk untuk menyambut bekas tentara itu, yang diperkirakan akan tiba dalam beberapa hari ke depan. Tidak ada jadwal atau pernyataan tentang berapa jumlah mereka yang diperkirakan akan pulang. Ratusan anggota suku Tuareg dari Mali dan Niger tetangganya pergi ke Libya  tahun 1990-an dan menjadi anggota tentara serta memperoleh kewarganegaraan Libya.

Mohamed Ouchar, seorang pengusaha regional memiliki seorang saudara di antara mereka yang pulang. "Ia menjadi anggota militer Khadafy, berkebangsaan Libya. Ini adalah biasa, kami menyambut saudara-saudara kami" tanpa permusuhan, tambahnya. "Kami menghadapi bahaya dengan penuh keberanian. Daripada  membiarkan mereka menghilang di hutan belantara di mana mereka bisa menjadi satu sumber berbahaya, kami memutuskan menyambut mereka bersama senjata-senjata dan barang-barang mereka. Lebih baik menjadikan mereka bagian dari masyarakat," kata satu sumber di kantor gubernur yang tidak disebutkan namanya.

Staf umum militer Mali memerintahkan, para mantan petempur yang akan pulang dengan senjata-senjatanya itu "melucuti dengan sukarela" senjata mereka. "Ini pertama kali kami mengakui kepulangan satu konvoi militer," kata Ould Mohamed dari ’Stop Arms’, satu  kelompok organisasi swadaya masyarakat yang aktif menentang penyebaran senjata di wilayah Sahel.

Ia menambahkan, para mantan serdadu itu kemungkinan besar  akan pulang bersama dengan "para warga spil, anggota-anggota keluarga mereka." Ould Mohamed memperkirakan mereka yang pulang juga termasuk tentara sewaan yang direkrut pada awal  pemberontakan, pada pertengahan Februari, terhadap Kolonel Mommar Khadafy.

Ketika pemerintah Khadafy hancur, orang-orang yang berperang membantu dia, yang berasal dari daerah-daerah Sahel, pulang ke daerah asalnya. Mereka dilatih berperang dan diberikan senjata. Hal itu menimbulkan kekhawatiran akan keamanan dan stabilitas wilayah yang telah menghadapi konfrontasi dengan terorisme dari jaringan Al Qaeda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ould Mohamed mengatakan, jika para petempur itu pulang ke Mali, "itu bukan satu masalah. Asalkan mereka pulang dengan niat-niat baik, kami akan membuka tangan. Tidak akan menimbulkan kekacauan."

Pandangan serupa diungkapkan seorang pejabat Kidal lainnya, yang menjadi anggota komite dalam menyambut para warga Mali dari Libya. Wakil-wakil pemerintah dan masyarakat lokal  ikut dalam diskusi-diskusi dengan warga Mali lainnyaa, warga sipil serta mantan petempur, yang telah pulang dari Libya.

Seorang menteri pemerintah mengatakan, Dewan Transisi Nasional (NTC) di Libya yang berkuasa harus memperhatikan bekas tentara Libya asal Mali itu. "Mereka warga Libya. Terserah NTC untuk meperlakukan mereka dalam rekonsiliasi nasional dan menerima mereka, agar Sahel, yang telah tidak stabil jangan menjadi semakin buruk," katanya.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.