Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kabinet Baru Jepang Guncang

Kompas.com - 11/09/2011, 01:40 WIB

Tokyo, Sabtu - Krisis kepercayaan belum berakhir di Jepang. Kabinet Perdana Menteri Yoshihiko Noda yang belum berusia dua pekan diguncang mundurnya Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Yoshio Hachiro, Sabtu (10/9), karena ucapannya menyinggung masyarakat.

Hachiro, yang baru ditunjuk PM Noda delapan hari lalu, memicu amarah masyarakat Jepang karena menyebut daerah di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima yang rusak akibat gempa bumi dan tsunami, 11 Maret lalu, sebagai ”shi no machi atau ”kota mati”.

Selain itu, Hachiro juga kelabakan dan sibuk membantah laporan media yang menyebutkan, setelah kunjungannya ke PLTN Fukushima, ia seolah menggosokkan jaketnya kepada wartawan saat menyampaikan komentar, yang bisa diartikan sebagai ”saya menularkan radiasi kepada Anda”.

Namun, ia juga menolak menjelaskan lebih lanjut apa yang terjadi. Menurut Hachiro, hal itu terjadi dalam pertemuan tidak resmi dengan media.

Insiden ini menjadi pukulan pertama untuk Noda, PM Jepang keenam dalam lima tahun terakhir, yang mempunyai tugas berat memulihkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah setelah mundurnya PM Naoto Kan. Kan mendapat kecaman pedas karena kelambanan pemerintahannya mengatasi bencana alam ganda yang mengakibatkan 20.000 orang tewas dan hilang tersebut.

Dalam konferensi pers, Sabtu, Hachiro (63) berulang kali meminta maaf dan mengatakan PM Noda sudah menerima pengunduran dirinya. ”Saya minta maaf dari dalam lubuk hati yang terdalam karena ucapan saya yang menyakitkan masyarakat Jepang, terutama warga Prefektur Fukushima,” kata Hachiro.

Kepercayaan

Noda sebelumnya berjanji, pemerintahannya akan mempercepat usaha pemulihan pascabencana. Namun, insiden ini tak banyak membantu memulihkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Dari 17 anggota kabinet Noda, 10 di antaranya adalah pendatang baru, termasuk Hachiro. Ucapan Hachiro yang dinilai menyinggung rakyat itu terjadi saat dirinya mendampingi Noda ke kawasan PLTN dan Prefektur Fukushima, Kamis.

”Sayangnya, tak ada satu orang pun yang terlihat di jalan dan di sekitar kota dan desa. Ini seperti kota mati,” ujarnya saat itu. Hachiro langsung meminta maaf dan menarik ucapannya.

Komentarnya soal ”kota mati” dan gurauannya soal radiasi dengan wartawan dinilai sebagai sikap tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat. Partai oposisi pun langsung meminta Noda memecat Hachiro.

”Kalau Anda memikirkan perasaan warga Fukushima, Anda tak akan berucap dan bertindak seperti itu,” kata Shigeru Ishiba, anggota senior Partai Demokratik Liberal yang beroposisi.

Ungkapan ”kota mati” semakin tidak sensitif karena Pemerintah Jepang tak bisa memberikan kerangka waktu yang pasti bagi pengungsi asal Fukushima untuk kembali ke rumah mereka. Pemerintah mengatakan, sebagian lokasi kemungkinan tak bisa dihuni lagi karena kontaminasi radiasi. Hal itu membuat pemerintah semakin dianggap tak mampu menangani krisis ini.

Puluhan ribu warga masih berada di tempat pengungsian, meninggalkan rumah, pertanian, dan usaha mereka yang terletak dalam radius 20 kilometer dari reaktor PLTN yang bermasalah.

Pemerintah mendapat kecaman keras dari aktivis lembaga swadaya masyarakat dan akademisi karena lokasi pengungsian terlalu sempit dan tidak memperhitungkan kemungkinan radiasi lanjutan. (AFP/WAS)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com