Suriah Dekat dengan Rusia dan Iran

Kompas.com - 27/04/2011, 21:12 WIB
EditorBenny N Joewono

MALANG, KOMPAS.com — Pengamat, peneliti, dan penulis disertasi tentang militer yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Dr Muhadjir Effendy, menilai misteri tentang mengapa Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menggempur Libya tetapi tidak melakukan hal yang sama terhadap Suriah, dapat dijelaskan bahwa itu karena Suriah punya hubungan dengan Iran dan Rusia.

Bagaimanapun penjelasan pasti akan sikap AS semata-mata bergantung pada pertimbangan Presiden AS Barack Obama. Tentu hal itu berhubungan dengan kalkulasi politik AS terhadap Suriah.

"Namun dalam hal sikap terhadap Libya, NATO dan AS memang telah mengalami bias karena ketidaksukaan Barat umumnya pada pribadi Moammar Khadafy," komentar Muhadjir, yang pernah diundang khusus oleh Departemen Pertahanan AS (Pentagon) ini, Rabu (27/4/2011).

Suriah telah membentuk semacam pakta pertahanan dengan Rusia dan Iran. Jika AS dan NATO hendak menggempur Suriah untuk alasan kemanusiaan membela rakyat Suriah yang ditembaki militer Suriah seperti halnya Libya, risiko militernya agak berat bagi AS dan NATO. Meski demikian, peta koalisi pertahanan di Timur Tengah saat ini juga sedang dikocok ulang pascarevolusi Mesir.

"Saya lebih percaya AS dan sekutunya akan memilih jalan diplomatik untuk bernegosiasi dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad, meredam aksi militer Suriah, untuk mendukung ideologi perjuangan AS membela kebebasan rakyat seluruh negara di dunia. Tindakan terhadap Libya tak berarti akan melakukan hal yang sama terhadap Suriah. Ada konsekuensi politik dan militer yang harus diperhitungkan pada setiap wilayah," katanya.

Diberitakan, hingga akhir pekan lalu protes antipemerintah di Suriah telah mengorbankan 400 jiwa rakyat Suriah karena aksi militer Suriah terhadap rakyatnya sendiri. Presiden Suriah menganggap rakyat pemrotes sebagai kriminal bersenjata hingga dia mereasa benar untuk punya alasan melepaskan militer bersenjata lengkap, bahkan kendaraan militer menumpas pemrotes.

Menurut Muhadjir, ironi memang dihadapi dalam hubungan antara Libya dan Rusia sebab selama ini belanja pesawat tempur militer Libya jutaan dollar AS senantiasa kepada Rusia. Namun, pada saat pesawat-pesawat tempur Libya eks Rusia dari jenis MiG harus berhadapan dengan pesawat-pesawat NATO, tak ada dukungan politik yang diberikan oleh Rusia terhadap Libya.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X