"Hujat" Nabi, Pengawal Bantai Gubernur

Kompas.com - 05/01/2011, 10:37 WIB
EditorEgidius Patnistik

ISLAMAB, KOMPAS.com Gubernur Provinsi Punjab, Pakistan, Salman Taseer tewas ditembak pengawalnya sendiri, Selasa (4/1/2011). Menteri Dalam Negeri Pakistan Rehman Malik mengatakan, motif pembunuhan itu tampaknya karena Taseer menentang undang-undang (UU) penghujatan kontroversial negara tersebut.

Pengawal itu, kata Rehman Malik, telah ditangkap. Penembakan tersebut terjadi di Pasar Koshar, Islamabad, yang sering dikunjungi orang asing. Pengawal itu, Malik Mumtaz Hussain Qadri, mengaku, membunuh Taseer karena "dia menghujat Nabi Muhammad," kata Naeem Iqbal, juru bicara polisi Islamabad, sebagaimana dikutip CNN, Rabu. Qadri mengatakan kepada polisi bahwa Taseer telah melukiskan UU penghujatan itu sebagai "UU hitam." UU tersebut menjadikan hujatan sebagai kejahatan yang diancam dengan hukuman mati karena menghina Islam, Al Quran, atau Nabi Muhammad.

Setelah menembak Taseer, Qadri segera menyerahkan diri kepada pihak berwenang, lapor Associated Press Pakistan (APP), yang mengutip Rehman Malik. Taseer tengah meninggalkan pasar itu ketika ditembak. APP mengatakan, dia makan siang dengan seorang teman di sebuah kafe di pasar tersebut. Sebelumnya, Iqbal mengatakan, Taseer pergi ke pasar untuk membeli sejumlah hal. Ia dibawa ke rumah sakit setelah penembakan tersebut, tetapi meninggal, tampaknya karena kehilangan banyak darah, kata para pejabat.

Namun, Dr Sharif Astori, juru bicara Poly Clinic Hospital, kepada CNN mengatakan, Taseer "sudah meninggal saat dibawa ke rumah sakit." Astori mengatakan, para dokter menghitung 26 peluru dalam tubuhnya. Sebagian besar luka fatal terdapat di dada, wajah, leher, dan kakinya. Sejumlah peluru bahkan benar-benar menembus tubuhnya.

Sudah Tahu Taseer sudah tahu bahwa ia dijadikan sasaran oleh sejumlah orang karena pendiriannya yang menentang UU penghujatan itu, kata PJ Mir, seorang wartawan Pakistan dan sahabat Taseer, kepada CNN. Mir mengungkapkan, Taseer mengatakan hal itu kepadanya ketika mereka berdua makan malam bersama pekan lalu. Taseer bahkan telah meminta istrinya untuk menganggap dirinya seorang janda. "Taseer benar-benar peduli kepada semua orang, peduli kepada semua agama, dan tidak takut untuk membela yang tertindas," kata Mir. "Hari ini kami kehilangan orang yang sangat baik."

UU penghujatan yang kontroversial itu mendapat sorotan November lalu ketika seorang perempuan Kristen, Asia Bibi, dari Provinsi Punjab, dijatuhi hukuman mati karena dinyatakan menghujat Nabi Muhammad. Pengadilan memutuskan perempuan 45 tahun tersebut bersalah karena mencemarkan Nabi Muhammad dalam suatu pertengkaran pada tahun 2009 dengan sejumlah perempuan Muslim yang juga teman kerja Bibi di sebuah ladang garapan. Sebuah investigasi oleh kementerian pemerintah Pakistan kemudian menemukan, tuduhan terhadap Bibi berasal dari "permusuhan agama dan pribadi" dan merekomendasikan pembebasan perempuan tersebut. Pemerintah juga mengatakan akan meninjau UU itu.

Dalam komentarnya untuk CNN pada November itu, Taseer berkata bahwa Presiden Pakistan Asif Ali Zardari akan mengampuni Bibi jika pengadilan tidak membebaskan perempuan tersebut. "Dia (Presiden) seorang liberal, Presiden yang berpikiran modern, dan tidak ingin melihat seorang perempuan miskin seperti ini (Bibi) dijadikan sasaran dan diekskusi. Itu tidak akan terjadi," katanya.

"UU penghujatan bukanlah hukum yang dibuat Allah. Ini UU buatan manusia," katanya. "Ini merupakan UU yang memberi alasan bagi ekstremis dan reaksioner untuk menyasar orang-orang lemah dan minoritas," lanjutnya.

Reaksi atas pembunuhan Taseer langsung bermunculan dari para pejabat di Pakistan dan dari luar negeri. Perdana Menteri Pakistan Syed Yusuf Raza Gilani mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia "sangat mengutuk" insiden itu. Partai Rakyat Pakistan, partai yang berkuasa, menyatakan akan mengadakan dua minggu berkabung untuk kematian Taseer.

"Saya terkejut mendengar berita pembunuhan Salman Taseer," kata Menteri Luar Negeri Inggris William Hague dalam sebuah pernyataan. "Kematiannya merupakan kerugian bagi kepemimpinan Pakistan."

Sementara itu, menteri untuk urusan minoritas Pakistan berjanji akan terus mendorong perubahan UU penghujatan itu. "Saya akan terus," kata Shahbaz Bhatti kepada CNN. "Saya akan kampanye untuk ini... orang-orang fanatik itu tidak bisa menghentikan saya untuk untuk membuat langkah lanjutan melawan penyalahgunaan UU penghujatan itu."

Taseer menikah dua kali dan memiliki enam anak. Dia tinggal di Lahore, Pakistan. Dia menjadi Gubernur Provinsi Punjab sejak Mei 2008.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Marah karena Merasa Dikhianati, Kurdi Larang AS Bawa Tawanan Berbahaya ISIS

Marah karena Merasa Dikhianati, Kurdi Larang AS Bawa Tawanan Berbahaya ISIS

Internasional
Permintaan Terakhir Pria Ini Bikin Para Pelayat Tertawa saat Hadiri Pemakamannya

Permintaan Terakhir Pria Ini Bikin Para Pelayat Tertawa saat Hadiri Pemakamannya

Internasional
Berisi Air Suci, 'Sepatu Yesus' Ini Ludes dalam Hitungan Menit Meski Harganya Rp 42 Juta

Berisi Air Suci, "Sepatu Yesus" Ini Ludes dalam Hitungan Menit Meski Harganya Rp 42 Juta

Internasional
Trump Tak Masalah jika Napoleon Bonaparte Sekali Pun Bantu Lindungi Kurdi Suriah

Trump Tak Masalah jika Napoleon Bonaparte Sekali Pun Bantu Lindungi Kurdi Suriah

Internasional
Minta Erdogan Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah, AS Jatuhkan Sanksi atas 3 Menteri Turki

Minta Erdogan Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah, AS Jatuhkan Sanksi atas 3 Menteri Turki

Internasional
Trump Siap Hancurkan Ekonomi Turki jika Teruskan Serangan ke Kurdi Suriah

Trump Siap Hancurkan Ekonomi Turki jika Teruskan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Korban Selamat Topan Hagibis Tewas Terjatuh dari Helikopter | Peringatan Presiden China

[POPULER INTERNASIONAL] Korban Selamat Topan Hagibis Tewas Terjatuh dari Helikopter | Peringatan Presiden China

Internasional
Uni Eropa Kecam Invasi Militer Turki di Suriah, Tapi Tolak Jatuhkan Embargo Senjata

Uni Eropa Kecam Invasi Militer Turki di Suriah, Tapi Tolak Jatuhkan Embargo Senjata

Internasional
Turki Bantah Serangannya terhadap Kurdi Suriah Meningkatkan Risiko Tahanan ISIS Kabur

Turki Bantah Serangannya terhadap Kurdi Suriah Meningkatkan Risiko Tahanan ISIS Kabur

Internasional
Trump: Kurdi Suriah Mungkin Sengaja Bebaskan Tahanan ISIS untuk Pancing AS

Trump: Kurdi Suriah Mungkin Sengaja Bebaskan Tahanan ISIS untuk Pancing AS

Internasional
Iran Rilis Foto Kapal Tanker Minyak yang Berlubang Akibat Diserang di Laut Merah

Iran Rilis Foto Kapal Tanker Minyak yang Berlubang Akibat Diserang di Laut Merah

Internasional
Polisi Hong Kong: Demonstran Pakai Bom Rakitan Jarak Jauh untuk Lukai Petugas

Polisi Hong Kong: Demonstran Pakai Bom Rakitan Jarak Jauh untuk Lukai Petugas

Internasional
Lebih Kejam, Gembong Narkoba Meksiko Pengganti El Chapo Ini Tega Bunuh Perempuan dan Anak-anak

Lebih Kejam, Gembong Narkoba Meksiko Pengganti El Chapo Ini Tega Bunuh Perempuan dan Anak-anak

Internasional
Politisi Perempuan Kurdi Disergap dan Ditembak Mati oleh Milisi Pendukung Turki

Politisi Perempuan Kurdi Disergap dan Ditembak Mati oleh Milisi Pendukung Turki

Internasional
Sepakat Bantu Kurdi Hadapi Turki, Pasukan Pemerintah Suriah Bergerak ke Perbatasan

Sepakat Bantu Kurdi Hadapi Turki, Pasukan Pemerintah Suriah Bergerak ke Perbatasan

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X