Imigran Gelap Mengaku Ingin Berwisata

Kompas.com - 29/12/2009, 03:48 WIB
Editor

Surabaya, Kompas - Sebanyak 17 imigran gelap asal Afganistan dan Irak yang diamankan Kepolisian Resor Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (27/12) dini hari, mengatakan, keberadaan mereka di Jawa Timur hanya sekadar jalan-jalan.

Jasima Nessef, Emad Essa Awad, dan Mohamad Amaki, tiga dari 17 imigran yang masih ditahan itu, mengatakan, mereka tidak bermaksud melanggar UU Keimigrasian. ”Kedatangan kami ke Surabaya hanya untuk berjalan-jalan dan berbelanja, tidak ada maksud lain. Kami tiba di Jakarta setelah menumpang beberapa penerbangan empat bulan lalu. Kami (memang) melakukan kesalahan, tetapi tidak dengan sengaja,” papar Jasima dalam bahasa Inggris yang tidak terlalu fasih.

Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Tanjung Perak Surabaya, Djarot Sutrisno, mengatakan, empat dari 17 imigran itu memang memiliki surat rekomendasi dari Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR). Namun, itu bukan berarti mereka kebal hukum dan bebas berkeliaran di Indonesia. ”Surat rekomendasi tersebut merupakan bentuk perlindungan hukum bagi pemegang dokumen sebagai pengungsi,” katanya.

Mengenai 13 imigran lainnya, menurut Djarot, mereka mengaku masih mengurus surat dari UNHCR. Praktis mereka belum menyandang status sebagai pengungsi.

”Bagaimanapun semuanya masuk dan menetap secara ilegal,” kata Djarot, seraya menambahkan, semua imigran itu melanggar Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Sesuai Pasal 48 dan Pasal 53, mereka diancam pidana penjara maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 30 juta.

Ia mengakui, Indonesia umumnya hanya dijadikan negara transit oleh imigran seperti itu. Biasanya mereka memilih negara ketiga sebagai tempat pelarian. ”Australia menjadi salah satu negara favorit imigran. Saat ini di Christmas Island terdapat sekitar 2.000 pengungsi yang berangkat dari Jawa Timur,” kata Djarot.

Jasima, bersama Emad Essa, Mohamad Amaki, dan Ahmed Niethel—empat imigran yang memiliki rekomendasi dari UNHCR—kemarin juga mengakui negara tujuan mereka adalah Australia. ”Kami memilih (transit) di Indonesia karena mayoritas penduduk di sini beragama Islam. Kami minta agar UNHCR mau membantu. Kami tidak mau pulang. Kami memerlukan perlindungan,” ujar Amaki. (BEE)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.