Jumat, 31 Oktober 2014

News / Internasional

Alutsista

Korsel Membeli 60 Pesawat Tempur Siluman

Sabtu, 26 Mei 2012 | 12:11 WIB

SEOUL, KOMPAS.com — Korea Selatan (Korsel) berencana meningkatkan kemampuan militernya secara signifikan dengan membeli 60 pesawat tempur berteknologi siluman atau stealth, 36 helikopter serbu, dan delapan helikopter angkatan laut. Keputusan pesawat buatan mana yang akan dibeli Korsel akan diumumkan Oktober tahun ini.

Demikian diungkapkan juru bicara Badan Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) Pemerintah Korsel, Jumat (25/5/2012). "Kami berencana mengumumkan nama-nama pemasok senjata ini pada bulan Oktober," tutur juru bicara tersebut.

Tender pengadaan 60 unit pesawat siluman senilai 8 triliun won (Rp 62,63 triliun) itu diikuti oleh pesawat F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin dari AS, F-15 SE Silent Eagle buatan Boeing dari AS, dan Sukhoi T-50 PAK FA buatan Sukhoi dari Rusia. Pesawat Eurofighter Typhoon juga dikabarkan ikut dalam tender ini, meski pesawat ini bukan pesawat stealth dan beda kelas dengan F-15 maupun Sukhoi T-50.

Selain itu, Korsel juga menganggarkan 1,8 triliun won untuk membeli 36 heli serbu. Tender pengadaan heli perang ini diikuti oleh heli Apache buatan Boeing dari AS, Tiger buatan Eurocopter dari Eropa, dan heli T129 buatan Turki.

Rencana pembelian senjata besar-besaran ini sempat menuai kritik dari pihak oposisi di Korsel. Partai Demokrat Bersatu (DUP) mendesak pemerintah untuk tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.

"Diperlukan studi dan peninjauan kembali sebelum pemerintah melanjutkan pembelian berbagai senjata ini. Jika perlu, proyek ini biar diteruskan pemerintah berikutnya," ungkap DUP dalam pernyataan resmi kepada kantor berita AFP.

Korsel telah membeli sedikitnya 60 unit F-15 versi non-stealth sejak 2002 dalam dua tahap program modernisasi senjata. Semua ini dilakukan di tengah peningkatan ketegangan dengan Korea Utara (Korut).

Dua negara bertetangga ini secara teknis masih berperang karena Perang Korea 1950-1953 baru diakhiri perjanjian gencatan senjata, bukan traktat perdamaian penuh.


Penulis: Dahono Fitrianto
Editor : Agnes Swetta Pandia