Kamis, 17 April 2014

News / Internasional

Sudan Nyatakan Keadaan Darurat di Perbatasan

Senin, 30 April 2012 | 11:10 WIB

Baca juga

KHARTOUM, KOMPAS.com - Sudan mendeklarasikan keadaan darurat, Minggu (29/4/2012), di wilayah yang berbatasan dengan Sudan Selatan. Pernyataan itu memberi kewenangan Sudan untuk menangkapi orang-orang yang dianggap membahayakan di wilayah itu.

Sehari sebelumnya, Sudan menangkap empat orang asing di wilayah Heglig. Dari penangkapan itu Sudan menuduh Sudan Selatan menggunakan tentara asing dalam pertempuran di Heglig beberapa waktu lalu.

Penahanan dan deklarasi keadaan darurat itu menambah ketegangan antara kedua negara, yang dalam sebulan terakhir berada di bibir peperangan besar terkait sengketa wilayah.

Para pejabat Sudan menuduh Selatan menggunakan tentara asing dalam serangan terhadap wilayah kaya minyak Heglig yang diklaim oleh Sudan.

Dalam siaran televisi, Sabtu (28/4/2012) malam, juru bicara militer Sudan Kolonel Sawarmy Khaled mengumumkan telah menangkap empat warga negara asing di Heglig. Masing-masing, WN Inggris Norwegia, Afrika Selatan, dan Sudan Selatan. Keempatnya disebut memiliki latar belakang militer. Namun Sudan menambah ketegangan dengan menjatuhkan bom ke wilayah Selatan.

Sudan menuduh mereka melakukan aktivitas militer di Heglig, tanpa membeberkan jenis kegiatan yang dimaksud. Khaled mengatakan penangkapan itu membuktikan tuduhan pemerintahnya bahwa Selatan menggunakan tentara asing.

Sudan Selatan memisahkan diri dari Sudan pada Juli 2011, namun kedua negara belum bersepakat soal garis demarkasi dan pembagian hasil minyak dan sumber-sumber alam lainnya.

Beberapa waktu lalu Selatan menyerbu Heglig dan menyatakan wilayah kaya minyak itu sebagai miliknya. Sudan berhasil menguasai kembali kota tersebut.

Sudan mengatakan militernya berhasil memukul mundur pasukan Selatan, sementara Selatan mengklaim mereka menarik tentaranya dari Heglig untuk menghindari jatuhnya kiorban yang lebih banyak.

Dari Oslo, sebuah organisasi kemanusiaan Norwegia menyatakan, Minggu, bahwa salah satu petugas mereka, John Soerboe (50) ditahan saat melakukan misi pembersihan ranjau darat selama lima hari di wilayah selatan Sudan. Dalam misi itu Soerboe bersama seorang warga Inggris dan Afrika Selatan.

Organisasi People's Aid itu membantah bahwa Soerboe melakukan misi militer. Ditegaskan pula, bahwa lelaki itu sudah bertugas selama lebih dari tujuh tahun untuk misi pembersihan ranjau darat di wilayah itu.

Kementerian Luar Negeri Inggris juga membenarkan seorang warganya ditahan pihak berwenang Sudan. Kemlu Inggris menuntut dilakukannya "investigasi mendesak" soal detail penangkapannya serta meminta akses untuk menemuinya.

Sementara itu Kemlu Afrika Selatan mengatakan mengikuti laporan-laporan tentang penangkapan seorang warganya.


Editor : Kistyarini
Sumber: