Jumat, 19 Desember 2014

News / Internasional

Asma Assad, Target Baru Sanksi Uni Eropa

Jumat, 23 Maret 2012 | 18:17 WIB

Terkait

BRUSSELS, KOMPAS.com - Para menteri luar negeri negara-negara Uni Eropa mencekal dan membekukan aset Asma Assad dan keluarganya, Jumat (23/3/2012).

Asma, yang memiliki kewarganegaraan Inggris, merupakan satu dari 12 orang yang ditambahkan dalam daftar sanksi tersebut. Suaminya sebelumnya sudah masuk daftar tersebut. Namun, kata seorang pejabat Inggris, pencekalan itu tidak akan berlaku jika Asma pergi ke Inggris.

Para aktivis antipemerintah menuduh rezim Assad telah membunuh ribuan demonstran selama setahun ini.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah Damaskus bahan meningkatkan upaya penindasan terhadap para pemberontak di beberapa kota, termasuk Homs dan Hama. Setiap hari, para aktivis melaporkan jatuhnya puluhan korban jiwa dan demonstrasi yang lebih banyak.

Assad telah menjanjikan reformasi politik, namun para pengamat dan penentangnya menyebutnya sebagai janji kosong.

Sebelum ini banyak yang mengira Asma Assad yang dibesarkan dan mendapat pendidikan Barat akan mendorong terjadinya reformasi di Suriah.

Namun pada Februari lalu, perempuan 36 tahun itu menulis pada surat kabar Inggris, Times, dan menjelaskan alasan dia berpendapat suaminya masih merupakan orang yang tepat untuk memimpin Suriah.

Anggota keluarga lain yang dikenai sanksi cekal adalah ibu, saudara perempuan serta ipar Presiden Assad.

Uni Eropa telah menerapkan pencekalan terhadap Suriah, termasuk larangan membeli senjata dan impor minyak Suriah.

Pekan lalu, para aktivis merilis sekitar 3.000 email yang mereka bilang dikirim dari akun pribadi Assad dan istrinya. Ribuan surat elektronik, yang belum diverifikasi kebenarannya, mengungkap bahwa Asma Assad terus berbelanja barang-barang mewah secara online, bahkan ketika pemberontakan kian meningkat.

PBB menyatakan setidaknya 8.000 orang tewas selama berlangsungnya pemberontakan melawan rezim Assad yagn dimulai Maret 2011.

Presiden Assad dan sekutunya menyebut para teroris dan geng bersenjata bertanggung jawab atas kekerasan itu. Katanya, ratusan personel keamanan terbunuh dalam upaya melawan mereka.


Editor : Kistyarini
Sumber: