Kamis, 24 Juli 2014

News / Internasional

Korban Banjir di Filipina Capai 1.236 Orang

Senin, 26 Desember 2011 | 12:47 WIB

MANILA, KOMPAS.com - Pemerintah Filipina kini turut melibatkan para nelayan Filipina dalam upaya pencarian jenazah korban tewas akibat banjir bandang terburuk yang melanda seluruh desa di Cagayan de Oro dan kota Iligan. Hingga Senin (26/12/2011), jumlah korban tewas  mencapai 1.236 orang. Sekitar dua pertiga dari jenazah tersebu tak dapat diidentifikasi.

"Kami sudah berhenti menghitung hilang. Tidak ada angka yang akurat," kata kepala Kantor Pertahanan Sipil Benito Ramos.

"Kami tidak mengenali sebagian besar jenazah yang telah kami temukan. Namun, kami memiliki sistem sehingga keluarga korban bisa mengambil mereka berdasarkan sidik jari dan catatan gigi," sambungnya.

|Sementara itu, lebih dari 60.000 warga yang kehilangan rumah merayakan Natal 2011 di sekolah dan gimnasium yang penuh sesak. Benito mengatakan, pemerintah membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan untuk menormalisasikan keadaan dan membangun rumah sementara bagi para pengungsi.

Pekan lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa menggalang bantuan sebesar 28 juta dollar AS untuk membantu sekitar 600.000 orang yang diperkirakan terkena dampak bencana banjir bandang tersebut. Jumlah korban selamat ini setara dengan separuh penduduk Cagayan de Oro dan Iligan yang terletak di wilayah Mindanao selatan.

Ketika banjir bandang melanda kota tersebut pada 16 Desember 2011 silam, sebagian besar warga sedang tidur. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak yang tenggelam di tempat tidur mereka. Sebagian lainnya berupaya memanjat atap rumah untuk menghindari luapan air berlumpur yang turut membawa puing-puing berbahaya dan potongan kayu yang berasal dari gunung terdekat. Saat ini, potongan kayu yang mengambang tersebut masih dapat dijumpai.

Presiden Filipina Benigno Aquino III, yang melarang penebangan liar di wilayah tersebut pada Februari 2011, telah menginstruksikan penyelidikan terkait penebangan liar yang diyakini terus terjadi hingga beberapa saat sebelum banjir bandang terjadi.

Salah satu faktor yang menyebabkan besarnya jumlah korban adalah pemukiman liar di sepanjang sungai Cagayan. Sementara itu, Ariel Balofinos dari LSM Save Children mengatakan, minimnya air bersih masih menjadi perhatian utama di tempat-tempat pengungsian. Banyak tempat penampungan memiliki sanitasi yang buruk dengan drainase terbuka.

"Anak-anak rentan terhadap ancaman kesehatan karena sistem kekebalan tubuh lemah," katanya.

Ariel menambahkan, banyak anak muda juga trauma pascabanjir bandang. "Banyak anak yang telah menyaksikan teman-teman dan keluarga sekarat. Kami telah menemukan anak-anak yang menjadi yatim piatu. Untungnya, sebagian dari mereka masih memiliki kerabat," katanya. 


Penulis: Hindra Liu
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
Sumber: