Kamis, 31 Juli 2014

News / Internasional

BILATERAL

Segepok Kerja Sama Sudan dan China

Rabu, 29 Juni 2011 | 15:59 WIB

KOMPAS.com — Kecaman dari Washington tak membuat Sudan dan China gentar. Bahkan, sebagaimana warta Xinhua pada Rabu (29/6/2011), karpet merah terbentang saat Presiden Sudan Omar al-Bashir menjejakkan kakinya di Beijing.

Sosok yang dicari Mahkamah Kejahatan Perang Internasional (ICC) lantaran dianggap bertanggung jawab atas tewasnya 300.000 orang pada 2003 terkait konflik Darfur tersebut bahkan memperoleh sambutan luar biasa dari Presiden China Hu Jintao.

Dalam pidatonya, Presiden Jintao mengatakan bahwa Al-Bashir merupakan tamu dari jauh yang pantas memperoleh sambutan resmi. "Sudan dan China sudah lama menjalin persahabatan dan persaudaraan," kata Jintao.

Kedua pemimpin berbicara mengenai perdamaian di Sudan Utara dan Selatan, termasuk situasi di Darfur.

Kendati begitu, fokus pembicaraan keduanya adalah bagaimana Sudan mengamankan investasi China. Khalayak mafhum bahwa China meru[akan pemasok peralatan militer penting ke Sudan. China juga menjadi pembeli terbesar minyak dari Sudan. Soal minyak, China menempatkan China National Petroleum Corp (CNPC) untuk kerja sama energi tersebut.

Lantaran menjadi buronan ICC, Al-Bashir sudah barang tentu mendapat kecaman dari banyak pihak kalangan hak asasi manusia. Departemen Luar Negeri AS pun ikut-ikutan mengecam. "Kami tetap menentang undangan, fasilitasi, dukungan bagi kunjungan oleh Bashir," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Victoria Nuland, Senin.

Anggaran Dasar ICC menetapkan bahwa setiap negara anggota harus menahan Bashir jika ia melakukan kunjungan. China bukan anggota ICC, begitu juga AS.     

Lebih lanjut, Omar al-Bashir dan Presiden Hu Jintao juga akan membicarakan bantuan China kepada Sudan dan masalah-masalah di Abyei, satu daerah perbatasan yang disengketakan yang diklaim Pemerintah Sudan Utara pimpinan Bashir dan Pemerintah Sudan Selatan. Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat, Senin, memutuskan akan mengirim 4.200 personel pasukan perdamaian Etiopia ke Abyei dalam usaha meredakan ketegangan.     

Presiden Sudan itu menurut rencana akan berada di China sampai Kamis. Namun, tidak jelas apakah kedatangannya yang terlambat tersebut akan memperpanjang lawatannya itu.


Editor : Josephus Primus