Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Korea Utara Tutup Kawasan Kaesong

Kompas.com - 04/04/2013, 03:41 WIB

PAJU, RABU - Pemerintah Korea Utara menutup akses ke kawasan industri Kaesong, Rabu (3/4), dan melarang para pekerja asal Korea Selatan masuk kembali ke sana. Penutupan Kaesong diyakini terkait dengan semakin memuncaknya ketegangan di antara kedua Korea. Hal ini diikuti sanksi PBB atas Korut pascauji coba nuklir dan peluru kendali jarak jauhnya.

Kawasan industri Kaesong adalah proyek bersama Utara-Selatan yang menjadi ikon terakhir kerja sama antar-Korea.

Sebelum menutup akses ke Kaesong, Korut gencar melakukan provokasi dan ancaman terhadap Korsel dan Amerika Serikat. Pemimpin Korut Kim Jong Un bahkan merilis ancaman akan menembakkan peluru kendali ke daratan utama AS.

Akibat penutupan Kaesong, hubungan perdagangan kedua negara diyakini terganggu dan berisiko mengalami kerugian sangat besar, mencapai 2 miliar dollar AS.

Dikhawatirkan pula masih banyak warga Korsel yang tertahan di Kaesong. Mereka kebanyakan para manajer asal Korsel yang bekerja di pabrik-pabrik di Kaesong.

Selama ini, Korut membolehkan sedikitnya 850 manajer Korsel bekerja di kawasan industri, yang berdiri dan beroperasi di wilayah Korut, sekitar 10 kilometer dari perbatasan.

Akan tetapi, sejak ditutup penuh, hingga Rabu (3/4), tercatat baru 36 orang yang kembali ke Korsel.

Walau mengindikasikan masih banyak pabrik yang beroperasi, Pemerintah Korsel mengaku sangat khawatir para manajernya masih banyak yang tertahan dan mengalami kesulitan.

Jika situasi serba tidak pasti itu berlarut-larut, dikhawatirkan pasokan makanan dan logistik ke Kaesong akan semakin menipis. Semua bahan makanan dan kebutuhan logistik selama ini dipasok lewat jalan darat melalui pos perbatasan menuju Kaesong.

Dalam kondisi seperti itu, Pemerintah Korsel meminta Korut membuka kembali akses ke Kaesong sampai mereka bisa memulangkan seluruh warganya yang tertahan.

”Jika situasi terus seperti itu, kami khawatir apa yang ditakutkan akan jadi kenyataan,” ujar Kim Hyung-suk, juru bicara Kementerian Unifikasi Korea, yang membawahi urusan ini.

Sejak mulai berproduksi tahun 2004, kawasan itu menjadi tempat bagi sedikitnya 120 perusahaan asal Korsel beroperasi dan mempekerjakan 53.000 warga Korut.

Setiap tahun, perusahaan-perusahaan Korsel di Kaesong membayar upah senilai 80 juta dollar AS kepada pekerja warga Korut. Pendapatan itu diyakini sangat vital bagi negeri dengan ekonomi salah urus dan banyak warganya yang kelaparan.

Penutupan Kaesong sebelumnya juga didahului dengan ancaman Korut yang lain, sehari sebelumnya, yang menyatakan akan membuka kembali fasilitas nuklir lamanya. Rencana Korut membuka kembali fasilitas nuklirnya itu memicu kritik tajam, bahkan dari sekutu terdekatnya, China.

Wakil Menteri Luar Negeri China Zhang Yesui bahkan sampai menggelar pertemuan dengan para duta besar AS dan kedua Korea di Beijing, Rabu (3/4), untuk menyampaikan kekhawatiran China.

Sementara itu, dari Paris, Perancis, Menteri Luar Negeri Laurent Fabius meminta China menggunakan pengaruhnya atas Korut, terutama untuk mengintervensi krisis militer, yang semakin memanas di Semenanjung Korea.(REUTERS/AP/BBC/DWA/joy)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com