Kompas.com - 15/03/2013, 09:13 WIB
EditorErvan Hardoko

VATICAN CITY, KOMPAS.com — Paus Fransiskus mengingatkan kemungkinan Gereja Katolik menjadi layaknya Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengandalkan belas kasihan jika pembaharuan spiritual tidak terjadi.

Paus menyampaikan hal itu lewat pesan misa yang berlangsung di Kapel Sistine, Kamis (14/3/2013).

"Jika kita tidak mengakui Kristus, apa yang akan terjadi?" katanya.

"Kita akan berakhir seperti LSM yang mengandalkan belas kasihan. Apa yang akan terjadi nanti seperti seorang anak yang membuat istana pasir dan kemudian istana pasir itu runtuh begitu saja."

Fransiskus merupakan paus pertama dari Amerika Selatan dan juga yang pertama dari ordo Jesuit.

Wartawan BBC di Roma, David Willey, mengatakan, di hari pertamanya Paus Fransiskus sudah mulai menunjukan gaya memimpinnya di lingkungan kepausan.

Pada Rabu (13/3/2013) malam, saat dia muncul di hadapan orang banyak di Lapangan Santo Petrus, Paus Fransiskus menunjukan kerendahan hatinya dengan meminta umat yang berkumpul untuk mendoakannya sebelum dia memberkati umat dari balkon basilika. 

Bertemu wartawan

Fransiskus juga memilih untuk menggunakan bus bersama kardinal lainnya, dan menolak fasilitas kendaraan serta pengamanan khusus saat menuju Vatikan setelah dia diumumkan sebagai Paus baru.

Dia berencana akan bertemu dengan sejumlah kardinal termasuk mereka yang berusia lebih dari 80 tahun dan tidak ambil bagian dalam konklaf lalu pada hari Jumat (15/3/2013).

Sejumlah pengamat mengatakan Paus Fransiskus merupakan sosok konservatif, tetapi dia juga dilihat sebagai kekuatan baru dalam melakukan reformasi birokrasi di Vatikan.

Sementara itu, pada hari Sabtu (16/3/2013) dia akan bertemu dengan awak media dalam sebuah audiensi khusus, sebuah kesempatan yang mungkin akan dia gunakan untuk menyampaikan pandangannya tentang persoalan global.

Vatikan juga mengatakan Paus Fransiskus berencana menemui pendahulunya, Benediktus XVI, tapi pertemuan itu dilakukan tidak dalam waktu dekat ini.

Kunjungan ke Kastel Gondolfo tempat "pensiun" Benediktus XVI ini merupakan salah satu hal penting karena ada kekhwatiran munculnya kekuatan tandingan dari seorang paus yang tidak lagi menjabat dan masih hidup.

 

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X