Kompas.com - 05/03/2013, 05:41 WIB
EditorA. Wisnubrata

VATIKAN, KOMPAS.com - Para kardinal dari seluruh dunia telah berkumpul di Vatikan pada Senin (4/3/2013). Hal ini menandai awal atau persiapan pemilihan Paus baru. Persiapan ini berlangsung setelah Paus Benediktus XVI menyatakan mundur secara resmi pada 28 Februari lalu.

Benediktus akan mendapatkan gelar Paus Emeritus. Ini merupakan gelar kehormatan, tetapi tidak lagi memiliki kekuasaan secara hierarki Katolik dengan 1,2 miliar umat di seluruh dunia.

Dalam konteks persiapan ini, identifikasi tentang siapa Paus berikutnya juga menjadi perhatian. Paus berikutnya akan dipilih dari 115 kardinal. Jumlah kardinal, pembantu Paus di sejumlah negara dan teritori, sebenarnya melebihi jumlah itu. Akan tetapi, dari segi usia, kardinal yang layak dipilih adalah mereka yang berusia di bawah 80 tahun.

Persiapan ini tergolong cepat. Vatikan tampaknya ingin Paus baru bisa terpilih dalam dua pekan ke depan. Dengan demikian, Paus baru sudah siap untuk memimpin Pekan Suci, yang diawali dengan Minggu Palma pada 24 Maret dan diakhiri perayaan Paskah sepekan kemudian.

Dengan demikian, masa sede vacante (semacam masa kekosongan jabatan kepausan) juga tidak berlangsung terlalu lama.

Figur kuat

Satu hal yang menjadi pemikiran menjelang berlangsungnya konklaf atau proses pemungutan suara untuk memilih Paus adalah kebutuhan akan figur yang kuat. Paus baru dibutuhkan untuk melanjutkan pengembaraan agama yang berusia 2.000 tahun lebih itu.

Secara historis, kedudukan Paus amat kuat secara moral. Dalam beberapa ratus tahun terakhir, figur Paus hampir selalu kuat dan dihormati. Tuntutan soal figur kuat itu makin nyata seiring dengan semakin banyaknya tantangan di dunia modern.

”Kita memerlukan seorang yang bisa memimpin, yakni seseorang yang bersama para pemilihnya (kardinal) bisa bekerja sama erat mengarahkan Gereja,” kata Kardinal Cormac Murphy-O’Connor, mantan Uskup Agung Westminster di London.

Untuk menjaring para kardinal yang layak dipilih menjadi Paus, dua kali pertemuan setiap hari akan dilakukan. Sebelum berangkat ke Vatikan, secara informal biasanya sudah terjadi diskusi di antara para tokoh Gereja tentang siapa yang layak dipilih.

Akan tetapi, pemilihan Paus sangat berbeda dengan pemilihan kepala negara. Unggulan yang dimunculkan sesuai jajak pendapat tidak akan muncul dalam konklaf.

Gereja Katolik selalu percaya bahwa mereka memiliki Paus berkat pemberian petunjuk Tuhan lewat para kardinal. Namun, proses pertemuan tetap menjadi ajang penting.

”Kami melakukan rangkaian pertemuan untuk semakin kenal satu sama lain,” kata Kardinal Andre Vingt-Trois dari Paris. Saat memasuki hari pemilihan, para kardinal akan dimukimkan di Kapel Sistine. (REUTERS/AP/AFP/MON)

 

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X