Biksu Bakar Diri sebagai Tanda Protes

Kompas.com - 16/08/2011, 13:53 WIB
EditorEgidius Patnistik

BEIJING, KOMPAS.com - Tentara dan polisi, Selasa (16/8/2011), mengepung sebuah biara di China barat daya. Di dalam biara itu seorang biarawan Tibet membakar dirinya, lalu tewas, sebagai tanda protes. Tentara dan polisi telah memutuskan aliran listrik, air dan makanan bagi sekitar 100 biksu di dalam biara, kata para saksi.

Warga setempat mengatakan kepada AFP melalui telepon bahwa orang asing telah dilarang bepergian ke daerah di Kabupaten Daofu, Provinsi Sichuan, dekat Tibet, wilayah di mana biarawan berumur 29-tahun itu membakar dirinya, Senin. "Setidaknya 1.000 tentara dan polisi menjaga biara itu dan sekitar 100 biksu ada di dalamnya," kata salah seorang biarawan dari dalam biara. "Listrik dan air telah diputus selama berhari-hari, dan kami tidak punya persediaan makanan."

Kelompok hak asasi manusia Free Tibet yang berbasis di London mengatakan, biksu itu, Tsewang Norbu dari biara Nyitso, membakar dirinya setelah minum bensin dan penyemprotan dirinya dengan cairan yang mudah terbakar tersebut. Dia terdengar berseru, "Kami warga Tibet ingin merdeka", "Hidup Dalai Lama", dan "Biarkan Dalai Lama kembali ke Tibet" sebelum dia meninggal, kata kelompok itu.

Sichuan memiliki populasi etnis Tibet yang besar. Banyak dari mereka menentang apa yang mereka katakan sebagai kekuasaan represif China. Namun klaim tersebut disangkal pihak Beijing. Wilayah itu telah mengalami sejumlah kerusuhan selama beberapa tahun terakhir.

Peristiwa Senin kemarin merupakan pembakaran diri kedua yang dilaporkan tahun ini di daerah Sichuan, di mana banyak biarawan menghormati Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet, yang meninggalkan China tahun 1959 setelah pemberontakan yang gagal terhadap kekuasaan China. Maret lalu, seorang biarawan muda bernama Phuntsog membakar dirinya dan kemudian meninggal di dekat Biara Kirti di Kabupaten Aba, sekitar 200 kilometer dari Daofu, dalam sebuah protes terhadap pemerintah.

Pemilik hotel dan restoran di Daofu mengatakan, ada banyak tentara dan polisi di kota itu. Tempat mereka tidak lagi menerima tamu asing. "Ada banyak tentara dan polisi di jalanan. Mereka telah mengepung biara dan kantor-kantor pemerintah," kata seorang pemilik hotel, yang tidak mau disebut namanya. Seorang pemilik restoran mengatakan, polisi dan tentara telah mendirikan penghalang di jalan di sekitar daerah itu dan memeriksa setiap kendaraan yang mendekati markas pemerintah dan biara. Seorang pejabat di kantor pemerintah Daofu menolak untuk berkomentar tentang kondisi itu.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X