Somalia dan Eritrea, Sarang Baru Al Qaeda

Kompas.com - 30/07/2011, 02:36 WIB
Editor

 Eritrea, negeri kecil di tanduk Afrika berpenduduk 6 juta jiwa, kini dituduh terlibat berbagai aksi terorisme di Benua Afrika. Negeri ini dipimpin Presiden Isaias Afewerki dan merdeka dari Etiopia melalui referendum rakyat tahun 1993.

Laporan tim monitor PBB yang dirilis, Kamis (28/7) di Kenya, Nairobi, menyebutkan, Eritrea berada di belakang perencanaan serangan atas Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Afrika di Addis Ababa, Etiopia, Januari 2011.

Dinas intelijen Etiopia mengungkap tabir tentang rencana peledakan beberapa bom di Addis Ababa saat penyelenggaraan KTT UA itu.

Eritrea juga dituduh mendanai kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Al Qaeda melalui Kedubes Eritrea di Nairobi.

Agen-agen intelijen Eritrea memiliki aktivitas di Uganda, Sudan Selatan, Kenya, dan Somalia. Ada perubahan perilaku Eritrea dari hanya mendukung kelompok bersenjata menjadi perancang serangan.

Para perwira Eritrea merancang dan mengarahkan sekaligus melaksanakan berbagai operasi teroris di Djibouti, Kenya, Somalia, Uganda, dan Sudan.

Dukungan Eritrea pada masa lalu terhadap kelompok bersenjata di Somalia dan Etiopia adalah dalam konteks konflik perbatasan dengan Etiopia. Pola operasi baru yang diterapkan Eritrea saat ini mengancam seluruh Afrika.

PBB telah menjatuhkan sanksi larangan ekspor senjata ke Eritrea serta membekukan aset pimpinan militer dan politik negara itu. Eritrea selalu membantah semua tuduhan itu.

Mengganggu bantuan

Keberadaan kelompok bersenjata di Somalia dan Eritrea turut mengganggu pendistribusian bantuan pangan internasional terhadap warga Somalia yang kelaparan.

Meski demikian, pesawat pertama pembawa 14 ton bahan makanan untuk anak-anak Somalia berhasil mendarat hari Kamis di Mogadishu, Somalia.

Mogadishu, yang kini dilanda perang sengit antara kelompok Al Shaabab dan pasukan Uni Afrika, justru menjadi tempat pengungsian sekitar 100.000 warga Somalia yang lari dari wilayah selatan akibat bencana kelaparan dan kekeringan.

Salah seorang loyalis Pemerintah Somalia, Sheikh Ahmed Sheikh Adam, mengatakan, pemerintah berhasil menguasai 95 persen wilayah di kota Mogadishu.

Di Istanbul, Turki, sidang yang digelar Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dengan melibatkan 15 organisasi Muslim untuk bantuan kemanusiaan Islam, Kamis, memutuskan menyalurkan bantuan ke Somalia dan negara Afrika lain yang dilanda bencana kelaparan.

Somalia yang dilanda konflik bersenjata sejak dua dekade terakhir ini menghadapi bencana kelaparan yang mengancam hidup 3,7 juta jiwa di wilayah Somalia Selatan. Bahkan, ada sekitar 10 juta jiwa di Benua Afrika yang terancam hidupnya akibat bencana kelaparan itu. (mth)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.