Sudan dan Pemberontak Darfur Berdamai

Kompas.com - 15/07/2011, 10:54 WIB
EditorEgidius Patnistik

DOHA, KOMPAS.com - Pemerintah Sudan dan pemberontak Darfur, Gerakan Pembebasan dan Keadilan, menandatangani sebuah perjanjian perdamaian di Doha, Qatar, Kamis, tanpa dihadiri kelompok-kelompok pemberontak utama.

Presiden Sudan, Omar al-Bashir, dan para pemimpin Chad, Ethiopia, Burkina Faso, Eritrea dan Qatar menyaksikan penandatanganan Dokumen Doha bagi Perdamaian di Darfur. Perjanjian itu dicapai setelah perundingan yang disponsori oleh Uni Afrika, PBB dan Liga Arab.

Gerakan Pembebasan dan Keadilan adalah aliansi dari sejumlah kelompok sempalan pemberontak. Bashir memuji "mitra-mitra dalam perjanjian perdamaian itu, Gerakan Pembebasan dan Keadilan" dan meminta mereka "mendukung pengembangan upaya, serta bergerak cepat dari bantuan ke pembangunan kembali dan kemajuan".

Namun, ia juga mengecam "upaya-upaya yang sebaliknya berusaha memperdalam krisis dan memiliki agenda khusus". Pemimpin Gerakan Pembebasan dan Keadilan, Al-Tijani al-Sisi, mengatakan pada acara penandatanganan itu, "Kita telah menyelesaikan apa yang kita perlukan, yang diperlukan rakyat kita di Darfur". Namun ia menambahkan, pelaksanaan perjanjian di lapangan merupakan tantangan.

Kelompok-kelompok bersenjata utama di Darfur, Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak (JEM), dan kelompok-kelompok Tentara Pembebasan Sudan yang dipimpin oleh Minni Minnawi dan Abdelwahid Nur, tidak hadir dan tidak menandatangani perjanjian tersebut. "Ini bukan perjanjian perdamaian. Ini hanya perjanjian ’pekerjaan’, yang menawarkan posisi diplomatik bagi mereka yang mendatanganinya, dan tidak mengatasi permasalahan nyata di Darfur," kata juru bicara JEM, Gibril Adam, kepada AFP setelah penandatanganan tersebut.

Adam mengatakan, masalah mendasar pelanggaran hak asasi manusia, pembagian kekuasaan dan kekayaan, penanganan kejahatan serta pembayaran ganti rugi bagi orang yang kehilangan tempat tinggal tidak ditangani secara benar. PBB mengatakan, lebih dari 300.000 orang tewas sejak konflik meletus di wilayah Darfur pada 2003, ketika pemberontak etnik minoritas mengangkat senjata melawan pemerintah yang didominasi orang Arab untuk menuntut pembagian lebih besar atas sumber-sumber daya dan kekuasaan. Pemerintah Khartoum menyebut jumlah korban tewas hanya 10.000 orang.

Maju-mundur proses perdamaian antara kedua pihak berlangsung sejak 2009. Pemberontak utama Darfur mengadakan dua babak perundingan dengan para pejabat pemerintah Khartoum di Qatar pada Februari dan Mei 2009. Pada Februari 2009, Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak (JEM) menandatangani sebuah perjanjian dengan pemerintah Khartoum mengenai langkah-langkah pembangunan kepercayaan yang bertujuan mencapai perjanjian perdamaian resmi. Pada Mei 2009, JEM sepakat memulai lagi perundingan dengan Khartoum yang dihentikannya setelah pengadilan internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Presiden Sudan Omar Hassan al-Bashir karena kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di Darfur, Sudan barat.

Perundingan antara pemerintah Khartoum dan pemberontak Darfur untuk mengatasi konflik itu telah ditunda beberapa kali pada tahun itu. Perundingan yang dituanrumahahi Qatar itu sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 28 Oktober 2009 namun pertemuan tersebut ditunda sampai 16 November 2009 karena waktunya bertepatan dengan pertemuan puncak Uni Afrika. Jadwal terakhir itu pun ditunda hingga waktu yang belum ditentukan, kata penengah PBB dan Uni Afrika.

Kegagalan perundingan telah mengarah pada peningkatan kekerasan di Darfur. Bentrokan-bentrokan di wilayah itu menewaskan 221 orang pada Juni 2010, sebagian besar akibat pertikaian antara suku-suku Arab yang bersaing, kata misi penjaga perdamaian PBB dan Uni Afrika (UNAMID). Pada Mei 2010, hampir 600 orang tewas dalam pertempuran, menurut sebuah dokumen internal UNAMID.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.