Sabtu, 1 November 2014

News / Internasional

Dunia Hormati Pengunduran Diri Paus Benekdiktus XVI

Selasa, 12 Februari 2013 | 03:34 WIB

Terkait

BERLIN, KOMPAS.com - Para pemimpin politik dan agama dunia menyatakan terkejut tetapi sangat menghormati pengumuman pengunduran diri Paus Benediktus XVI. Paus Benediktus XVI secara mengejutkan, Senin (11/2),  menyatakan akan mundur dari tugasnya pada akhir bulan ini karena usia tua membuatnya tidak mampu melanjutkan tugas.

Perancis dan Jerman memberi reaksi beberapa menit setelah Paus berusia 85 tahun itu menyatakan akan mundur sebagai pemimpin 1,2 miliar umat Katolik sedunia pada 28 Februari. Presiden Perancis, Francois Hollande, mengatakan negaranya, di mana mayoritas warganya Katolik, menyambut keputusan itu. Ia mengatakan, keputusan itu "sangat dihargai". "Saya tidak punya komentar khusus atas keputusan yang amat sangat kita hargai itu," kata Hollande.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang merupakan putri seorang pendeta, mengatakan dirinya punya "rasa hormat yang besar" atas putusan sulit Paus kelahiran Jerman itu. "Dia seorang dan tetap menjadi salah satu pemikir keagamaan paling penting pada masa kita," kata Merkel.

Seorang juru bicara Merkel sebelumnya mengatakan, Paus pantas mendapat "ucapan terima kasih" untuk masa tugasnya selama hampir delapan tahun. "Pemerintah federal memiliki penghargaan terbesar bagi Bapa Suci, atas apa yang telah ia capai, atas karya seumur hidupnya bagi Gereja Katolik," kata Steffen Seibert, juru bicara Merkel, dalam sebuah konferensi pers reguler. "Apapun alasan untuk pengumuman itu, hal itu harus dihargai dan dihormati dan ia layak mendapat ucapan terima kasih karena telah memimpin gereja selama delapan tahun dengan sedemikian rupa," tambah Siebert. Paus Benediktus XVI, lanjut Seibert, telah meninggalkan kesan terhadap gereja "sebagai pemikir dan gembala" dari 1,2 miliar umat Katolik dunia.

Paus Benediktus lahir dengan nama Joseph Ratzinger pada 1927 di wilayah Bavaria yang mayoritas Katolik di Jerman selatan. Perdana Menteri Negara Bagian Bavaria, Horst Seehofer, mengatakan keputusan itu pantas "dihormat meskipun saya secara pribadi sangat menyesal".

Pater Adam Boniecki, teman dekat Paus Yohanes Paulus II asal Polandia yang digantikan Benediktus XVI, berkomentar bahwa Benediktus telah mengambil pengalaman dari masa akhir kepausan Yohanes Paulus II. "Saya berpikir bahwa dia tidak ingin mengulang kisah dramatis selama berbulan-bulan ketika Paus (Yohanes Paulus II) masih dalam posisinya tetapi praktis tidak mampu memenuhi tugasnya," katanya.

Kepala Gereja Katolik Polandia, Uskup Wojciech Polak, mengatakan pengunduran diri Benediktus merupakan "kejutan besar bagi kita semua".  "Namun Paus Benediktus XVI telah menyiratkan beberapa kali pada pertanyaan apakah, pada usianya yang sudah lanjut, ia memiliki kekuatan untuk melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai penerus Santo Petrus," katanya.

Perdana Menteri David Cameron dari Inggris, di mana umat Katolik merupakan minoritas di tengah mayoritas umat Anglikan, mengatakan Paus "akan dikenang sebagai seorang pemimpin spiritual bagi jutaan umat". "Dia telah bekerja tanpa lelah untuk memperkuat hubungan Inggris dengan Takhta Suci," kata Cameron dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, Ketua Rabi Israel, Yona Metzger, memuji Paus karena telah meningkatkan hubungan antara Yahudi dan Kristen yang membantu mengurangi anti-Semitisme di seluruh dunia. "Selama masa jabatannya, hubungan antara para kepemimpinan rabi dan Gereja, dan Yahudi dan Kristen, menjadi lebih dekat, yang membawa penurunan pada tindakan anti-Semit di seluruh dunia," kata juru bicara Metzger kepada AFP.  "Saya rasa ia pantas mendapatkan penghargaan karena meningkatkan hubungan antaragama di dunia, antara Yudaisme, Kristiani, dan Islam."

Seorang juru bicara departemen urusan luar negeri Gereja Ortodoks Rusia mengatakan, ia tidak dapat mengantisipasi perubahan besar sebagai akibat pengunduran diri Paus Benediktus XVI. "Tidak ada alasan untuk mengharapkan perubahan radikal dalam kebijakan Vatikan atau sikap Vatikan terhadap gereja-gereja ortodoks," kata Dimitri Sizonenko sebagaimana dikutip kantor berita Interfax.

Menurut situs Vatikan, Paus Benediktus, telah melakukan 24 perjalanan keliling dunia sejak bertugas pada 2005, antara lain ke Meksiko, Benin, Sydney dan Brasil. Pada perjalanan terakhirnya, yaitu kunjungan tiga hari ke Lebanon pada September, ia mengutuk fundamentalisme agama, menyerukan perdamaian di Timur Tengah dan mendesak diakhirinya pasokan senjata ke kedua belah pihak yang bertikai dalam perang saudara di Suriah.

Paus Benediktus XVI merupakan Paus non-Italia yang kedua sejak 1522 dan pemimpin umat Katolik tertua yang terpilih sebagai Paus sejak abad ke-18. Paus terakhir yang mengundurkan diri adalah Paus Gregory XII, yang mundur tahun 1415.

 


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: