Muhammad Hasanudin
Ikatan Keluarga Batak Bali (IKBB) berunjuk rasa di depan Konsul Kehormatan Malaysia di Kuta, Bali, Jumat (22/6/2012). Mereka menampilkan tari Tor-tor untuk menunjukkan budaya ini asli Mandailing bukan seperti yang diklaim Malaysia.
KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Pemerintah Malaysia menyatakan tidak bisa menerima aksi kekerasan yang dilakukan para pengunjuk rasa terhadap kepentingan diplomatiknya di Indonesia serta memanggil diplomat Indonesia ke Kementerian Luar Negeri untuk menyampaikan keprihatinannya itu, AFP melaporkan, Senin (25/6/2012).
Sebelumnya diberitakan, niat Malaysia untuk mengakui Tari Tor-tor dan alat musik tradisional Gondang Sambilan sebagai warisan budayanya memicu kemarahan rakyat Indonesia.
Pada Jumat (22/6/2012) sekitar 50 orang pengunjuk rasa melempari Wisma Malaysia di Menteng dengan kayu dan batu, sementara demonstran lainnya melempari Kedubes Malaysia di Jakarta dengan telur serta membakar bendera Malaysia.
Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman menyatakan tidak bisa menerima tindakan-tindakan para demonstran. Juga ucapan-ucapan provokatif seorang anggota DPR Indonesia di sebuah program televisi pada 21 Juni. Menurutnya ucapan itu seharusnya disensor.
"Kami sangat menyesalkan terjadinya tindakan-tindakan liar dan komentar provokatif, menyusul tuduhan tidak berdasar dan kesalahpahaman atas sebuah rencana untuk melestarikan dan memelihara warisan budaya masyarakat Mandailing yang dibawa dari Sumatera ke Malaysia," kata Anifah seperti dikutip kantor berita Bernama, Minggu (14/6/2012).
Dalam pernyataan itu, Anifah menegaskan bahwa pemerintah Malaysia tidak berniat menyatakan bahwa kedua budaya itu berasal dari Malaysia.
"Malaysia memandang serius aksi-aksi kekerasan terhadap kepentingan diplomatik Malaysia serta komentar-komentar provokatif terhadap Malaysia oleh sejumlah kalangan di Indonesia dalam beberapa hari terakhir," kata Anifah Aman dalam pernyataannya.

