Jumat, 24 Oktober 2014

News / Internasional

Terorisme

Inilah Kisah Pelacakan DNA Osama bin Laden

Sabtu, 9 Juni 2012 | 20:58 WIB

KOMPAS.com- Meski sudah berlalu, kisah tentang pelacakan almarhum Osama bin Laden tetap menarik, semenarik kisah lain yang masih menyelimuti orang yang pernah menjadi pimpinan salah satu jaringan teroris dunia itu.

Kali ini adalah kisah perburuan Deoxyribonucleic acid (DNA) untuk menentukan garis keturunan atau hubungan darah antara seseorang dengan anggota keluarga lain yang masih dekat.

Kisah perburuan Osama tidak cukup atau tidak berakhir dengan penemuan kurir Osama, Abu Akhmad Al-Kuwaiti, yang punya banyak nama, sebagaimana ditulis dalam buku Operation Nepture Spear: Berburu Osama Bin Laden yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (PBK), Juli 2011.

Sebelum melacak DNA Osama, Amerika Serikat melacak dulu si kurir. Ini membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Setelah menyiksa salah satu tahanan di Guantamo, Khalid Sheikh Mohammed (KSM), didapatkanlah informasi yang samar soal siapa kurir Osama yang paling dipercaya dan menjadi penghubung Osama ke dunia luar. Adalah si kurir yang menjadi penentu keberadaan Osama kelak.

Setelah melacak secara saksama, berdasarkan pengakuan yang tidak begitu jelas dari KSM dan sejumlah tahanan lain, CIA mengetahui si kurir adalah seorang pria Pakistan kelahiran Kuwait. Untuk melacak si kurir, CIA mencoba menelusuri jaringan telepon antara Pakistan dan Kuwait karena keluarga si kurir masih ada di Kuwait.

Dari hasil pelacakan ini, CIA berhasil mengetahui posisi Al-Kuwaiti, saat berada di Peshawar, Pakistan. Dari Peshawar Al-Kuwaiti dibuntuti hingga berakhir di sebuah rumah di kota Abbottabat.

Dia berhenti di sebuah rumah bertingkat dengan kesan yang amat tertutup dari dunia luar. Setelah itu rumah itu dipantau non-stop lewat satelit. Meski demikian, CIA ingin memastikan apakah penghuni bangunan unik di Abbottabat itu benar-benar Osama bin Laden dan keluarganya.

Sebelumnya, AS sudah memiliki sample DNA dari keluarga Osama sejak serangan 11 September 2001. Salah satu sumber untuk mendapatkan DNA itu adalah dengan melacak DNA almarhumah saudari perempuan Osama, yang meninggal karena kanker di Rumah Sakit Umum Massachusetts, sebagaimana ditulis di situs WCVB.com, salah satu saluran televisi terkenal di Boston, AS, pada 2 Mei 2011.

Dokter Afridi

Setelah berhasil melacak rumah Bin Laden, tugas selanjutnya adalah memastikan lewat DNA bahwa penghuni rumah itu adalah Osama. Berbagai media, termasuk kantor berita, pada 23 Mei 2012 lalu menyebutkan kembali nama Dr Shakil Afridi, seorang ahli bedah Pakistan. Dokter ini direkrut CIA dengan taburan uang.

Dokter Shakil Afridi sudah bertahun-tahun bekerja sebagai seorang ahli bedah di Agen Khyber, sebuah kelompok yang dikenal dengan aksi militan dan kekerasan sektarian dalam beberapa tahun terakhir.

Pada Januari 2012, Menhan AS Leon Panetta mengonfirmasi bahwa Afridi bekerja untuk intelijen AS dengan tugas mendapatkan DNA. Ini bertujuan mengonfirmasikan keberadaan Bin Laden. Untuk tugas ini Afridi menjalankan program vaksinasi "pura-pura" dengan harapan bisa mendapatkan sampel DNA dari penghuni di rumah Osama.

Sebelum menyerang rumah Osama pada 2 Mei 2011 lalu, AS tidak 100 persen yakin bahwa pimpinan Al Qaeda itu benar-benar tinggal di Abbottabad. Untuk itu sample DNA adalah faktor penentu utama.

Dikatakan, Afridi sukses meraih DNA. Namun demikian informasi lain menyebutkan bahwa Afridi gagal meraih sample DNA.

Vaksinasi sebagai sarana

Adalah harian Inggris The Guardian edisi 11 Juli 2011, yang pertama kali menyinggung peran Afridi ini. Untuk menjalankan tugasnya, Afridi menjalankan program vaksinasi di dekat Abbottabat. Agar tidak terlihat mencolok, pelayanan program vaksinasi ini dijalankan dari sebuah lokasi di mana warganya lebih miskin.

Dokter itu pergi ke sekitar Abbottabad pada Maret 2011 dengan alasan telah mendapatkan dana cukup untuk menjalankan program vaksinasi gratis untuk hepatitis B. Dia melangkahi prosedur dinas kesehatan Abbottabad.

Untuk memudahkan tugasnya dr Afridi memberi gaji di atas biasanya terhadap petugas medis lokal, yang tidak tahu bahwa tugas mereka terkait dengan pelacakan Osama bin Laden.

Petugas kesehatan di daerah itu adalah pihak yang relatif bisa mendapatkan akses mudah ke rumah Osama karena kepentingan vaksinasi. Osama punya lebih dari 10 anak di rumah itu yang butuh jasa vaksinasi termasuk untuk polio.

Afridi memasang poster-poster untuk iklan program vaksinasi yang dipajang di sekitar Abbottabat. Poster ini menyebutkan vaksinasi dibuat perusahaan Amson, perusahaan obat yang bermarkas di pinggiran Islamabad.

Pada Maret 2011, para petugas kesehatan menjalankan vaksinasi di kompleks miskin di sebuah pinggiran Abbottabad bernama Nawa Sher. Vaksin hepatitis B biasanya diberikan dalam tiga tahapan, masing-masing dengan selang sebulan. Namun pada April, ketimbang menjalankan vaksinasi tahap kedua di Nawa Sher, dokter kembali ke Abbottabad dan menugaskan para perawat ke Distrik Bilal, sebuah wilayah di pinggiran Abbottabat, tempat keluarga Osama bermukim.

Pejabat Pakistan sempat merasa aneh dengan kegiatan vaksinasi gratos di Bilal itu. "Distrik Bilal adalah hunian warga yang relatif mapan. Mengapa Anda emilih pemberian vaksin gratis di lokasi seperti itu? Dan apa perlunya seorang ahli bedah turun tangan soal vaksinasi di Abbottabad?" Begitu kecurigaan itu.

Meski demikian, para perawat toh  bisa mendapatkan contoh darah dari jarum yang dipakai untuk menyuntikkan vaksin. Seorang perawat bernama Bakhto, nama lengkap Mukhtar Bibi, berusaha memasuki rumah Osama untuk menjalankan vaksinasi.

Menurut beberapa sumber, Afridi menunggu di luar rumah. Namun perawat itu diminta membawa sebuah alat, tidak jelas alat apa itu. Mukhtar Bibi tidak berkomentar soal tugas yang pernah dia jalankan itu. Intelijen Pakistan baru sadar soal tugas yang dijalankan Afridi setelah melakukan penyelidikan pasca—penyerangan ke rumah Osama.

Penyelidikan itu didorong rasa penasaran warga Pakistan tentang  bagaimana AS bisa mengetahui persis keberadaan Osama di Abbottabat. Itulah yang kemudian menyebabkan dr Afiridi ditangkap. Setelah itu, sejumlah orang ditangkap karena kecurigaan terhadap program vaksinasi itu tetapi sampai sejauh ini baru Afridi yang masih dalam tahanan.

Afridi kini sudah dijatuhi hukuman 33 tahun penjara dengan tuduhan mengkhianati negara. Saat ini, AS melalui Menlu Hillary Clinton, sedang berusaha melepaskan Afridi dengan alasan dokter itu turut membantu perang melawan terorisme.


Penulis: Simon Saragih
Editor : Marcus Suprihadi