Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Kompas.com - 21/05/2024, 09:27 WIB
Paramita Amaranggana,
Egidius Patnistik

Tim Redaksi

TSAI ING-wen resmi turun dari kursi kepresidenan Taiwan setelah menjabat selama dua periode. Tsai saat ini telah digantikan oleh Lai Ching-te, mantan wakilnya. Walau demikian, jasa Tsai Ing-wen selama menjabat akan terus dikenang dan dirinya akan terus dicintai oleh banyak rakyat Taiwan.

Tsai yang kini berusia 67 tahun merupakan presiden perempuan pertama di Taiwan. Tsai juga merupakan satu dari segelintir pemimpin perempuan di Asia yang tidak berasal dari dinasti politik. Meski begitu, citra Tsai pada bulan-bulan pertama jabatannya tidak terlalu baik.

Ketika Tsai pertama kali naik jadi presiden di tahun 2016, ia dianggap seorang birokrat yang membosankan. Ia juga diejek sebagai “wanita kucing” karena telah berusia paruh baya tetapi tidak menikah. Alih-alih tersinggung dengan julukan tersebut, Tsai menerima panggilan itu dengan sepenuh hati dan tampil di sampul majalah sambil menggendong kucing kesayangannya, Xiang-Xiang.

Baca juga: China: Dinamika Politik Taiwan Tak Akan Ubah Kebijakan Satu China

Lambat laun, ejekan-ejekan mulai berubah jadi pujian. Melalui Tsai Ing-wen, Taiwan seperti menemukan seorang penyelamat. Selama dua periode menjabat, Tsai telah berhasil mempertahankan Taiwan dari China yang semakin otoriter dan agresif serta berhasil mempertahankan aliansi penting dengan Amerika Serikat (AS) baik saat masa kepemimpinan Donald Trump maupun Joe Biden.

Tsai juga dinilai telah berhasil mengangkat citra Taiwan di panggung internasional, kata Menteri Luar Negeri Joseph Wu.

“Gaya kepemimpinannya sangat moderat, namun pada saat yang sama sangat tegas dalam menghadapi segala jenis tekanan internasional,” ujarnya.

“Dia memperkuat kesadaran akan Taiwan di seluruh dunia dan hubungannya dengan komunitas internasional,” kata Bonnie Glaser, direktur program Indo-Pasifik di German Marshall Fund Amerika Serikat.

Begitu pula di dalam negeri, Tsai juga bekerja keras dengan mengupayakan berbagai bentuk perlindungan bagi warganya, contohnya melegalkan pernikahan sesama jenis. Taiwan menjadi negara pertama di Asia yang melakukan hal tersebut. Pemerintahan Tsai juga telah berhasil mengendalikan Taiwan pada masa-masa pandemi Covid-19.

Kondisi kesetaraan gender Taiwan juga sangat baik di bawah pemerintahan Tsai. Bahkan, kondisinya jauh lebih baik dibandingkan tempat manapun di Asia. Pada periode jabatannya yang pertama, pemerintahan Tsai berhasil mendorong peningkatan upah minimum dan peningkatan pendanaan untuk perawatan anak.

Selama beberapa dekade, Taiwan telah menyandang gelar sebagai “tempat paling berbahaya di dunia” akibat klaim berkepanjangan China atas pulau tersebut. China telah berulang kali mengancam akan menyatukan Taiwan dengan China, bahkan dengan kekerasan jika diperlukan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran bahwa China akan menganeksasi Taiwan dalam waktu dekat pun mulai bermunculan. Namun, sampai Tsai turun, China belum juga menganeksasi seperti yang diprediksi oleh banyak pihak. Menurut para pendukungnya, Tsai telah melakukan pekerjaan hebat dalam menghadapi negara tetangganya yang semakin agresif.

Kritik terhadap Tsai

Seorang pemimpin yang dicintai sekalipun tetap tak luput dari kritik, tak terkecuali Tsai. Beijing sudah pasti jadi suara oposisi terbesar Tsai, begitu pula orang-orang Taiwan yang memiliki keinginan agar Taiwan menjalin hubungan lebih baik dengan China karena alasan keluarga atau keinginan bisnis juga tidak menyukai Tsai.

Di dalam negeri, Tsai dikritik karena tidak berhasil menyelesaikan masalah ekonomi. Pada masa jabatannya, biaya hidup jadi lebih tinggi, harga tempat tinggal semakin tidak dapat dijangkau, dan lapangan pekerjaan juga menyempit. Terlepas dari usaha-usahanya dalam mempertahankan Taiwan dari China, masih banyak orang yang mengkritik Tsai telah membuat Taiwan lebih tidak aman. Terlebih lagi Taiwan juga kehilangan banyak sekutu diplomatiknya sepanjang masa jabatan Tsai.

Baca juga: Lai Ching-te Dilantik Jadi Presiden Taiwan, Desak China Hentikan Intimidasi

Namun, inilah yang memang harus dilalui oleh setiap pemimpin Taiwan, tak terkecuali Lai yang menggantikan Tsai. Pendahulu Tsai, Ma Ying-jeou dapat dikatakan “lebih gagal” dibanding Tsai. Berbeda dari Tsai yang dicap separatis, Ma memilih konsiliasi dan perjanjian perdagangan yang bersahabat dengan Beijing. Namun, Ma salah memperhitungkan bagaimana kelompok muda Taiwan akan bereaksi pada tindakannya ini.

Pada tahun 2014, ribuan orang turun ke jalan untuk berunjuk rasa dalam sebuah gerakan yang mereka sebut sebagai Gerakan Bunga Matahari. Saat Ma menolak mundur, para demonstran menduduki parlemen.

Turun dari Jabatan dengan Popularitas Tinggi

Terpilihnya Lai menjadi penerusnya dipandang sebagai bukti popularitas Tsai. Kemenangan Lai “merupakan mosi percaya terhadap terpeliharanya stabilitas dan terpeliharanya status quo dalam hubungan lintas selat oleh Tsai Ing-wen,” kata Glaser.

Popularitas Tsai juga terbukti dari tingginya peringkat persetujuan ketika turun dari jabatannya. Sebuah jajak pendapat yang baru-baru ini dilakukan oleh stasiun televisi TVBS menunjukkan 42 persen responden merasa puas dengan kinerja Tsai selama delapan tahun. Sedangkan pendahulunya, Ma, hanya memiliki tingkat persetujuan sekitar 23 persen.

Tsai juga dapat dukungan secara personal dari artis global asal Taiwan, Nymphia Wind, yang belum lama ini memenangkan musim ke-16 dari sebuah acara realitas AS, RuPaul’s Drag Race. Ia berterimakasih pada Tsai karena selama bertahun-tahun telah “menjadikan Taiwan yang pertama dalam banyak hal.”

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pejabat Hamas: Tak Ada yang Tahu Berapa Banyak Sandera Israel yang Masih Hidup

Pejabat Hamas: Tak Ada yang Tahu Berapa Banyak Sandera Israel yang Masih Hidup

Internasional
Rusia Kirim Kapal Perang Ke Kuba, untuk Apa?

Rusia Kirim Kapal Perang Ke Kuba, untuk Apa?

Internasional
Bagaimana Cara Barat Pakai Aset Rusia yang Dibekukan untuk Dukung Ukraina?

Bagaimana Cara Barat Pakai Aset Rusia yang Dibekukan untuk Dukung Ukraina?

Internasional
Invasi Rusia ke Ukraina Menimbulkan Emisi Karbon yang Besar

Invasi Rusia ke Ukraina Menimbulkan Emisi Karbon yang Besar

Internasional
Inilah Poin-poin Perdebatan dalam Negosiasi Gencatan Senjata Israel-Hamas

Inilah Poin-poin Perdebatan dalam Negosiasi Gencatan Senjata Israel-Hamas

Internasional
Upaya Pemulihan Keamanan di Ekuador Picu Kekhawatiran Terkait HAM

Upaya Pemulihan Keamanan di Ekuador Picu Kekhawatiran Terkait HAM

Internasional
Gelombang Partai Ultra Kanan Menjungkirbalikkan Politik Nasional Eropa

Gelombang Partai Ultra Kanan Menjungkirbalikkan Politik Nasional Eropa

Internasional
Hunter Biden Dinyatakan Bersalah, Apa Dampaknya bagi Joe Biden?

Hunter Biden Dinyatakan Bersalah, Apa Dampaknya bagi Joe Biden?

Internasional
Berbagai Cara Rusia Pakai Jalur Rahasia untuk Dapatkan Barang Impor

Berbagai Cara Rusia Pakai Jalur Rahasia untuk Dapatkan Barang Impor

Internasional
Bocoran Percakapan yang Diklaim dari Pemimpin Hamas Sebut Kematian Warga Sipil adalah 'Pengorbanan yang Perlu'

Bocoran Percakapan yang Diklaim dari Pemimpin Hamas Sebut Kematian Warga Sipil adalah "Pengorbanan yang Perlu"

Internasional
Sosok 6 Calon Presiden Iran untuk Menggantikan Raisi

Sosok 6 Calon Presiden Iran untuk Menggantikan Raisi

Internasional
UU Siber Nigeria Dijadikan Alat untuk Bungkam Suara Kritis

UU Siber Nigeria Dijadikan Alat untuk Bungkam Suara Kritis

Internasional
Bagaimana Operasi Penyelamatan 4 Sandera Israel di Gaza Berlangsung?

Bagaimana Operasi Penyelamatan 4 Sandera Israel di Gaza Berlangsung?

Internasional
Narendra Modi Kembali Menangi Pemilu, Apa Artinya bagi Dunia?

Narendra Modi Kembali Menangi Pemilu, Apa Artinya bagi Dunia?

Internasional
Terputus dari Barat, Putin Melihat Peluang ke Timur

Terputus dari Barat, Putin Melihat Peluang ke Timur

Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com