Kompas.com - 11/11/2021, 11:00 WIB

Tahun 538 menandai awal periode Asuka dan pengenalan agama Buddha ke Jepang, yang dibawa dari Korea. Agama ini dengan cepat mendapatkan pengikut, dan pendukung Buddhisme yang paling menonjol di Jepang adalah Pangeran Shotoku.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Serangan Kamikaze Pertama dalam Perang Jepang-Amerika

Ketika memerintah, dia berbicara kepada penguasa China dengan kalimat "Dari penguasa Negeri Matahari Terbit ke penguasa Negeri Matahari Terbenam." Konon karena itulah, Jepang dikenal sebagai negeri matahari terbit, “Nihon”.

Pangeran Shotoku berafiliasi dengan klan Buddha Soga yang sangat berpengaruh dan bahkan punya kendali atas Kaisar yang berkuasa.

Seiring waktu kepala klan Soga, yang tidak puas dengan posisi di bawah bayang-bayang penguasa, secara terbuka menunjukkan pengaruh dan kekuasaannya. Mereka menampilkan diri seolah-olah berdaulat, tinggal di rumah mewah dan membangun makam besar untuk keluarganya.

Setelah Pangeran Shotoku wafat, perilaku itu mendorong Insiden Isshi, yakni pembunuhan kepala klan Soga terkemuka, Soga no Iruka, dan penghancuran seluruh klannya.

Setelah peristiwa itu, Kaisar Kotoku menetapkan seperangkat aturan dan doktrin yang disebut Reformasi Taika. Tujuannya untuk memusatkan negara di sekitar Istana Kekaisaran sekali lagi.

Baca juga: Puluhan Kapal Hantu Jepang yang Tenggelam dalam Perang Dunia II Terangkat ke Permukaan

Periode Nara dan Periode Heian

Sepanjang periode Nara (710 - 794), Kekaisaran Jepang melakukan upaya untuk membentuk lanskap politik Jepang berlanjut dengan sistem Ritsuryo. Terdiri dari hukum pidana, pembentukan jajaran pengadilan resmi, serta banyak undang-undang yang mendefinisikan pemerintahan dan administrasi.

Kojiki dan Nihon Shoki, dibuat di masa ini untuk lebih melegitimasi kekuasaan tertinggi Kaisar dan menjadi dokumen sejarah tertua Jepang.

Agama Buddha berkembang dan banyak kuil besar seperti Daian-ji, Kofuku-ji, dan Todai-ji, dan Buddha Agung yang terkenal dibangun.

Cikal bakal Kekaisaran Jepang saat itu mengalami puncak perkembangan seni dan sastra hingga 1185.

Banyak ide yang sekarang dianggap sebagai tradisi Jepang muncul dalam periode ini. Contohnya, kebiasaan menghitamkan gigi yang disebut “ohaguro”, hingga sistem suku kata “hiragana”.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.