Kompas.com - 23/10/2021, 04:15 WIB

 

KOMPAS.com - Doping adalah performance enhancing drugs (PED) atau obat-obatan yang digunakan untuk meningkatkan performa atlet.

Dilansir dari American College of Medical Toxicology, praktik doping oleh para atlet sudah ada sejak lama, namun hanya melalui diet khusus dan mengonsumsi tanaman jenis tertentu.

Tapi, praktik doping era sekarang mendapat perhatian khusus karena menggunakan obat-obatan tertentu yang dapat meningkatkan performa atlet.

Baca juga: Soal Isu Doping Lifter China Pesaing Windy Cantika Aisah, Begini Respons Indonesia

Praktik Doping Pertama Kali

Pada 1904, doping pertama kali ditemukan di Olimpiade cabang lari.

Para pelari disuntik dengan strychnine untuk membantu kecepatan dan memberi kekuatan untuk menyelesaikan kompetisi.

Selanjutnya, mulai muncul eraturan dan larangan menggunakan doping.

Ini karena terlepas dari peningkatan kinerja yang terlihat pada atlet, mereka juga sering menderita efek kesehatan yang merugikan, dan bahkan kematian dini.

Hal itu membuat ada larangan menggunakan doping pada 1928 oleh Association of Athletics Federation.

Baca juga: Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Dampak Berbahaya Doping

Dikutip American Medical Society for Sports Medicine, efek samping atau bahaya penggunaan doping sangat banyak.

Dari segi kardiovaskular, doping membuat rama jantung tidak teratur, tekanan darah tinggi, serangan jantung, hingga kematian mendadak.

Sistem saraf pusat juga bisa terganggu dan memicu insomnia, kecemasan, depresi, perilaku agresif, bunuh diri, sakit kepala, kecanduan
penarikan, psikosis, tremor, pusing, dan stroke.

Dari segi pernafasan, doping bisa menyebabkan mimisan dan sinusitis.

Baca juga: Apa Itu Doping? Ini Sejarah, Jenis, dan Bahayanya bagi Atlet

Hormonal pun juga ikut terpengaruh. Mulai dari munculnya infertilitas, ginekomastia (payudara membesar), penurunan ukuran testis, gairah seks rendah, akromegali, dan kanker.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.