Kompas.com - 12/10/2021, 11:02 WIB

KOMPAS.com - Presiden Palestina Mahmoud Abbas atau yang juga dikenal dengan nama Abu Mazen, lahir 1935 di Safed, Galille, sebuah wilayah Palestina yang kini dikuasai Israel.

Abbas lahir pada 26 Maret, namun sumber lain ada yang menuliskan tanggal lahirnya pada 15 November.

Saat terjadinya Perang Palestina pada 1948, Abbas bersama keluarganya menyelamatkan diri ke Suriah.

Lalu, bagaimana kisah hidup selanjutnya? Berikut paparannya.

Baca juga: Aktif Perjuangkan Palestina, Indonesia Diapresiasi Mahmoud Abbas dan Raja Yordania

Masa Muda Mahmoud Abbas

Seperti sempat diulas Kompas.com, selama di Suriah, Abbas melanjutkan pendidikan hingga lulus dari jurusan hukum dari Universitas Damaskus.

Setelah merampungkan pendidikan di Suriah, Abbas bertolak ke Rusia. Dia mengambil pendidikan lanjutan di Universitas Patrice Lumumba di Moskwa.

Abba lulus dengan gelar Candidate of Sciences, atau setara dengan PhD. Dia menuliskan disertasi tentang hubungan Nazisme dengan Zionisme.

Banyak pihak yang kemudian menganggap tulisan Abbas sebagai teori konspirasi yang menyangkal Tragedi Holocaust.

Pada pertengahan tahun 1950-an, Abbas pindah ke Qatar. Di situ, dia mulai berkenalan dan membangun jaringan dengan kelompok pergerakan bawah tanah politik Palestina.

Dia juga bergabung dengan orang-orang Palestina yang diusir di Qatar. Namun dia juga dipercaya menjadi pejabat di Layanan Sipil Qatar sebagai direktur personel.

Baca juga: Mahmoud Abbas Ubah Istana Presiden Palestina Jadi Perpustakaan

Karier Politik Mahmoud Abbas

Pada akhir 1950-an, dia berkenalan dengan Yasser Arafat. Bersamanya dan lima orang Palestina lainnya, mereka mendirikan organisasi Fatah di Kuwait.

Inilah awal Abbas masuk dalam dunia perpolitikan, dengan organisasi Fatah yang nantinya akan menjadi salah satu faksi di pemerintahan Palestina.

Pada 1968, Abbas menjadi anggota dari Majelis Nasional Palestina.

Fatah menjadi ujung tombak dalam pergerakan bersenjata Palestina dan kemudian mendominasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Berbanding terbalik dengan pergerakan bersenjata yang dilancarkan PLO kala itu, Abbas juga berupaya menjalin kontak dengan kelompok perdamaian Israel.

Bersama Fatah, Abbas dan para tokoh Palestina lainnya memulai upaya dialog dengan pihak moderat Israel.

Akhirnya pada 1977, pembicaraan tak resmi terjadi antara perwakilan Palestina dengan Israel dalam pertemuan yang dipimpin Abbas.

Namun pembicaraan awal tersebut belum membuahkan hasil meski perlu dicatat sebagai awal mula jalan dialog untuk mencapai perdamaian kedua negara.

Baca juga: Yasser Arafat: Tokoh Perjanjian Damai untuk Tanah Palestina atas Konflik dengan Israel

Sejak 1983, Abbas menjadi anggota komite eksekutif PLO serta memimpin komite nasional dan internasional yang berkonsentrasi pada urusan organisasi non-pemerintah.

Dia memulai kembali perundingan rahasia dengan pejabat Israel pada tahun 1989 lewat perantara Belanda.

Awal 1990-an, Abbas kembali mengupayakan jalan dialog dengan membentuk strategi negosiasi Palestina di konferensi perdamaian di Madrid, Spanyol, pada 1991, serta saat pertemuan rahasia dengan Israel di Norwegia, yang melahirkan Oslo Accord pada 1993.

Melalui kesepakatan itu, Israel dan Palestina telah saling memperluas pengakuan satu sama lain, dengan Israel menyerahkan pemerintahan di Tepi Barat dan Jalur Gaza kepada Otoritas Palestina.

Baca juga: Bicara di Telepon, Trump Undang Mahmoud Abbas ke Gedung Putih

Mahmoud Abbas Menjadi Presiden Palestina

Pada 2003, Pemimpin Otoritas Palestina, Yasser Arafat membentuk lembaga perdana menteri dan menunjuk Abbas sebagai perdana menteri pertama. Namun dia mundur setelah hanya empat bulan.

Pada 2004, Yasser Arafat meninggal dan membuka posisi puncak pemerintahan Palestina untuk Abbas. Dia pun terpilih secara aklamasi sebagai ketua PLO pada 11 November 2004.

Abbas kemudian dicalonkan oleh Fatah untuk menjadi kandidat dalam pemilihan presiden Palestina yang digelar pada 9 Januari 2005. Dia pun terpilih setelah meraih 62,3 persen suara.

Meski dia terpilih untuk masa jabatan selama empat tahun, namun pada kenyataannya dia menjabat lebih lama, karena pemilihan untuk penggantinya berulang kali ditunda.

Baca juga: Mahmoud Abbas: Israel Menjajah Palestina dari Semua Sisi

Dia pun menghadapi kritik sepanjang masa jabatannya sebagai presiden karena masalah manajemen urusan dalam negeri serta dipandang tidak mampu memajukan proses perdamaian dengan Israel.

Abbas masih menjabat sebagai presiden Palestina hingga kini.

Proses perdamaian dengan Israel yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan tercapai, tetap diperjuangkannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.