Kisah Perang: Krisis Suez dan Balasan atas Kemaruknya Inggris

Kompas.com - 30/03/2021, 17:13 WIB
Kendaraan militer Mesir melintasi Terusan Suez pada 7 Oktober 1973 dalam Perang Yom Kippur melawan Israel. WikipediaKendaraan militer Mesir melintasi Terusan Suez pada 7 Oktober 1973 dalam Perang Yom Kippur melawan Israel.

SUEZ, KOMPAS.com - Kisah perang dalam Krisis Suez kerap disebut sebagai pertempuran terakhir Inggris yang kemaruk memperluas wilayah kerajaannya.

Pada 1956 dunia memang masih diliputi ketergantungan pada Inggris, mulai dari Karibia di barat, hingga Singapura, Malaya, dan Hong Kong di timur.

Sebagian besar peta Afrika juga masih berwarna merah kerajaan Inggris.

Namun yang terjadi sebenarnya, kekuasaan besar kerajaan Inggris mulai tenggelam.

Baca juga: Kisah Perang: Misteri Pasukan yang Bersantai di Medan Tempur, Tiba-tiba Orangnya Tambah Saat Pulang

Soviet Rusia dan Amerika Serikat (AS) memimpin peran dunia bebas, dan gerakan nasionalis tumbuh cepat di sebagian besar wilayah dalam pengaruh Inggris.

Termasuk di Terusan Suez, yang kala itu dioperasikan bersama oleh Inggris dan Perancis, tetapi Mesir hendak menasionalisasinya.

Bibit Krisis Suez

Melansir The Guardian pada 14 Maret 2001, awal mula Krisis Suez berawal dari ambisi kolonel muda Mesir, Gamal Abdel Nasser.

Dia adalah aktor sebenarnya di balik penggulingan Raja Farouk yang diasingkan pada pertengahan 1952.

Terusan Suezwww.wikimedia.org Terusan Suez
Setahun kemudian sekelompok perwira militer mengambil alih pemerintahan, dikepalai oleh kepala junta militer Jenderal Mohammed Neguib.

Banyak orang Mesir sangat benci dengan tentara Inggris yang berjaga di Terusan Suez. Keberadaan mereka adalah simbol dominasi kerajaan Inggris sejak 1880-an.

Kemudian pada 1954 setelah menahbiskan dirinya sebagai presiden Mesir, Nasser menegosiasikan perjanjian baru agar Inggris angkat kaki dalam waktu 20 bulan.

Baca juga: Kisah Perang: Ketika Sekutu AS-Kanada Serang Pulau Kosong dan Saling Bunuh, 300 Tentara Tewas


Pada saat bersamaan jelang Krisis Suez, Perang Dingin sedang mencapai puncaknya.

Komunisme mengakar di seluruh Eropa Timur, Perancis sedang terpojok di Indo-China dan terlibat perang besar di Aljazair.

Sementara itu Israel yang negaranya baru berdiri pada 1948, melawan kekuatan gabungan enam negara Arab. Inggris pun sedang mati-matian menahan pemberontak di Siprus, Kenya, dan Malaya.

Situasi diperparah dengan karakter Anthony Eden, Menlu Inggris yang naik jadi perdana menteri untuk menggantikan Winston Churchill yang mundur pada 1955.

Kabarnya, Eden dikenal sebagai orang yang sombong dan bertemperamen tinggi.

Saat Nasser tiba-tiba mengumumkan nasionalisasi Perusahaan Terusan Suez dan tentara Inggris ditarik keluar dari zona kanal pada Juli 1956, Eden langsung naik pitam. Ia memerintahkan invasi besar-besaran.

Baca juga: Kisah Perang Saudara Amerika yang Ditonton Warga Sambil Piknik Makan Sandwich

Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser disambut rakyat kota Alexandria saat mengumumkan mundurnya Inggris dari Mesir pada 1956.Bibliotecha Alexandrina Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser disambut rakyat kota Alexandria saat mengumumkan mundurnya Inggris dari Mesir pada 1956.
Kedok Nasser dan invasi Inggris-Perancis

Sejarah Terusan Suez mengungkap Nasser melakukan nasionalisasi dengan bermodus semacam kontrol internasional. Ia gencar melakukan aktivitas diplomatik, tetapi nyatanya bermotif militer.

Pada September 1956 Nasser membuat pidato yang menolak rencana pengawasan internasional atas aset nasional Mesir itu. Krisis Suez pun dimulai.

Tentara Inggris dan Perancis yang diawali pasukan udara lalu menginvasi Terusan Suez pada 31 Oktober 1956.

Mereka berdalih harus menyerang untuk memisahkan Mesir dan Israel guna melindungi kebebasan melaut di Terusan Suez.

Namun kenyataannya, Inggris dan Perancis melakukan negosiasi rahasia dengan Israel untuk melakukan operasi militer bersama dalam Krisis Suez

Dari ketiganya sebenarnya hanya Israel yang secara sah boleh memperebutkan Terusan Suez, karena Mesir menolak masuknya kapal-kapal berbendera Israel atau yang terkait dengan negara itu.

Israel lalu menyerbu Gurun Sinai pada 29 September 1956, dua hari sebelum invasi Inggris-Perancis, dan langsung menuju Terusan Suez.

Salah satu pemimpinnya adalah brigade muda Ariel Sharon yang kemudian menjadi perdana menteri Israel. Dalam waktu kurang dari tujuh hari Semenanjung Sinai sudah jatuh ke tangan Israel.

Baca juga: Kisah Perang: Garis Maginot, Benteng Keropos yang Dibanggakan Perancis

Sebaliknya, invasi Inggris-Perancis di Krisis Suez berjalan anti-klimaks. Hanya delapan hari setelah pendaratan udara pertama, serangan dihentikan dalam gencatan senjata yang seolah-olah diperintahkan PBB, padahal kenyataannya didikte AS.

Nasser mengambil keuntungan dari kondisi itu. Meski Angkatan Udara Mesir hancur lebur dan tentaranya kalah jumlah, ia memerintahkan penenggelaman 47 kapal di Terusan Suez dan memblokir kanal air itu.

Terusan Suez di Mesir (SHUTTERSTOCK/Markeliz).SHUTTERSTOCK/Markeliz Terusan Suez di Mesir (SHUTTERSTOCK/Markeliz).
Lepasnya Terusan Suez, jatuhnya Eden

Setelah apa yang terjadi di Krisis Suez, Eden mulai kehilangan kekuasaannya.

Dua menteri junior Inggris, Edward Boyle dan Anthony Nutting, mengundurkan diri sebagai protes terhadap Suez.

Di antara mereka yang tetap bertahan adalah RA 'Rab' Butler, yang dipandang kuat sebagai penerus Eden.

Eden sendiri hancur total oleh kekalahan di Terusan Suez, secara politik maupun emosional.

Baca juga: Kisah Perang: Schwerer Gustav, Meriam Terbesar Sejagat Raya Milik Nazi

Pada 19 November 1956 atau tiga hari sebelum tentara Inggris terakhir meninggalkan kanal usai Krisis Suez, dia pergi ke Jamaika untuk memulihkan diri dan menyerahkan wewenang kabinet ke Rab Butler.

Namun Butler yang dipandang pemimpin liberal kalah dukungan, dan para pemimpin konservatif mengangkat Harold Macmillan ke Downing Street.

Setelah kekalahan di Suez, tentara Inggris masih berlanjut di Afrika timur, Aden, Malaya, Kalimantan, dan Falklands selama 25 tahun bahkan lebih.

Akan tetapi berbeda dengan Krisis Suez, kisah perang mereka sebagian besar untuk mempertahankan rezim dan sistem lokal, bukan untuk memaksakan kehendak London yang kemaruk.

Baca juga: Kisah Perang: Tank Fury dan Cerita-cerita yang Tak Diungkap di Film



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Biografi Tokoh Dunia: Yitzhak Rabin, Sosok Pendamai Israel dan Palestina yang Berakhir Tragis

Biografi Tokoh Dunia: Yitzhak Rabin, Sosok Pendamai Israel dan Palestina yang Berakhir Tragis

Internasional
Hari Ini dalam Sejarah 13 Mei: Paus Yohanes Paulus II Hendak Dibunuh di Vatikan

Hari Ini dalam Sejarah 13 Mei: Paus Yohanes Paulus II Hendak Dibunuh di Vatikan

Internasional
Perempuan Berdaya: Ambisi Ratu Isabella I di Balik Runtuhnya Kerajaan Muslim di Spanyol

Perempuan Berdaya: Ambisi Ratu Isabella I di Balik Runtuhnya Kerajaan Muslim di Spanyol

Internasional
Menengok Corippo, Penampakan Desa Terkecil di Swiss

Menengok Corippo, Penampakan Desa Terkecil di Swiss

Internasional
Perjanjian Oslo: Jejak Upaya Damai Atas Konflik Israel dan Palestina yang Terus Dilanggar

Perjanjian Oslo: Jejak Upaya Damai Atas Konflik Israel dan Palestina yang Terus Dilanggar

Internasional
Mengenal Iron Dome, Senjata Israel untuk Melawan Roket Hamas

Mengenal Iron Dome, Senjata Israel untuk Melawan Roket Hamas

Internasional
Perayaan Idul Fitri di Seluruh Dunia dari Pakistan hingga Selandia Baru

Perayaan Idul Fitri di Seluruh Dunia dari Pakistan hingga Selandia Baru

Internasional
Adolf Eichmann: Perancang Holocaust Nazi yang Tak Pernah Menyesal hingga Akhir Hidupnya

Adolf Eichmann: Perancang Holocaust Nazi yang Tak Pernah Menyesal hingga Akhir Hidupnya

Internasional
Kisah Perang Khandaq: Parit Madinah Membuat 10.000 Tentara Sekutu Tak Berkutik

Kisah Perang Khandaq: Parit Madinah Membuat 10.000 Tentara Sekutu Tak Berkutik

Internasional
5 Teknik Melukis

5 Teknik Melukis

Internasional
Perang 6 Hari 1967 yang Mengubah Timur Tengah

Perang 6 Hari 1967 yang Mengubah Timur Tengah

Internasional
Roket hingga Stasiun Luar Angkasa yang Pernah Jatuh ke Bumi dari Tahun ke Tahun

Roket hingga Stasiun Luar Angkasa yang Pernah Jatuh ke Bumi dari Tahun ke Tahun

Internasional
Para Pemimpin Islam: Salahuddin Ayyubi dan Kisah Kepemimpinan Selama Perang Salib

Para Pemimpin Islam: Salahuddin Ayyubi dan Kisah Kepemimpinan Selama Perang Salib

Internasional
Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Internasional
Rembrandt, Pelukis Beraliran Baroque Menggunakan Teknik Impasto

Rembrandt, Pelukis Beraliran Baroque Menggunakan Teknik Impasto

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X