Dinda Lisna Amilia
Praktisi Pendidikan

Pengajar di Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Surabaya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Kompas.com - 24/11/2020, 09:50 WIB
Ilustrasi terorisme ShutterstockIlustrasi terorisme

SELAIN Asia Tenggara, Asia Selatan menjadi negara yang beberapa kali mendapat serangan teroris. Salah satunya terjadi di Mumbai, India di tanggal yang sama 12 tahun yang lalu, yaitu 26 November 2008.

Serangan terencana ini dilakukan oleh Lashkar-e-Taiba, salah satu jaringan terror yang terpusat di Muridke, Pakistan, yang punya salah satu motif untuk mengambil provinsi Jammu dan Kashmir dari India.

Berlatar belakang konflik Jammu dan Kashmir dan beberapa gesekan antara muslim dan hindu di India, Lashkar-e-Taiba mengeksekusi serangan yang dimulai dengan berlayar dari Karachi, Pakistan ke Mumbai dengan merebut kapal penangkap ikan dengan membunuh nelayan pemilik kapal dan membuang tubuhnya ke laut.

Sesampainya di Mumbai Gate, rombongan berjumlah 10 teroris bersenjata tersebut menuju stasiun kereta Chhatrapati Shivaji, sesuai rencana mereka melakukan penembakan secara acak.

Teror di Stasiun yang berlangsung selama 90 menit ini menewaskan 58 orang dan melukai 104 korban di tempat. Stasiun Chhatrapati Shivaji memang menjadi stasiun padat tempat ribuan orang berlalu lalang setiap harinya.

Setelah itu, kelompok teroris berpencar untuk menembak di lokasi yang bebeda dalam waktu bersamaan. Tempat-tempat tersebut adalah sebuah bangunan milik kelompok Yahudi ultra-ortodoks yang bernama Nariman House, Chabad Lubavitch, restoran Leopold, Hotel Oberoi, dan Hotel Taj Mahal Palace and Tower, yang menjadi hotel mewah dan terkenal sejak 1903 yang sempat disinggahi orang-orang penting.

Belum berhenti, teror masih berlanjut di di dekat kantor koran Times of India di bagian selatan Kota Mumbai, Vidhan Sabha (majelis legislatif), dan beberapa tempat lain.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bila dihitung, rentetan teror penembakan ini terjadi di delapan tempat dengan total 174 korban tewas (29 diantaranya bukan orang India), dan lebih dari 300 korban luka.

Mumbai, memang bukan kali pertama mendapatkan serangan teroris, namun kronologis penembakan yang terjadi pada 2008 tersebut melukai kemanusiaan dan menjadi mimpi buruk umat manusia.

Sekelompok orang dengan afiliasi yang mengatakan atas nama agama melakukan serangan yang menyiksa puluhan orang di tempat umum. Bila melihat di permukaan, yang tampak adalah serangan teroris muslim yang menyasar tempat-tempat dengan komunitas non-muslim.

Namun bila kita coba melihat lebih dalam, ada sentimen tersendiri antara Pakistan dan India yang sudah berkonflik sejak pasca-Perang Dunia II.

Bendera Pakistan (kiri) dan bendera India (kanan).SHUTTERSTOCK/ SHIRINKIN YEVGENY Bendera Pakistan (kiri) dan bendera India (kanan).

Sentimen tak berkesudahan

Sudut pandang sejarah akan memberikan kita referensi pemahaman lain. India, Pakistan, dan Bangladesh mulanya adalah satu wilayah.

Pada 1947, koloni Inggris memerdekakan dan memisahkan India dan Pakistan berdasarkan agama mayoritas yang dianut oleh masing-masing wilayah (Ferrell, 2003).

Sementara itu, Jammu dan Kashmir yang menjadi provinsi dengan otoritas sendiri diberi tiga opsi: bergabung dengan Pakistan, menjadi bagian dari India, atau tetap merdeka.

Walau ternyata Jammu dan Kashmir tidak memiliki militer sehingga mereka memilih untuk bergabung dengan India atau Pakistan, tergantung pada faktor-faktor seperti geografi, mayoritas agama, dan faktor lainnya (Pramanik dan Roy, 2014).

Pada 14 Agustus 1947, Inggris secara resmi memisahkan India dan Pakistan. Saat itu, Jammu dan Kashmir belum memilih keduanya.

Pemimpin Jammu dan Kashmir Maharaja Harry Singh bahkan mulai menjuluki wilayahnya sebagai "no man’s land" alias negara tak bertuan.

Namun tak lama setelah itu, Pakistan melakukan invasi ke Jammu dan Kashmir. Di situ lah Harry Singh mulai meminta perlindungan India untuk melawan Pakistan.

India hanya menyetujui bantuan militer dengan syarat, jika menang Jammu dan Kashmir akan menjadi bagian dari India. Maharaja menyepakatinya.

Dari sini, kita bisa melihat masalah Kashmir mewakili lebih banyak hal bagi India dan Pakistan daripada kepentingan strategis.

Ini adalah medan pertempuran identitas. Bagi India sekuler, ini adalah cara untuk membuktikan bahwa wilayah mayoritas Muslim bisa menjadi bagian dari India yang memang heterogen.

Sedangkan bagi Pakistan, merebut Jammu dan Kashmir adalah cara untuk terus memperkuat identitasnya sebagai negara Muslim (Cohen, 2003).

Sejarah ini mengakar menjadi sentimen, laten, lalu menjadi manifestasi dalam bentuk kekerasan lain seperti konflik perbatasan, gencatan senjata yang terus memakan korban, hingga serangan terorisme mengerikan yang salah satunya terjadi di Mumbai pada 2008 tersebut.

Pada akhirnya, kita sendiri bisa mempersepsi apakah membalas dendam masa lalu setimpal dengan pengatasnamaaan agama?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.