Kompas.com - 23/01/2020, 11:47 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Partai Demokrat menolak tawaran dari kubu Republik untuk melakukan "pertukaran saksi" dalam sidang pemakzulan Presiden Donald Trump.

Presiden 73 tahun itu dimakzulkan di level DPR AS pada 18 Desember 2019 atas penyalahgunaan kekuasaan dan upaya menghalangi penyelidikan Kongres.

Dia disebut menahan bantuan militer Ukraina Rp 5,3 triliun agar mereka menyelidiki calon rivalnya di Pilpres AS, Joe Biden.

Baca juga: Debat Lebih dari 12 Jam, Senat AS Setujui Aturan Sidang Pemakzulan Trump

Trump menuding adanya dugaan korupsi ketika putra Biden, Hunter, duduk sebagai dewan direksi perusahaan gas Ukraina saat ayahnya menjabat sebagai Wakil Presiden AS.

Apa itu tawaran pertukaran saksi?

Dalam sidang pemakzulan di level Senat AS sejak Selasa (21/1/2020), Demokrat meminta agar mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton dijadikan saksi.

Bolton yang lengser pada 10 September 2019 itu sempat menyatakan siap. Namun dia hanya bersedia datang jika mendapat subpoena, atau pemanggilan resmi.

Dilansir BBC Rabu (22/1/2020), Republik jelas tak tinggal diam, dan meminta Senat AS untuk mempertimbangkan Hunter Biden.

"Kesepakatan itu tak ada di meja," kata Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, kepada wartawan saat masa istirahat.

Baca juga: Jelang Sidang Pemakzulan, Mayoritas Rakyat AS Dukung Trump Dilengserkan

Senator asal New York itu berkilah sidang bukanlah sebuah bentuk pertukaran. "Ini bukan soal pertukaran di sepak bola," cetusnya.

Sementara dalam kampanye di Osage, Iowa, Joe Biden sudah menegaskan dia tidak akan maju jika kubu Republik memanggilnya.

"Kami tidak akan mengubah sidang menjadi sebuah panggung politik. Saya tidak akan menjadi bagian di dalamnya," tegasnya.

Dia juga membela anaknya dengan menyatakan Hunter sedang bernasib sial karena menjadi bagian direksi di perusahaan gas Burisma.

Mantan Senator Delaware itu menyatakan jika terpilih, dia akan melarang keluarganya berbisnis dengan perusahaan asing.

Baca juga: Sidang Pemakzulan Trump di Senat AS Dibuka dengan Perdebatan Sengit

Apa yang terjadi di sidang?

Tim manajer, bertindak sebagai penuntut, dari DPR AS mempunyai waktu tiga hari untuk mempertahankan argumentasi mereka mengapa Trump harus dimakzulkan.

Setelah itu, para pengacara terbaik yang ditunjuk Gedung Putih akan mendapat waktu membela kliennya selama tiga hari.

Ketua manajer DPR AS, Adam Schiff, meminta Republik bergabung dengan mereka, demi "melindungi demokrasi" dari Trump.

Politisi yang juga Ketua Komite Intelijen DPR AS menuturkan, para senator bisa dianggap merendahkan sikap mereka jika tak memakzulkan sang presiden.

Sejumlah senator tertangkap kamera tertidur saat sidang, karena mereka tidak diperbolehkan minum kopi, dan hanya boleh susu atau air.

Baca juga: Trump Sebut Pemakzulan Dirinya Hoaks dan Memalukan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber BBC
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.