Kompas.com - 22/01/2020, 11:38 WIB
Presiden AS Donald Trump saat memberikan pidato dalam acara Asosiasi Senapan Nasional (NRA) di Indianapolis, Jumat (26/4/2019). AFP / SETH HERALDPresiden AS Donald Trump saat memberikan pidato dalam acara Asosiasi Senapan Nasional (NRA) di Indianapolis, Jumat (26/4/2019).

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Perdebatan sengit soal aturan main langsung menggema begitu sidang pemakzulan Presiden Donald Trump di level Senat AS dibuka.

Senat yang dikuasai Republik menolak permintaan Demokrat untuk mendatangkan lagi saksi untuk dimintai keterangan dalam sidang.

Tim manajer DPR AS, bertindak sebagai penuntut, yang diketuai Adami Schiff menekankan mengapa mereka butuh pemanggilan saksi.

Baca juga: Trump Sebut Pemakzulan Dirinya Hoaks dan Memalukan

Dilansir AFP Selasa (21/1/2020), Schiff menuturkan mereka memanggil mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton, dan Kepala Staf Gedung Putih Mick Mulvaney.

"Kami siap untuk memaparkan kasus kami. Kami juga siap untuk memanggil saksi. Pertanyaannya adalah, apakah kalian akan mengizinkan kami?" kata Schiff.

Dia merujuk kepada aturan sidang pemakzulan yang disebut sudah sedemikian rupa oleh Gedung Putih guna melindungi Trump.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menyikapi itu, Pemimpin Mayoritas Senat AS Mitch McConnell mementahkan setiap upaya Demokrat guna mengubah aturan yang disiapkannya.

"Struktur dasar yang sudah kami tawarkan pada dasarnya adil dan tertangani dengan baik," kata senator dari Kentucky itu.

Baca juga: Trump Yakin Sidang Pemakzulan Dirinya di Senat Bakal Berlangsung Cepat

Dia kemudian menggalang 53 senator Republik guna memblokade apa pun manuver yang dilakukan oposisi guna memperoleh tambahan bukti.

Schiff menanggapi dengan menyatakan aturan yang dipromosikan McConnell tidak masuk akal. Karena sejak awal sudah didesain menyembunyikan bukti penting.

Politisi yang menjabat sebagai Ketua Komite Intelijen DPR AS itu menuturkan, sebagian besar rakyat AS yakin sidang bakal berjalan adil.

"Mereka tidak percaya Senat AS akan bertindak secara adil. Mereka percaya hasilnya sudah digoreng sebelumnya," sindir Schiff dilansir BBC.

"Ini jelas-jelas kemunduran. Sidang tanpa dilengkapi bukti. Rakyat Amerika tidak yakin bakal ada keadilan di sini," tegasnya.

Baca juga: Jelang Sidang Pemakzulan, Mayoritas Rakyat AS Dukung Trump Dilengserkan

Trump dimakzulkan di level DPR AS pada 18 Desember 2019 atas dakwaan penyalahgunaan kekuasaan dan upaya menghalangi penyelidikan Kongres.

Dia menjalani pemakzulan buntut percakapan teleponnya dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, pada 25 Juli 2019.

Presiden 73 tahun itu dituding menekan Ukraina untuk menyelidiki calon lawannya di Pilpres AS 2020, Joe Biden.

Dia menahan bantuan militer Ukraina sebesar 391 juta dollar AS, sekitar Rp 5,3 triliun, yang sudah disepakati Kongres sebagai alat tawar.

Kemudian dalam tuduhan kedua, dia dianggap berusaha menahan setiap pejabat Gedung Putih atau bukti dibeberkan dalam pemakzulan dirinya.

Baca juga: Tim Pengacara Minta Trump Dibebaskan dari Tuduhan Pemakzulan di Senat AS



Sumber BBC,AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X