Kompas.com - 16/12/2019, 21:07 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dituding memerintahkan pembunuhan model Mongolia, Altantuya Shaariibuu, pada 2006 silam.

Pernyataan itu keluar dari Inspektur Azilah Hadri, salah satu polisi yang dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.

Altantuya, perempuan yang disebut adalah model Mongolia, menyita perhatian publik Malaysia setelah dia ditembak dan jenazahnya diledakkan.

Baca juga: Makin Tertekan, Najib Razak Terseret Kasus Pembunuhan Model Mongolia

Azilah mengungkapkan fakta itu dalam deklarasi bertanggal 17 Oktober, di mana dia menyebut perintah datang dari Najib Razak.

Dilansir Malaysiakini via Channel News Asia Senin (16/12/2019), Azilah mengaku Najib memberikan instruksi "tangkap dan hancurkan" Altantuya.

Dalam pandangan Najib, perempuan berusia 28 tahun itu dianggap sebagai agen rahasia asing. Saat itu, perintah Najib adalah "tembak Altantuya".

Azilah menuturkan, dia sempat menanyakan maksud pesan itu kepada Najib yang masih menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri (DPM).

"DPM menjawab 'tembak mati", dengan menunjukkan gestur seolah-olah dia melukai lehernya sendiri," kata Azilah dalam kesaksian tertulisnya.

Azilah kemudian menanyakan lagi apa tujuan dari instruksi agar jenazah "si agen asing" dihancurkan dengan peledak.

Najib kemudian menjawab langkah itu dilakukan untuk menutupi jejak, dengan peledaknya bisa diambil dari gudang persenjataan.

Baca juga: Polisi Malaysia Terpidana Mati Kasus Pembunuhan Model Mongolia Ditahan di Australia

Gudang UTK merujuk kepada penyimpanan persenjataan Pasukan Aksi Cepat, satuan elite dalam kepolisian Negeri "Jiran".

Azilah menulis kesaksian itu sebagai bahan pertimbangan Pengadilan Federal agar menggugurkan hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya.

Selain itu, dia juga meminta pengadilan ulang, di mana permintaannya bakal direspons pada Selasa besok (17/12/2019).

Setelah ditembak mati, jenazah Altantuya diledakkan menggunakan peledak militer jenis C-4 di Shah Alam pada 2006 silam.

Dia disebut merupakan kekasih Abdul Razak Baginda, analis politik yang sempat menjadi penasihat Najib pada 2000 sampai 2008.

Azilah dan Kopral Sirul Azhar Umar, anggota UTK lainnya, diputus bersalah dan divonis mati pada Pengadilan Tinggi Shah Alam pada 2009.

Baca juga: Terbukti Bunuh Model Mongolia, 2 Polisi Malaysia Divonis Hukuman Mati

Vonis itu sempat direvisi Mahkamah Banding pada Agustus 2013, namun dipulihkan lagi oleh Pengadilan Federal Malaysia di 2015.

Di tengah pengadilan kasasi itu, Sirul kabur ke Australia pada 2004, di mana Putrajaya tak bisa mengupayakan ekstradisi.

Sebabnya, Parlemen Australia mempunyai perundang-undangan yang melarang adanya ekstradisi ke negara yang masih menganut hukuman mati.

Dalam kesaksian tertulis tersebut, Azilah berujar dia bertemu Najib di Pekan, Pahang, dan menerima perintah verbal untuk mengeksekusi pembunuhan tersebut.

Azilah menjelaskan seperti diwartakan Malaysiakini, Najib menyebut sosok Altantuya sebagai "ancaman bagi keamanan nasional".

Begitu laporan itu keluar, Najib membantah dalam statusnya di Facebook, dan menuding pemerintahan Pakatan Harapan berada di balik pernyataan tersebut.

PM yang berkuasa pada 2009 hingga 2018 itu menyebut Pakatan Harapan sangat takut jika hanya berkuasa selama satu periode.

"Karena itu, mereka menciptakan lagi sebuah konspirasi untuk menentang dan berusaha memojokkan saya," ujar Najib.

Najib mempertanyakan mengapa informasi itu baru keluar setelah 13 tahun berlalu, dan pemerintahan Pakatan baru berusia 19 bulan.

"Saya yakin ini adalah bagian dari kesepakatan antara saya dengan Pakatan supaya hukuman matinya bisa ditunda," jelasnya.

Baca juga: Diduga Terima Dana 1MDB, Saudara Eks PM Malaysia Najib Razak Dijatuhi Sanksi Denda

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.