Kompas.com - 16/12/2019, 21:07 WIB

Gudang UTK merujuk kepada penyimpanan persenjataan Pasukan Aksi Cepat, satuan elite dalam kepolisian Negeri "Jiran".

Azilah menulis kesaksian itu sebagai bahan pertimbangan Pengadilan Federal agar menggugurkan hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya.

Selain itu, dia juga meminta pengadilan ulang, di mana permintaannya bakal direspons pada Selasa besok (17/12/2019).

Setelah ditembak mati, jenazah Altantuya diledakkan menggunakan peledak militer jenis C-4 di Shah Alam pada 2006 silam.

Dia disebut merupakan kekasih Abdul Razak Baginda, analis politik yang sempat menjadi penasihat Najib pada 2000 sampai 2008.

Azilah dan Kopral Sirul Azhar Umar, anggota UTK lainnya, diputus bersalah dan divonis mati pada Pengadilan Tinggi Shah Alam pada 2009.

Baca juga: Terbukti Bunuh Model Mongolia, 2 Polisi Malaysia Divonis Hukuman Mati

Vonis itu sempat direvisi Mahkamah Banding pada Agustus 2013, namun dipulihkan lagi oleh Pengadilan Federal Malaysia di 2015.

Di tengah pengadilan kasasi itu, Sirul kabur ke Australia pada 2004, di mana Putrajaya tak bisa mengupayakan ekstradisi.

Sebabnya, Parlemen Australia mempunyai perundang-undangan yang melarang adanya ekstradisi ke negara yang masih menganut hukuman mati.

Dalam kesaksian tertulis tersebut, Azilah berujar dia bertemu Najib di Pekan, Pahang, dan menerima perintah verbal untuk mengeksekusi pembunuhan tersebut.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.