DPR AS Sahkan Pengakuan Pembantaian Armenia yang Buat Turki Marah

Kompas.com - 30/10/2019, 10:55 WIB
Foto yang diambil pada 24 April 2019, Presiden Armenia Armen Sarkisian, Perdana Menteri Nikol Pashinyan, Pemimpin Gereja Apostolik Garegin II, dan pejabat lain menghadiri upacara 104 tahun peringatan pembantaian 1,5 juta rakyat Armenia oleh Ottoman Turki pada 1915-1917 di Tsitsernakaberd, Yerevan. Pada Selasa (29/10/2019), AS mengumumkan keputusan bersejarah dengan mengakui genosida Armenia. Langkah yang membuat Turki marah. AFP/KAREN MINASYANFoto yang diambil pada 24 April 2019, Presiden Armenia Armen Sarkisian, Perdana Menteri Nikol Pashinyan, Pemimpin Gereja Apostolik Garegin II, dan pejabat lain menghadiri upacara 104 tahun peringatan pembantaian 1,5 juta rakyat Armenia oleh Ottoman Turki pada 1915-1917 di Tsitsernakaberd, Yerevan. Pada Selasa (29/10/2019), AS mengumumkan keputusan bersejarah dengan mengakui genosida Armenia. Langkah yang membuat Turki marah.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - House of Representatives (DPR AS) mengesahkan pengakuan " Pembantaian Armenia". Langkah yang membuat Turki marah.

Sorak sorai dan tepuk tangan membahana ketika resolusi itu disahkan dengan perbandingan suara 405-11, mendukung langkah "menegaskan catatan AS soal genosida".

Langkah itu disebut yang pertama bagi Kongres AS di mana mereka sempat memperkenalkannya bertahun-tahun sebelumnya, namun tak terlaksana.

Baca juga: Diprotes Rakyatnya, PM Armenia Mengundurkan Diri

Dalam resolusi yang disahkan saat hari nasional Turki, AS mengakui pembantaian Armenia disertai dengan paket usulan sanksi.

Usulan sanksi disahkan setelah Ankara menyerang milisi Kurdi yang terjadi setelah pasukan AS memutuskan mundur dari utara Suriah.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan, dia merasa terhormat bisa bergabung bersama koleganya "mengenang salah satu kekejaman besar abad 20".

"Yakni pembunuhan sistematis lebih dari 1,5 juta pria, perempuan, dan anak-anak Armenia oleh Kekaisaran Ottoman Turki," terang Pelosi dilansir AFP Selasa (29/10/2019).

Rakyat Armenia menyatakan, pembunuhan massal itu terjadi dalam periode 1915 sampai 1917 sebagai pembantaian. Klaim yang disetujui 30 negara.

Keputusan itu membuat Turki meradang. Melalui Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu, Ankara menuding AS tengah membalas serangan atas Kurdi.

Sebabnya, Kurdi yang tergabung dalam Pasukan Demokratik Suriah (SDF) adalah sekutu penting Washington dalam menumpas kelompok ISIS.

Dalam kicauannya di Twitter, Cavusoglu menuturkan para pejabat Gedung Capitol merasa frustrasi sehingga beralih kepada resolusi kuno.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber BBC,AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Internasional
Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Internasional
Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Internasional
Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Internasional
Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Internasional
Pria Uganda Mengaku Bisa Bunuh Nyamuk dengan Kentut, Ini Faktanya

Pria Uganda Mengaku Bisa Bunuh Nyamuk dengan Kentut, Ini Faktanya

Internasional
Pria Thailand Kisahkan Cacing Pita Diduga Sepanjang 10 Meter Keluar dari Anus Saat BAB

Pria Thailand Kisahkan Cacing Pita Diduga Sepanjang 10 Meter Keluar dari Anus Saat BAB

Internasional
Menang Telak di Pemilu Inggris, Apa Resep Kemenangan Boris Johnson?

Menang Telak di Pemilu Inggris, Apa Resep Kemenangan Boris Johnson?

Internasional
Keluarga Gajah Terekam Menginvasi Hotel di Zambia untuk Sarapan

Keluarga Gajah Terekam Menginvasi Hotel di Zambia untuk Sarapan

Internasional
Trump Kritik Greta Thunberg: Pergilah Menonton Film Bersama Teman!

Trump Kritik Greta Thunberg: Pergilah Menonton Film Bersama Teman!

Internasional
Perdana Menteri Boris Johnson Raih Kursi Mayoritas di Pemilu Inggris

Perdana Menteri Boris Johnson Raih Kursi Mayoritas di Pemilu Inggris

Internasional
Myanmar Dituduh Genosida Rohingya, Ini Peringatan Aung San Suu Kyi

Myanmar Dituduh Genosida Rohingya, Ini Peringatan Aung San Suu Kyi

Internasional
AS Uji Coba Rudal Balistik ke Samudra Pasifik

AS Uji Coba Rudal Balistik ke Samudra Pasifik

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] AU AS Unggul dari Rusia dan China | Bocah Tendang Mobil yang Tabrak Ibunya

[POPULER INTERNASIONAL] AU AS Unggul dari Rusia dan China | Bocah Tendang Mobil yang Tabrak Ibunya

Internasional
Studi: Angkatan Udara AS Unggul Jauh dari Rusia dan China

Studi: Angkatan Udara AS Unggul Jauh dari Rusia dan China

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X