Kompas.com - 17/10/2019, 18:05 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Sekitar 50 senjata nuklir milik Amerika Serikat yang masih tertahan di pangkalan udara bersama di Turki kini "disandera" oleh Ankara.

Sementara Washington masih berupaya menemukan cara diplomatik untuk menanggapi invasi Turki ke Suriah.

Penarikan pasukan AS dari Suriah utara telah menciptakan kekosongan kekuasaan yang akhirnya memungkinkan Turki dan milisi pemberontak Suriah untuk menggusur pasukan Kurdi yang menjadi sekutu Washington.

Keputusan penarikan pasukan AS dari Suriah telah menuai kecaman, bahkan dari dalam pemerintahan Presiden Donald Trump.

Baca juga: Turki Kecam Perjanjian Kotor antara Kurdi dan Pemerintah Suriah

Meski demikian, Trump tetap meningkatkan oposisinya terhadap langkah invasi yang diumumkan Presiden Recep Tayyip Erdogan, dan mengancam bakal menghancurkan perekonomian Turki.

Kebijakan yang memicu penurunan hubungan antara kedua negara itu telah membuat para pejabat di Washington berupaya menemukan cara untuk mengamankan senjata nuklir AS yang masih tersimpan di pangkalan udara bersama di Incirlik.

Pejabat dari Departemen Luar Negeri dan Departemen Energi, yang mengelola persenjataan nuklir AS, telah bertemu pada akhir pekan lalu untuk mempertimbangkan langkah untuk menarik sekitar 50 senjata nuklir yang diperkirakan masih ada di tempat itu, menurut laporan The New York Times.

Salah seorang pejabat departemen telah mengatakan kepada surat kabar itu bahwa senjata-senjata nuklir tersebut kini secara efektif disandera oleh Erdogan.

Baca juga: Trump Siap Hancurkan Ekonomi Turki jika Teruskan Serangan ke Kurdi Suriah

"Pemindahan senjata-senjata (nuklir) tersebut dikhawatirkan bisa menjadi penanda berakhirnya hubungan antara sekutu NATO, sementara membiarkannya juga bisa membahayakan senjata pemusnah massal itu," tulis laporan surat kabar tersebut.

Teka-teki tentang langkah terbaik untuk puluhan senjata nuklir AS itu muncul hanya satu bulan usai Erdogan, dalam pidatonya, mengatakan bahwa merupakan hal yang "tidak bisa diterima" bahwa Turki tidak diizinkan memasok senjata sendiri di bawah Perjanjian Nonproliferasi Nuklir yang ditandatangani pada 1980.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.