Demonstrasi Tak Kunjung Usai, Lebih dari 40 Persen Warga Hong Kong Ingin Pindah

Kompas.com - 11/10/2019, 19:03 WIB
Pekerja kantor anti-pemerintah menggunakan masker saat mengikuti aksi protes di sela-sela jam makan siang, setelah media lokal melaporkan larangan atas masker wajah melalui hukum darurat, di Central, Hong Kong, China, Jumat (4/10/2019). Ribuan demonstran bermasker turun ke jalan buntut larangan penggunaan masker wajah yang diterapkan pemerintah setempat. ANTARA FOTO / REUTERS / TYRONE SIUPekerja kantor anti-pemerintah menggunakan masker saat mengikuti aksi protes di sela-sela jam makan siang, setelah media lokal melaporkan larangan atas masker wajah melalui hukum darurat, di Central, Hong Kong, China, Jumat (4/10/2019). Ribuan demonstran bermasker turun ke jalan buntut larangan penggunaan masker wajah yang diterapkan pemerintah setempat.

HONG KONG, KOMPAS.com - Jumlah warga Hong Kong yang ingin pindah dari kota itu meningkat seiring dengan aksi demonstrasi yang tak kunjung usai.

Hasil survei yang dilakukan baru-baru ini oleh Universitas China menunjukkan lebih dari 40 persen warga Hong Kong ingin beremigrasi dari kota mereka di tengah krisis politik yang sedang terjadi.

Dilansir SCMP, survei dilakukan oleh Institut Kajian Asia-Pasifik Hong Kong di Universitas China terhadap 707 orang melalui wawancara telepon antara 20 hingga 26 September lalu.

Hasilnya, sebanyak 42,3 persen responden mengindikasikan mereka akan beremigrasi keluar Hong Kong jika memiliki kesempatan.

Baca juga: Dampak Demonstrasi, Perekonomian Hong Kong Menderita

Angka tersebut meningkat jika dibandingkan dengan survei serupa yang dilakukan pada Desember 2018, di mana hanya 34 persen responden yang menjawab memilih emigrasi.

Dari jumlah responden yang menyatakan memilih pindah, sebanyak 23 persen telah memulai rencana untuk emigrasi.

Berdasarkan hasil survei yang dirilis, Kamis (10/10/2019), pihak universitas mengatakan ada dua faktor pendorong utama bagi responden yang berencana pindah ke luar negeri.

Dua faktor tersebut yaitu "terlalu banyak perselisihan politik atau perpecahan sosial", yang dipilih 27,9 persen responden, serta "tidak ada demokrasi di Hong Kong", yang dipilih 21,5 persen responden.

Sekitar 20 persen responden memilih tidak yakin dengan Beijing dan seperlima lainnya mengeluhkan kondisi kehidupan kota Hong Kong yang penuh sesak.

Baca juga: Polisi Kecam Pemukulan Warga Hong Kong oleh Demonstran saat Unjuk Rasa

Aksi protes menentang pemerintah Hong Kong dengan turun ke jalan mulai terjadi sejak 9 Juni.

Protes yang semula dipicu gerakan menentang RUU Ekstradisi telah berkembang menjadi gerakan menuntut reformasi demokrasi dan semakin sering berakhir dengan bentrok.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber SCMP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bebas dari Kamp Penahanan Suriah, 3 Wanita Perancis Disebut Kembali ke Tangan ISIS

Bebas dari Kamp Penahanan Suriah, 3 Wanita Perancis Disebut Kembali ke Tangan ISIS

Internasional
Susul Jerman dan Perancis, Inggris Juga Tangguhkan Ekspor Senjata ke Turki

Susul Jerman dan Perancis, Inggris Juga Tangguhkan Ekspor Senjata ke Turki

Internasional
China Peringatkan Turki Hentikan Aksi Militer dan Kembali pada Resolusi Politik yang Benar

China Peringatkan Turki Hentikan Aksi Militer dan Kembali pada Resolusi Politik yang Benar

Internasional
Pusat Evakuasi di Jepang Dilaporkan Tolak Dua Tunawisma saat Bencana Topan Hagibis Menerjang

Pusat Evakuasi di Jepang Dilaporkan Tolak Dua Tunawisma saat Bencana Topan Hagibis Menerjang

Internasional
Terlempar dari Wahana di Pekan Raya Perancis, Seorang Pengunjung Tewas

Terlempar dari Wahana di Pekan Raya Perancis, Seorang Pengunjung Tewas

Internasional
Guru di China Paksa Muridnya Makan Sampah sebagai Hukuman

Guru di China Paksa Muridnya Makan Sampah sebagai Hukuman

Internasional
Jelang Debat Demokrat, Peringkat Joe Biden Merosot di Survei

Jelang Debat Demokrat, Peringkat Joe Biden Merosot di Survei

Internasional
Janji Akan Menikahi, Pria Pengangguran Ini Justru Perkosa Kenalannya

Janji Akan Menikahi, Pria Pengangguran Ini Justru Perkosa Kenalannya

Internasional
Siaran Langsung di Tengah Topan Hagibis, Jurnalis Ini Malah Dimarahi Netizen

Siaran Langsung di Tengah Topan Hagibis, Jurnalis Ini Malah Dimarahi Netizen

Internasional
Erdogan: Tak Akan Ada Anggota ISIS yang Bakal Keluar dari Suriah

Erdogan: Tak Akan Ada Anggota ISIS yang Bakal Keluar dari Suriah

Internasional
King Cobra Sepanjang 4 Meter Ditangkap dari Dalam Selokan di Thailand

King Cobra Sepanjang 4 Meter Ditangkap dari Dalam Selokan di Thailand

Internasional
Dampak Topan Hagibis, Kawanan Tikus Serbu Kota Ini di Jepang

Dampak Topan Hagibis, Kawanan Tikus Serbu Kota Ini di Jepang

Internasional
Erdogan Tak Akan Hentikan Serangan terhadap Kurdi hingga Kemenangan Sempurna Tercapai

Erdogan Tak Akan Hentikan Serangan terhadap Kurdi hingga Kemenangan Sempurna Tercapai

Internasional
Dikubur Hidup-hidup selama 2 Hari, Bayi Perempuan Ini Ditemukan Selamat

Dikubur Hidup-hidup selama 2 Hari, Bayi Perempuan Ini Ditemukan Selamat

Internasional
Marah karena Merasa Dikhianati, Kurdi Larang AS Bawa Tawanan Berbahaya ISIS

Marah karena Merasa Dikhianati, Kurdi Larang AS Bawa Tawanan Berbahaya ISIS

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X