Presiden Irak: Serangan Militer Turki ke Suriah Bisa Bangkitkan Kelompok Teroris

Kompas.com - 10/10/2019, 09:41 WIB
Seorang wanita membawa anak-anaknya menyelamatkan diri dari serangan bombardir oleh pasukan Turki yang menghancurkan kota Ras al-Ain di provinsi Hasakeh, yang berbatasan dengan Turki, Rabu (9/10/2019). AFP / DELIL SOULEIMANSeorang wanita membawa anak-anaknya menyelamatkan diri dari serangan bombardir oleh pasukan Turki yang menghancurkan kota Ras al-Ain di provinsi Hasakeh, yang berbatasan dengan Turki, Rabu (9/10/2019).

BAGHDAD, KOMPAS.com - Presiden Irak Barham Saleh memperingatkan bahwa serangan militer Turki ke wilayah-wilayah Suriah yang dikuasai Kurdi berpotensi menguatkan kelompok teroris.

Menurut Saleh, serangan yang dilancarkan Turki akan menyebabkan penderitaan kemanusiaan, selain juga membangkitkan kelompok-kelompok teror.

Presiden Irak, yang juga adalah seorang Kurdi, mendesak kepada masyarakat internasional untuk bersatu demi menghindari bencana.

Irak, yang telah mengusir keluar ISIS dari negaranya pada 2017, masih terus mendapat serangan dari sel-sel kelompok teroris itu yang beroperasi di sepanjang perbatasan Suriah.

Baca juga: Turki Mulai Lancarkan Operation Peace Spring, Perang Lawan Kurdi di Suriah

Dengan adanya pertempuran di Suriah timur laut, sejumlah negara khawatir akan bangkitnya kelompok teroris itu, mengingat ada ribuan anggota ISIS yang ditangkap, kini ditahan di kamp-kamp yang dikelola oleh milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG).

Sebelumnya diberitakan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mengumumkan dimulainya operasi militer yang diberi nama "Operation Peace Spring" yang didukung Pasukan Nasional Suriah (SNA), sebuah kelompok pemberontak yang didukung Ankara.

Dikatakan Erdogan, tujuan utama dari operasi militer kali ini adalah mencegah terbentuknya koridor teror di perbatasan selatan Turki, dengan menargetkan Kurdi dan kelompok ISIS di Suriah utara.

Baca juga: Serangan Turki atas Kurdi Suriah Dimulai, 2 Warga Sipil Tewas

Erdogan bahkan mengatakan, keputusan untuk menyerang Kurdi di Suriah bakal membawa perdamaian dan stabilitas.

Pasukan Turki, termasuk kelompok pemberontak yang mereka sokong, telah berkumpul di perbatasan untuk menggempur Kurdi Suriah di utara.

Rencana itu menyusul keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menarik pasukan khususnya yang selama ini bertindak sebagai pembatas Ankara dan Kurdi.

Turki berulang kali menentang bantuan dari Amerika Serikat (AS) terhadap Kurdi, yang dianggap punya kaitan dengan Partai Rakyat Kurdistan (YKK).

YKK dituding sebagai teroris oleh Turki karena menjadi dalang pemberontakan yang terjadi di negara tersebut sejak 1984 silam.

Baca juga: Kurdi Suriah Serukan Perlawanan atas Rencana Serangan Turki

Kurdi Suriah sudah menyerukan kepada warga untuk melakukan mobilisasi massal selama tiga hari sebagai bagian dari upaya membendung Ankara.

Mereka juga meminta kepada warga Kurdi di luar Suriah maupun yang ada di luar negeri untuk meneggelorakan aksi protes dengan rencana serangan Ankara.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wanita di China Lempar Anak Kucing karena Tak Dapat 'Refund' dari Toko Hewan

Wanita di China Lempar Anak Kucing karena Tak Dapat "Refund" dari Toko Hewan

Internasional
Bertemu Mahathir, Anwar Ibrahim Kembali Tegaskan akan Jadi PM Malaysia

Bertemu Mahathir, Anwar Ibrahim Kembali Tegaskan akan Jadi PM Malaysia

Internasional
Selamatkan Penumpang, Dokter Ini Isap 800 Ml Urine di Tengah Penerbangan

Selamatkan Penumpang, Dokter Ini Isap 800 Ml Urine di Tengah Penerbangan

Internasional
Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar atas Tuduhan Genosida Rohingya di Sidang PBB

Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar atas Tuduhan Genosida Rohingya di Sidang PBB

Internasional
Tolak Tawaran dari Perusahaan China, Tuvalu Mantap Mendukung Taiwan

Tolak Tawaran dari Perusahaan China, Tuvalu Mantap Mendukung Taiwan

Internasional
'Dibully' Teman Sekelas, Balasan Murid di Malaysia Bikin Kagum Netizen

"Dibully" Teman Sekelas, Balasan Murid di Malaysia Bikin Kagum Netizen

Internasional
Paduan Suara Muslim Thailand Lantunkan 'Doa Perdamaian' untuk Paus Fransiskus

Paduan Suara Muslim Thailand Lantunkan "Doa Perdamaian" untuk Paus Fransiskus

Internasional
Didakwa Korupsi, Perdana Menteri Israel Bersumpah Tidak Akan Mundur

Didakwa Korupsi, Perdana Menteri Israel Bersumpah Tidak Akan Mundur

Internasional
Terlalu Memperhatikan Anaknya, Ibu 17 Tahun Ini Ditembak Mati Tunangan

Terlalu Memperhatikan Anaknya, Ibu 17 Tahun Ini Ditembak Mati Tunangan

Internasional
Perdana Menteri Israel Didakwa Lakukan Korupsi

Perdana Menteri Israel Didakwa Lakukan Korupsi

Internasional
Bocah 12 Tahun Jadi Terdakwa Termuda Demonstrasi di Hong Kong

Bocah 12 Tahun Jadi Terdakwa Termuda Demonstrasi di Hong Kong

Internasional
Hanya Minta Uang Receh, Pengemis di Brasil Ditembak Mati

Hanya Minta Uang Receh, Pengemis di Brasil Ditembak Mati

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Israel Serang Iran di Suriah | Abu Sayyaf Sandera 3 Nelayan Indonesia

[POPULER INTERNASIONAL] Israel Serang Iran di Suriah | Abu Sayyaf Sandera 3 Nelayan Indonesia

Internasional
China Tuduh AS Berusaha 'Menghancurkan' Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

China Tuduh AS Berusaha "Menghancurkan" Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

Internasional
Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X