AS Beri Sanksi Pembatasan Visa pada Pejabat China Terkait Penindasan Uighur

Kompas.com - 09/10/2019, 15:55 WIB
Warga menggelar unjuk rasa mendukung kelompok etnis Uighur di depan Misi AS untuk PBB, mendorong Departemen Luar Negeri memperjuangkan kebebasan kelompok etnis Muslim itu yang dipenjara di kamp-kamp konsentrasi di Xinjiang, China. AFP / TIMOTHY A CLARYWarga menggelar unjuk rasa mendukung kelompok etnis Uighur di depan Misi AS untuk PBB, mendorong Departemen Luar Negeri memperjuangkan kebebasan kelompok etnis Muslim itu yang dipenjara di kamp-kamp konsentrasi di Xinjiang, China.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Pemerintah Amerika Serikat memberlakukan sanksi pembatasan visa kepada sejumlah pejabat China yang dicurigai terlibat dalam kasus penindasan Uighur.

Sanksi tersebut menargetkan pejabat pemerintah dan anggota Partai Komunis China.

"Mereka diyakini turut bertanggung jawab atas, atau terlibat dalam, penahanan atau penindasan terhadap kelompok Uighur, Kazhakh, atau kelompok minoritas Muslim lainnya di Xinjiang," kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Selasa (8/10/2019).

Penjatuhan sanksi pembatasan visa itu dilakukan Washington hanya kurang dari dua hari sebelum perundingan perdagangan tingkat tinggi yang diagendakan dengan China, yang akan dipimpin Perdana Menteri Liu He.

Baca juga: Diduga Terlibat Penindasan Uighur, 28 Entitas China Masuk Daftar Hitam AS

"Pemerintah China telah melembagakan kampanye yang sangat represif terhadap Uighur dan kelompok etnis minoritas Muslim lainnya di wilyah otonomi Xinjiang, termasuk penahanan massal di kamp-kamp pengasingan," lanjut Pompeo.

Sanksi tersebut menyusul keputusan Departemen Perdagangan AS yang telah memasukkan sebanyak 28 entitas China ke dalam daftar hitam dengan alasan serupa.

Sebanyak 20 biro keamanan publik dan delapan perusahaan, termasuk perusahaan teknologi pengawasan Hikvision dan Megvii Technology yang mengembangkan teknologi informasi, akan dilarang melakukan transaksi dengan perusahaan AS.

"Amerika Serikat menyerukan kepada Republik Rakyat China untuk segera mengakhiri kampanye penindasannya di Xinjiang," kata Pompeo, dikutip SCMP, Selasa (8/10/2019).

Baca juga: China Dituding Ambil dan Jual Organ dari Umat Muslim Uighur yang Ditahan

"Juga membebaskan semua yang ditahan secara sewenang-wenang dan menghentikan upaya untuk memaksa anggota kelompok minoritas Muslim China yang ada di luar negeri agar kembali dan menghadapi takdir yang tak pasti," lanjutnya.

Departemen Luar Negeri AS tidak merinci nama-nama pejabat China yang terdampak sanksi pembatasan visa.

Tetapi anggota parlemen secara khusus telah meminta Amerika Serikat untuk mengambil tindakan terhadap Chen Quanguo, ketua Partai Komunis untuk wilayah Xinjiang.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bebas dari Kamp Penahanan Suriah, 3 Wanita Perancis Disebut Kembali ke Tangan ISIS

Bebas dari Kamp Penahanan Suriah, 3 Wanita Perancis Disebut Kembali ke Tangan ISIS

Internasional
Susul Jerman dan Perancis, Inggris Juga Tangguhkan Ekspor Senjata ke Turki

Susul Jerman dan Perancis, Inggris Juga Tangguhkan Ekspor Senjata ke Turki

Internasional
China Peringatkan Turki Hentikan Aksi Militer dan Kembali pada Resolusi Politik yang Benar

China Peringatkan Turki Hentikan Aksi Militer dan Kembali pada Resolusi Politik yang Benar

Internasional
Pusat Evakuasi di Jepang Dilaporkan Tolak Dua Tunawisma saat Bencana Topan Hagibis Menerjang

Pusat Evakuasi di Jepang Dilaporkan Tolak Dua Tunawisma saat Bencana Topan Hagibis Menerjang

Internasional
Terlempar dari Wahana di Pekan Raya Perancis, Seorang Pengunjung Tewas

Terlempar dari Wahana di Pekan Raya Perancis, Seorang Pengunjung Tewas

Internasional
Guru di China Paksa Muridnya Makan Sampah sebagai Hukuman

Guru di China Paksa Muridnya Makan Sampah sebagai Hukuman

Internasional
Jelang Debat Demokrat, Peringkat Joe Biden Merosot di Survei

Jelang Debat Demokrat, Peringkat Joe Biden Merosot di Survei

Internasional
Janji Akan Menikahi, Pria Pengangguran Ini Justru Perkosa Kenalannya

Janji Akan Menikahi, Pria Pengangguran Ini Justru Perkosa Kenalannya

Internasional
Siaran Langsung di Tengah Topan Hagibis, Jurnalis Ini Malah Dimarahi Netizen

Siaran Langsung di Tengah Topan Hagibis, Jurnalis Ini Malah Dimarahi Netizen

Internasional
Erdogan: Tak Akan Ada Anggota ISIS yang Bakal Keluar dari Suriah

Erdogan: Tak Akan Ada Anggota ISIS yang Bakal Keluar dari Suriah

Internasional
King Cobra Sepanjang 4 Meter Ditangkap dari Dalam Selokan di Thailand

King Cobra Sepanjang 4 Meter Ditangkap dari Dalam Selokan di Thailand

Internasional
Dampak Topan Hagibis, Kawanan Tikus Serbu Kota Ini di Jepang

Dampak Topan Hagibis, Kawanan Tikus Serbu Kota Ini di Jepang

Internasional
Erdogan Tak Akan Hentikan Serangan terhadap Kurdi hingga Kemenangan Sempurna Tercapai

Erdogan Tak Akan Hentikan Serangan terhadap Kurdi hingga Kemenangan Sempurna Tercapai

Internasional
Dikubur Hidup-hidup selama 2 Hari, Bayi Perempuan Ini Ditemukan Selamat

Dikubur Hidup-hidup selama 2 Hari, Bayi Perempuan Ini Ditemukan Selamat

Internasional
Marah karena Merasa Dikhianati, Kurdi Larang AS Bawa Tawanan Berbahaya ISIS

Marah karena Merasa Dikhianati, Kurdi Larang AS Bawa Tawanan Berbahaya ISIS

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X