Maya Karin, Dari Ratu Jerit menjadi Ratu Hijau

Kompas.com - 06/10/2019, 23:01 WIB
Maya Karin Nadirah Zakariya for Team CeritalahMaya Karin

PADA pekan lalu, bersama ikon Greta Thurnberg yang berumur enam belas tahun, jutaan anak muda berkumpul di berbagai kota di seluruh dunia untuk memprotes ketidakpedulian yang senantiasa terus berlanjut pada isu perubahan iklim (#climatestrike).

Yang mengherankan adalah respons dari kawasan Asia Tenggara yang relatif biasa saja (demonstran di Jakarta dan Kuala Lumpur hanya berjumlah ratusan).

Namun demikian, Malaysia dan Indonesia, yang diselubungi oleh asap yang mencekik dari kebakaran hutan, adalah yang terdepan dalam pertaruhan eksistensial ini.

Mengingat skala kerusakan yang besar, sebuah serangan besar terhadap keanekaragaman hayati kita beserta kesehatan umum, di manakah amarah dan murka dari publik?

Baca juga: Apa Bedanya Pemanasan Global dengan Perubahan Iklim?

Sungguh, siapakah yang mesti disalahkan? Pemerintah kah? Sang korporasi minyak kelapa sawit yang sangat kuat itu kah? Ataukah para pengusaha kecil dan para petani?

Sayangnya, kesadaran lingkungan di kedua negara kawasan Asia Tenggara ini masih sangat terbatas.

Tapi sejumlah individu, yang beberapa di antaranya merupakan selebritas, mencoba yang terbaik untuk mengubah situasi ini. Serta sang artis Maya Karin (seleb box office terkenal dan bintang film horor “Munafik 2”) sejauh ini adalah yang paling menonjol dan terdepan dalam hal komitmen terhadap isu lingkungan.

Memang, akhir pekan lalu, sesaat sebelum dia pergi tidur, sang artis ini mengunggah sebuah twit memohon Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (“Jokowi”) untuk mengintervensi masalah kabut. Ia mengakhiri twit tersebut dengan sebuah permohonan “akankah kita biarkan keserakahan menang?”

Dalam semalam, pesan itu menjadi viral. Pada saat artikel ini ditulis, pesan itu telah di-retweet sebanyak 28,600 kali.

Perempuan yang sebentar lagi menginjak umur 40 tahun, keturunan Jerman-Melayu dan “Ratu Jerit” ini telah menjadi “Ratu Hijau,” meski sebenarnya dia adalah sosok yang glamor.

Sambil menggenggam botol air refill, ia duduk dengan kaki tersilang di sofa dalam wawancara ini. Tampak jelas, ia memiliki daya tarik dan atmosfir anak muda yang ‘hippie-chick’.

“Saya sejak lama selalu menjadi seseorang yang mengikuti arus saja. Karir saya tidak pernah direncanakan. Saya sebelumnya tidak pernah memiliki ambisi atau pencapaian-pencapaian tertentu untuk menjadi selebritas,” katanya.

Baca juga: Pemanasan Global Membuat Manusia Jadi Kanibal, Benarkah?

Banyak dari kegiatan aktivis yang ia ikuti memiliki rekam jejak yang serupa. #MayaKarinChallenge, sebuah tantangan di mana orang-orang merendamkan diri di dalam air untuk menjajal kebersihan dan kemurnian sungai Malaysia, yang viral di media sosial, adalah sebuah hasil spontan yang terjadi saat ia berswafoto sambil berbaring di sungai dalam perjalanan pulang dari hutan hujan Belum di Perak.

“Itu tidak direncanakan! Saya mengambil swafoto. Dan ternyata seorang penggemar saya memutuskan untuk meniru itu. Saya pikir cukup lucu sehingga saya me-retweet-nya. Semuanya kemudian seakan-akan meledak!” katanya. 

Mengingat kehadirannya di media sosial (Twitter: 1,4 juta pengikut, Instagram: 950.000 pengikut dan masih meningkat) itu adalah hal yang tidak mengejutkan. Maya juga bisa bersikap tegas ketika keadaan mengharuskannya begitu.

“[Ilmuwan dan pencinta lingkungan] mereka sangat sibuk melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak punya waktu untuk mempromosikan pekerjaan mereka," kata Maya.

"Kemudian ada anak muda yang tidak tahu harus melakukan apa. Maka saya sangat berharap bisa menjadi penghubung diantara keduanya dan membuat mereka sama-sama produktif,” lanjutnya.

Dalam beberapa minggu terakhir ini, dia telah kembali ke Belum untuk acara konservasi hewan di taman komunitas di Cheras dan berpartisipasi dalam membersihkan sungai.

Namun dia merasakan bahwa negaranya sesungguhnya bisa melakukan lebih banyak untuk lingkungan.

“Tantangannya masih pada soal implementasi. Jadi, walaupun pemerintah dan pejabat membahas tentang lingkungan, tetapi 100 persen komitmen murni masih belum ada di sana. Saya belum melihat ada politikus yang mengambil sikap dalam soal itu,” kata Maya.

Maya mengakui bahwa ketakutan terbesarnya adalah kehancuran keanekaragaman hayati atas nama profit.

Dia sangat kritis terhadap industri kelapa sawit, dengan alasan bahwa, “Ketika kita berbicara tentang industri kelapa sawit, pemenang sesungguhnya hanyalah dua atau tiga orang. Itu bukanlah sesuatu yang menguntungkan bagi seluruh desa atau komunitas.”

Tapi mengapa dia mulai peduli?

Mungkin karena didikan sejak kecil, ayahnya dan kakek buyutnya yang berasal dari Jerman (yang merupakan penjaga hutan), menanamkan kecintaan pada hutan dan lingkungan secara umum.

Ayah Maya seringkali membawanya ke bukit untuk mengumpulkan blueberry dan mengunjungi sungai.

“Malaysia memiliki keanekaragaman hayati yang banyak dan begitu pula Indonesia…kita masih memiliki banyak yang harus dilindungi dan dihargai. Kita masih memiliki pilihan,” katanya. 

Namun apa yang bakal terjadi jika kita menjauh dari minyak kelapa sawit? Dan bukankah kerusakannya telah terjadi?

“Saya bukan di posisi untuk menghakimi; apakah kita telah melampaui batas atau tidak. Namun saya berada di posisi untuk berkata bahwa kita seharusnya memikirkan hal ini, dan kita harus mendalaminya. Saya ingin kita memiliki lebih banyak profesional untuk melakukan ini,” kata Maya.

Aidil (yang memiliki akun @sunfloweraidil) rekan penggiat lingkungan, menjelaskan, “Kekuatan terbesar Maya adalah pendekatannya. Dia memiliki cara untuk menerima segala konsep lingkungan dan menyampaikan dengan cara yang dapat dimengerti publik. Dia menjadikan isu lingkungan dapat dicapai.”

Maya sendiri menyatakan, “Hanya ada beberapa orang yang mampu mencerna isu lingkungan.”

Orang-orang yang mungkin mencibir aktivis yang berasal dari kalangan selebritas. Akan tetapi, di Malaysia dan Indonesia, kita sangat membutuhkan suara dari high profile untuk meningkatkan kesadaran dan memunculkan perdebatan, yang pada akhirnya semua ini adalah hutan KITA yang terbakar.

Di waktu yang sama, diamnya para perusahaan perkebunan selama gencarnya kabut ini justru menjadi sangat mencolok. Mereka harus sadar bahwa diam itu bukan emas.

Diam tidak akan membela mereka karena bahaya yang sesungguhnya adalah kehilangan dukungan dari negara asal mereka.

Akhirnya, kita harus memutuskan apakah industri kepala sawit adalah bagian dari masa depan kita atau tidak?

Dan jikalau itu adalah masa depan kita maka kita harus yakin bahwa industri ini harus melayani kepentingan orang banyak dan bukan sebaliknya.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X