Pemerintah Hong Kong Berniat Larang Masker Wajah, Ribuan Demonstran Turun ke Jalan

Kompas.com - 04/10/2019, 14:46 WIB
Demonstran pro-demokrasi berbaris di Chater Garden selama aksi protes melawan rencana pemerintah Hong Kong melarang penggunaan masker wajah menggunakan aturan kolonial pada 4 Oktober 2019. AFP/NICOLAS ASFOURIDemonstran pro-demokrasi berbaris di Chater Garden selama aksi protes melawan rencana pemerintah Hong Kong melarang penggunaan masker wajah menggunakan aturan kolonial pada 4 Oktober 2019.

HONG KONG, KOMPAS.com - Ribuan demonstran bermasker turun ke jalan setelah pemerintah Hong Kong berniat melarang penggunaan masker wajah.

Kerumunan dengan sebagian besar merupakan pekerja itu memenuhi jalan saat jam makan siang buntut rencana pemerintah menggunakan peraturan era kolonial.

Krisis, dengan disertai kerusuhan antara pengunjuk rasa dan aparat, di salah satu pusat finansial dunia itu belum menunjukkan tanda akan berakhir.

Baca juga: Imbas Unjuk Rasa di Hong Kong, Dana Rp 56,6 Triliun Kabur ke Singapura

Untuk menutupi identitas, demonstran mengenakan masker wajah, begitu juga dengan helm kuning, kaca mata, dan alat bantu pernapasan untuk melindungi mereka dari gas air mata maupun proyektil polisi.

Sejumlah media lokal memberitakan, Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam berniat menggunakan UU Tata Cara Darurat untuk melarang penggunaan masker wajah.

Dilansir AFP, dia sudah bertemu dengan kabinetnya, dan diperkirakan bakal mengumumkan kebijakan baru itu pukul 15.00 waktu setempat pada Jumat (4/10/2019).

Namun seorang pekerja yang hanya bersedia memberi nama depannya Mary berujar, para demonstran sudah siap untuk menentang undang-undang kolonial tersebut.

"Generasi muda sudah mempertaruhkan hidup mereka. Mereka tidak khawatir dipenjara 10 tahun. Jadi, mengenakan masker seharusnya bukan masalah," tegas Mary.

Rencana penerapan larangan itu terjadi setelah Hong Kong dilanda kerusuhan paling luar biasa yang bertepatan dengan peringatan 70 tahun Republik Rakyat China.

Dalam bentrokan Selasa (1/10/2019), seorang remaja 18 tahun ditembak polisi menggunakan peluru tajam untuk pertama kalinya.

Demonstran kemudian meningkatkan lemparan bata serta bom molotov, sementara polisi membalasnya menggunakan peluru karet dan gas air mata.

Hingga Jumat, pengelola kereta bawah tanah menyatakan, 83 dari 91 stasiunnya terkena aksi vandalisme dari pendemo.

Baca juga: Polisi Hong Kong Tembak Seorang Demonstran, Media China: Tindakan Sah dan Pantas

Kondisi Titik Balik

Baik politisi pro-Beijing dan asosiasi polisi mendesak pemerintah menggunakan UU darurat yang terakhir kali digunakan Inggris 52 tahun silam.

Menggunakan aturan tersebut, Lam bisa mendeklarasikan apa pun aturan dalam situasi genting tanpa dibahas terlebih dahulu di parlemen.

Saat kerusuhan 1967, di mana 50 orang tewas akibat pengeboman dan pembunuhan, Inggris menggunakan aturan itu supaya polisi punya kewenangan ekstra untuk menahan dan membatasi media.

Pendukung pemerintah menyatakan, undang-undang darurat itu diperlukan untuk menangkal peningkatan kekerasan yang dilakukan oleh demonstran garis keras.

Namun pengkritik menerangkan, penggunaan aturan itu bakal membuat salah satu pusat finansial dunia itu tergelincir. Sebab, reputasi mereka selama ini didasarkan pada supremasi hukum dan independensi peradilan.

Tidak dijelaskan bagaimana larangan penggunaan masker wajah itu bakal diterapkan. Sebab sejak SARS 2003, kebutuhan masker sangat dibutuhkan di Hong Kong.

Simon Young, profesor hukum di Universitas Hong Kong mengatakan, larangan itu bisa berdampak pada pelanggaran lain dari demonstran.

Baca juga: Pemerintah Hong Kong Berencana Larang Demontran Pakai Masker Wajah



Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X