Jarinya Dipotong Taliban karena Memilih dalam Pemilu, Pria Afghanistan Ini Tak Kapok

Kompas.com - 01/10/2019, 12:12 WIB

"Keluarga saya memberi tahu saya untuk tidak melakukannya, tetapi saya tetap melakukannya," kata Safi.

Foto yang diunggah Safi di media sosial itu mendapat tanggapan positif dari netizen Afghanistan, yang banyak di antaranya khawatir jika negara mereka kembali jatuh di bawah kepemimpinan Taliban.

Pemungutan suara untuk pemilihan presiden Afghanistan baru saja digelar pada Sabtu (28/9/2019) lalu, dengan sekitar 9,6 juta warga Afghanistan terdaftar sebagai pemilih.

Pemilu keempat Afghanistan itu diikuti oleh banyak kandidat presiden, namun persaingan kuat terjadi antara calon petahana Presiden Ashraf Ghani dengan rival kuatnya, Abdullah Abdullah, yang saat ini menjabat sebagai kepala eksekutif.

Baca juga: Pasukan Afghanistan Salah Menyerang Pesta Pernikahan, 40 Warga Sipil Tewas

Pemilu tersebut dilangsungkan di bawah pengamanan ketat, dengan kelompok gerilyawan Taliban yang berulang kali mengancam bakal mengganggu jalannya pemilihan dengan menyerang pusat-pusat pemungutan suara di seluruh negeri.

Pihak berwenang menempatkan Kabul di bawah status penguncian sebagian, dengan pasukan ditempatkan di jalan-jalan dan melarang truk memasuki kota, sebagai upaya mencegah serangan bom bunuh diri yang mungkin menargetkan warga yang sedang memilih.

Hampir 5.000 lokasi pemungutan suara disebar di seluruh negeri, dengan kementerian dalam negeri mengatakan sebanyak 72.000 anggota pasukan keamanan telah dikerahkan untuk menjaga keamanan.

Penjabat Menteri Pertahanan, Asadullah Khalid, mengatakan bahwa terjadi sedikitnya 68 serangan terhadap lokasi pemungutan suara di seluruh Afghanistan.

Baca juga: Taliban: Ada 2 Cara Mengakhiri Pendudukan di Afghanistan, Jihad atau Negosiasi

Lima personel keamanan dilaporkan tewas dan 37 warga sipil terluka. Namun ancaman serangan Taliban tampaknya tidak mampu menggagalkan sama sekali pelaksanaan pemilu.

Banyak warga Afghanistan yang datang ke lokasi pemungutan suara dan dengan bangga menunjukkan jari mereka yang telah dicelupkan ke tinta.

"Saya tahu ada ancaman keamanan, tapi bom dan serangan telah menjadi bagian dari kehidupan kami sehari-hari," ujar Mohiuddin (55), kepada AFP.

"Saya tidak takut. Kita harus memilih jika kita ingin membawa perubahan," tambahnya,

Hasil awal pemilu putaran pertama dijadwalkan diumumkan pada 19 Oktober, dengan calon presiden membutuhkan lebih dari 50 persen suara untuk dinyatakan sebagai pemenang langsung, atau dua calon teratas akan menuju putaran kedua pada November.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Reuters,AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.