Kompas.com - 28/09/2019, 08:13 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Rusia mendesak AS supaya tidak merilis percakapan telepon antara Persiden Donald Trump dengan Presiden Vladimir Putin.

Desakan itu muncul setelah Trump menjadi subyek penyelidikan pemakzulan buntut perbincangannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Baca juga: Ketua DPR AS: Trump Tak Memberi Kami Pilihan

Saat hadir di PBB, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menganalogikan percakapan telepon itu dengan surat yang tak bisa dibaca orang lain.

"Itu tak senonoh. Dalam dua orang yang dipilih oleh negaranya, ada tata krama diplomatik yang membutuhkan kerahasiaan tertentu," ujar Lavrov.

Dilansir AFP Jumat (27/9/2019), Gedung Putih merilis percakapan telepon Trump dan Zelensky pada 25 Juli yang menjadi inti penyelidikan pemakzulan.

Percakapan itu menunjukkan Trump meminta kepada Zelensky supaya menyelidiki kasus yang membeli anak lawan politiknya, Joe Biden.

House of Representatives (DPR AS) yang dikuasai oposisi Demokrat bakal menyelidiki apakah Trump menahan bantuan militer Ukraina senilai 400 juta dollar, atau Rp 5,6 triliun.

Penahanan bantuan itu disebut merupakan cara Trump untuk menekan Zelensky guna membuka investigasi kasus putra Biden, Hunter.

Lavrov yang bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengkritik politisi dan media AS karena meminta rilis transkrip percakapan Trump dan Zelensky.

Dia mengaku tidak paham dengan demokrasi di mana satu pihak mendesak pemerintah untuk mengeluarkan penjelasan. "Bagaimana kalian bisa hidup dalam kondisi itu?" tanyanya.

Adapun hubungan Trump dan Putin juga menjadi sorotan, di mana presiden 73 tahun itu kerap melontarkan pujian kepada Putin.

Selain itu, Trump juga menyangkal laporan intelijen bahwa Putin mengintervensi Pilpres AS 2016 yang memenangkan dirinya.

Tapi, investigasi yang dipimpin mantan Direktur FBI Robert Mueller tak menemukan bukti tim kampanye Trump terlibat kerja sama dengan Rusia.

Baca juga: Trump Sebut Whistleblower Tak Berbeda dengan Mata-mata atau Pengkhianat

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.