Kompas.com - 27/09/2019, 18:30 WIB

Baik AS maupun Perancis sebelumnya mengklaim kecurigaan akan senjata kimia. Tetapi menunda keputusan resmi karena butuh banyak penelitian.

Baca juga: Rezim Assad Bertanggung Jawab Terhadap 98 Persen Serangan Kimia di Suriah

Pola Penggunaan Senjata Kimia

Penyelidik internasional menuturkan Assad berulang kali menggunakan senjata kimia kepada warga sipil dalam rangka memenangkan konflik sipil yang menewaskan 370.000 orang.

Mantan Presiden Barack Obama pernah memperingatkan penggunaan senjata pemusnah massal. Tetapi, dia tidak mengerahkan militer untuk membalas.

Namun kebalikannya, Presiden Donald Trump memerintahkan serangan menggunakan 59 rudal penjelajah sebagai respons atas serangan gas sarin di Khan Sheikhoun pada April 2017.

Serangan itu tak menggoyahkan Assad yang mendapat sokongan kuat dari Rusia, yang memveto resolusi Dewan Keamanan PBB dan menempatkan militernya di sana.

Jeffrey yakin, Rusia paham akan serangan itu. "Sangat mengherankan jika ada perwira sebaik mereka yang tidak mengetahuinya," paparnya.

Baca juga: Sebut Pemberontak Suriah Pakai Senjata Kimia, Rusia Lancarkan Serangan Balasan

Pertimbangan Respons

Washington sudah mengumumkan kebijakan dengan menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan lima kapal karena menyediakan bahan bakar bagi pasukan Rusia di Suriah.

Pompeo menyatakan, AS menggelontorkan tambahan dana 4,5 juta dollar AS, sekitar Rp 63,7 miliar, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia.

Tetapi mantan Direktur CIA itu ingin AS menggunakan militer, dan menekankan serangan menggunakan klorin berdampak pada sistem pernapasan.

Sementara serangan di Khan Sheikhoun yang membunuh 83 orang menurut catatan PBB menggunakan sarin. Racun saraf yang sangat kuat.

"Jadi ini adalah situasi yang berbeda," ujar Pompeo. Tetapi dia memperingatkan supaya Suriah tidak melakukan serangan itu lagi di masa depan.

Temuan Washington soal senjata kimia terjadi satu pekan setelah PBB menyatakan pembentukan komite yang akan menulis konstitusi baru Suriah.

Kelompok itu bakal berisi baik dari pemerintah maupun oposisi. Meski tak ada konsensus bagaimana arah mereka dalam menulis konstitusi itu.

Baca juga: Assad kepada Kurdi Suriah: Amerika Tidak Akan Melindungi Kalian

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.