Ungkap Risiko Kanker Akibat Polusi Beracun, Ilmuwan Turki Dihukum 15 Bulan Penjara

Kompas.com - 26/09/2019, 22:21 WIB
Ilustrasi ilmuwan. SHUTTERSTOCKIlustrasi ilmuwan.

ISTANBUL, KOMPAS.com - Seorang ilmuwan Turki dijatuhi hukuman penjara 15 bulan karena mengungkapkan risiko kanker yang ditimbulkan oleh polusi beracun di barat negara itu.

Pengadilan di Istanbul, pada Kamis (26/9/2019), menyatakan Dr Bulent Sik bersalah karena dianggap telah membocorkan informasi rahasia.

Putusan pengadilan itu pun langsung menuai kecaman dari Amnesty Internasional yang menyebutnya sebagai "parodi keadilan".

Dr Sik pada tahun lalu mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukannya bersama dengan sejumlah ilmuwan lain untuk Kementerian Kesehatan antara tahun 2011 hingga 2015.

Baca juga: Ilmuwan Ciptakan Material Paling Hitam di Bumi, Bisa Hilangkan Berlian

Penelitian yang dilakukan menghubungkan toksisitas dalam tanah, air, dan makanan dengan tingkat kanker tinggi di beberapa provinsi barat Turki.

Dia lantas menulis sebuah artikel untuk surat kabar Cumhuriyet, setelah menyadari bahwa pemerintah tidak mengambil tindakan atas temuan hasil penelitian tersebut.

"Penelitian ini dengan jelas mengungkapkan sejauh mana sumber daya air telah terkontaminasi oleh bahan beracun," kata Dr Sik kepada wartawan usai pembacaan vonis pengadilan.

"Tetapi putusan pengadilan menunjukkan bahwa hasil penelitian yang secara langsung menyangkut kesehatan masyarakat dapat disembunyikan. Ini tidak dapat diterima," tambahnya.

Baca juga: Pertama di Dunia, Ilmuwan China Sukses Kloning Kucing yang Sudah Mati

Dr Sik tidak ditahan pada Kamis sambil menunggu hasil pengadilan banding.

Kelompok hak asasi dan aktivis lingkungan menuduh pemerintah telah gagal dalam menegakkan peraturan lingkungan di tengah ledakan industri yang pesat di banyak wilayah di Turki.

Polusi dari zona industri Dilovasi, sekitar 80 kilometer dari Istanbul dan rumah bagi banyak pabrik kimia dan metalurgi, telah dipilih dalam laporan yang ditulis Dr Sik karena dinilai memiliki tingkat risiko kanker jauh di atas rata-rata internasional.

"Kasus melawan Bulent Sik telah, sejak awal, merupakan sebuah parodi peradilan," kata Andrew Gardner, peneliti dari Amnesti Internasional di Turki, dikutip AFP.

Baca juga: Ilmuwan Spanyol Klaim Ciptakan Hibrida Manusia-Monyet di China

"Daripada mengejar pelapor melalui pengadilan, pemerintah Turki seharusnya menyelidiki masalah kesehatan masyarakat yang penting ini," tambahnya.

Amnesti Internasional mengatakan akan menganggap Dr Sik sebagai tahanan hati nurani (prisoner of conscience) jika dia dipenjara.

Turki telah melihat tindakan keras yang luas pada banyak aspek kebebasan berbicara, terutama sejak kudeta yang gagal terhadap Presiden Recep Tayyip Erdogan pada tahun 2016.

Dr Sik sebelumnya telah menghadapi hukuman 12 tahun penjara atas tuduhan "mendapatkan informasi rahasia", tetapi pengadilan memutuskan bahwa dia tidak bersalah.



Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X