Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemimpin Hong Kong Berniat Cabut UU Ekstradisi yang Kontroversial

Kompas.com - 04/09/2019, 16:11 WIB
Ardi Priyatno Utomo

Penulis

Sumber AFP

HONG KONG, KOMPAS.com - Pemimpin Hong Kong Carrie Lam dilaporkan berniat mencabut UU Ekstradisi yang dianggap kontroversial, dan menjadi penyebab demo selama tiga bulan terakhir.

Lam yang merupakan pemimpin pro-China, diprediksi bakal mengumumkan niatnya pada Rabu sore (4/9/2019), demikian dilaporkan HK01 dan SCMP yang mengutip sumber.

Laporan pencabutan UU Ekstradisi kontroversial itu tak pelak menggairahkan pasar saham. AFP memberitakan perdagangan sore ditutup dengan lonjakan empat persen.

Baca juga: China: Jika Situasi Hong Kong Makin Memburuk, Pemerintah Tak Akan Tinggal Diam

Gairah itu sejalan dengan harapan bahwa Lam serta China bakal bersedia memberikan solusi politik setelah selama berpekan-pekan menolak adanya konsesi.

Berita adanya niat mencabut UU itu muncul saat jam makan siang Rabu. Saat itu, para politisi Hong Kong dipanggil untuk bertemu dengan sang kepala eksekutif.

Satu anggota parlemen yang tidak ingin disebutkan identitasnya mengungkapkan, mereka diminta bertemu pukul 16.00 waktu setempat jelang konferensi pers.

Rumor pun berkembang bahwa Lam berencana menarik penuh. "Gestur penarikan UU Ekstradisi merupakan cara untuk mendinginkan situasi," kata sumber kepada SCMP.

Indeks saham berkualitas Hang Seng naik empat persen. Kemudian Indeks HSI Property juga melonjak hingga enam persen setelah laporan itu menyebar.

Tantangan kepada China

Kawasan semi-otonom Hong Kong dihantam demo, kadang berujung bentrokan, selama tiga bulan terakhir sejak pemerintahan Lam mengusulkan UU untuk mengekstradisi penjahat ke China daratan.

Demo itu kemudian berkembang menjadi tuntutan reformasi demokrasi, yang kadang diselingi bentrokan melibatkan bom molotov hingga gas air mata antara polisi dan pendemo.

Sejak Juni, baik Lam hingga Beijing sudah menolak berkompromi selain menyepakati menunda UU Ekstradisi. Langkah yang menimbulkan kekecewaan pendemo.

Sebab, mereka ingin aturan itu dicabut sepenuhnya. Aksi itu menjadi tantangan terberat bagi Beijing sejak penyerahan bekas koloni Inggris itu pada 1997 silam.

Kalangan pengusaha Hong Kong tidak menyukai proposal tersebut. Jadi, mereka kaget saat tahu pusat finansial itu jatuh ke dalam bentrok polisi dan pengunjuk rasa.

Baca juga: Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Minta Bantuan Taiwan

Pada Selasa (3/9/2019), muncul pemberitaan soal rekaman bocor berisi pengakuan Lam bahwa dia ingin mengundurkan diri jika punya pilihan, dan menganggap dia sebagai pusat masalah.

Dengan pencabutan UU Ekstradisi jadi isu utama, tuntutan para pendemo berkembang. Termasuk penyelidikan independen kebrutalan polisi, dan amnesti bagi mereka yang ditahan.

Tak kalah penting adalah tuntutan supaya mereka diizinkan memilih pemimpin sendiri. Sikap yang sudah dipandang China sebagai ancaman kedaulatan mereka.

Forum percakapan daring yang kerap digunakan oleh para pendemo berisi komentar bernada marah bahwa mencabut UU Ekstradisi tidak akan menghentikan pergerakan.

"Dari lima permintaan utama, tidak ada yang dilaksanakan semua. Bebaskan Hong Kong. Mulai revolusi," demikian pesan yang beredar di aplikasi Telegram.

Baca juga: Video Ungkap Detik-detik Polisi Hong Kong Tangkap Pelajar di Taman Bermain

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com