Kompas.com - 02/09/2019, 10:21 WIB
Payung milik peserta protes di stasiun MRT di Hong Kong  yang mencegah pintu kereta menutup. AFP / PHILIP FONGPayung milik peserta protes di stasiun MRT di Hong Kong yang mencegah pintu kereta menutup.

Setelah meninggalkan bandara, sejumlah demonstran tampak menuju stasiun kereta bawah tanah di distrik Tung Chung, yang berada di dekat bandara.

Massa demonstran pun melancarkan aksi anarkis dengan merusak pintu dan menghancurkan kamera CCTV serta lampu stasiun menggunakan tongkat.

Polisi bertindak dan menangkap sejumlah peserta unjuk rasa.

Aksi protes pada Sabtu (31/8/2019) lebih buruk, dengan polisi menembakkan gas air mata dan meriam air, sementara para demonstran membalas dengan lemparan bom molotov.

Aksi protes menentang pemerintah di Hong Kong telah berjalan hingga 13 pekan, sejak dimulainya aksi turun ke jalan pada awal Juni lalu.

Baca juga: Gunakan Pistol dan Meriam Air ke Demonstran, Polisi Hong Kong Sebut karena Terpaksa

Unjuk rasa di kota semi-otonom itu berawal dari gerakan menentang RUU Ekstradisi yang memungkinan pelanggar hukum di Hong Kong untuk diekstradisi ke China daratan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

RUU tersebut kini telah ditangguhkan, namun massa demonstran ingin RUU Ekstradisi dicabut sepenuhnya, hal yang belum dipenuhi pemerintah Hong Kong hingga kini, termasuk menuntut mundurnya pemimpin Hong Kong Carrie Lam.

Hong Kong merupakan bagian dari China yang mendapat status semi-otonomi di bawah kerangka "satu negara dua sistem", yang memberi hak untuk menjalankan hukumnya sendiri, selain kebebasan lainnya yang tak dirasakan rakyat China daratan.

Pemerintah China memberikan status khusus itu sejak Hong Kong diserahkan kembali oleh Inggris pada 1997. Namun hak-hak itu dinilai mulai dikurangi sehingga memicu gerakan protes.

Baca juga: Demo Hong Kong Berlanjut, Mahasiswa Berencana Boikot Perkuliahan selama 2 Pekan

Gerakan yang awalnya menentang RUU Ekstradisi, kini berubah menjadi menuntut reformasi demokrasi yang lebih luas.

Sementara otoritas China sedang berjuang memadamkan aksi protes di Hong Kong sebelum peringatan 70 tahun berdirinya Republik Rakyat China pada 1 Oktober mendatang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.