Media China: Pasukan di Hong Kong Tak Akan Tinggal Diam jika Situasinya Memburuk

Kompas.com - 30/08/2019, 14:34 WIB
Pasukan China yang bermarkas di garnisun Hong Kong bersiap untuk kedatangan Presiden China Xi Jinping pada 30 Juni 2017 untuk memperingati 20 tahun penyerahan Hong Kong dari Inggris kepada China. REUTERS/DAMIR SAGOLJPasukan China yang bermarkas di garnisun Hong Kong bersiap untuk kedatangan Presiden China Xi Jinping pada 30 Juni 2017 untuk memperingati 20 tahun penyerahan Hong Kong dari Inggris kepada China.

BEIJING, KOMPAS.com - Pasukan China yang bermarkas di Hong Kong tak hanya sekadar simbol. Mereka tidak akan "tinggal diam" jika situasi di sana semakin memburuk.

Retorika tegas itu disampaikan media Beijing China Daily setelah Beijing mengumumkan adanya rotasi rutin yang terjadi baik di angkatan darat, udara, hingga maritim.

Baca juga: Pasukan China Terlihat Bergerak Menuju Hong Kong di Tengah Rencana Demo

Dilansir Reuters via Channel News Asia Jumat (30/8/2019), rotasi pasukan China itu terjadi setelah dalam tiga bulan terakhir, Hong Kong diguncang aksi demo.

Detasemen Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) sudah ditempatkan sejak pusat finansial dunia itu diserahkan sebagai bekas koloni Inggris ke Beijing 1997 silam.

Mereka sering menggelar latihan tapi jarang terlihat. Kemungkinan pengerahan garnisun itu sudah menyeruak. Namun pemerintah setempat yang memang pro-China menyatakan masih bisa menanganinya.

Analis mengestimasi jumlah pasukan di garnisun antara 8.000 sampai 10.000 personel, yang terbagi antara di selatan China dengan barak di Hong Kong.

Dalam editorialnya, China Daily memaparkan meski Pemerintah Otonomi Khusus (SAR) tidak merasa perlu, bukan berarti pasukan tak perlu bergerak jika situasinya berkembang.

"Jika situasinya memburuk, dengan terjadi kekerasan dan demo mulai mengancam, pasukan China yang bermarkas di SAR tidak akan tinggal diam," tegas China Daily.

"Garnisun PLA di Hong Kong bukan sekadar simbol bagi kedaulatan negara," ulas harian yang dikelola Departemen Publikasi Partai Komunis China itu.

Berdasarkan Basic Law atau konstitusi dasar Hong Kong, pemerintah bisa meminta bantuan militer untuk mengendalikan situasi. Namun mereka tak boleh mencampuri urusan internal.

Konflik Hong Kong berkembang pada Juni lalu, ketika publik menentang usulan undang-undang yang bakal mengekstradisi penjahat ke China daratan.

Dari sikap kontra atas UU Ekstradisi, pergerakan itu meluas menjadi tuntutan akan reformasi demokrasi, termasuk desakan untuk menyelidiki kebrutalan polisi.

Baca juga: China Kecewa Pernyataan Para Pemimpin G7 yang Dukung Otonomi Hong Kong



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X