Rudal Korea Utara yang Baru Dikembangkan Bisa Menembus Pertahanan Jepang

Kompas.com - 28/08/2019, 17:30 WIB
Gambar yang diambil pada 24 Agustus 2019 dan dirilis 25 Agustus oleh kantor berita Korea Utara 9KCNA) memperlihatkan Pemimpin Korut kim Jong Un merayakan uji coba senjata peluncur roket berukuran besar di lokasi yang tidak diketahui. AFP/KCNA VIA KNSGambar yang diambil pada 24 Agustus 2019 dan dirilis 25 Agustus oleh kantor berita Korea Utara 9KCNA) memperlihatkan Pemimpin Korut kim Jong Un merayakan uji coba senjata peluncur roket berukuran besar di lokasi yang tidak diketahui.

TOKYO, KOMPAS.com - Jepang melalui menteri pertahanannya mengatakan hulu ledak dari rudal yang dikembangkan Korea Utara (Korut) diyakini bisa menembus pertahanan mereka.

Dalam keterangannya Selasa (27/8/2019), Takeshi Iwaya menuturkan senjata itu merupakan rudal balistik jarak pendek dan menyoroti lintasan tak beraturannya.

Baca juga: Inilah Peluncur Roket Super Besar yang Diuji Coba oleh Korea Utara

Dilansir The Guardian Rabu (28/8/2019), Menteri Pertahanan Iwaya menjelaskan rudal Korea Utara itu bisa mengakali sistem pertahanan yang dimiliki Jepang.


Uji coba proyektil yang dilakukan Pyongyang baru-baru ini telah membuat resah Jepang. Meski Presiden Amerika Serikat ( AS) Donald Trump mengabaikannya.

Baik Jepang dan AS telah mempunyai kapal perusak Aegis yang ditempatkan di Laut Timur (Laut Jepang) diperlengkapi sistem pencegat untuk merontokkan rudal di angkasa.

Tokyo juga berencana untuk membangun sistem Aegis yang bisa dipasang di darat untuk memperkuat pertahanan mereka dari ancaman rudal balistik Korut.

Tetapi, sistem pertahanan itu hanya bisa menghancurkan proyektil dengan lintasan tetap dan bisa diprediksi. Karena itu, setiap variasi bisa memberikan kesulitan.

Menurut keterangan Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel), detil analisi menganai uji coba senjata yang dilakukan Korut sudah dikirim kepada AS.

Setelah Korut menguji coba senjata, Dewan Keamanan PBB langsung menggelar pertemuan tertutup Selasa atas permintaan dari Jerman, Perancis, dan Inggris.

Ketiga negara itu menyuarakan kecaman karena negara komunis tersebut sudah berulang kali melakukan aksi provokatif dengan berkali-kali melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

Dalam pernyataan gabungan tiga itu mendesak komunitas internasional untuk terus menekan hingga Korut bersedia menyerahkan program senjata nuklir dan rudal balistiknya.

Tes yang terjadi Sabtu (24/8/2019) terjadi sehari setelah Korsel mengumumkan mengakhiri pakta kerja sama intelijen militer dengan Jepang di tengah isu kerja paksa masa penjajahan.

Iwaya beserta sejumlah pejabat Jepang lainnya menyebut kebijakan yang diumumkan Korsel "tak rasional" di tengah semakin meningkatnya kemampuan militer Korut.

Baca juga: Korea Utara Berjanji Bakal Terus Jadi Ancaman AS

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Alasan Kiribati Memutuskan Hubungan Diplomatik dengan Taiwan dan Akui China

Ini Alasan Kiribati Memutuskan Hubungan Diplomatik dengan Taiwan dan Akui China

Internasional
Arab Saudi Bakal Bertindak Jika Iran Terbukti Terlibat dalam Serangan ke Kilang Minyak Aramco

Arab Saudi Bakal Bertindak Jika Iran Terbukti Terlibat dalam Serangan ke Kilang Minyak Aramco

Internasional
Ribuan Fans Alien Datangi Area 51 di Padang Pasir Nevada, 5 Orang Ditahan

Ribuan Fans Alien Datangi Area 51 di Padang Pasir Nevada, 5 Orang Ditahan

Internasional
Garda Revolusi: Setiap Negara yang Serang Iran Bakal Jadi 'Medan Perang'

Garda Revolusi: Setiap Negara yang Serang Iran Bakal Jadi "Medan Perang"

Internasional
Anwar Ibrahim, Dipenjara karena Tuduhan Sodomi, Kini Jadi Calon Pewaris Takhta Mahathir

Anwar Ibrahim, Dipenjara karena Tuduhan Sodomi, Kini Jadi Calon Pewaris Takhta Mahathir

Internasional
Mawlamyine, Kota yang Ditinggalkan Penduduknya

Mawlamyine, Kota yang Ditinggalkan Penduduknya

Internasional
Ketika Kopi Membantu Veteran Vietnam Membesarkan Keluarganya

Ketika Kopi Membantu Veteran Vietnam Membesarkan Keluarganya

Internasional
Mahathir: Saya Akan Umumkan Tanggal Penyerahan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim

Mahathir: Saya Akan Umumkan Tanggal Penyerahan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim

Internasional
Diminta Arab Saudi, Pentagon Bakal Kirim Pasukan Bantuan ke Wilayah Teluk

Diminta Arab Saudi, Pentagon Bakal Kirim Pasukan Bantuan ke Wilayah Teluk

Internasional
Pertama Kali, Resepsi Diplomatik Peringatan HUT Kemerdekaan RI Digelar di Gedung Senat AS

Pertama Kali, Resepsi Diplomatik Peringatan HUT Kemerdekaan RI Digelar di Gedung Senat AS

Internasional
Trump Umumkan Sanksi Baru dan Terberat terhadap Iran, tapi..

Trump Umumkan Sanksi Baru dan Terberat terhadap Iran, tapi..

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Kilang Minyak Aramco Diserang | Pelaku Pembunuhan Hwaseong Terungkap

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Kilang Minyak Aramco Diserang | Pelaku Pembunuhan Hwaseong Terungkap

Internasional
Ketinggian Pesawat Turun Lebih dari 9.000 Meter dalam 7 Menit, Penumpang Panik

Ketinggian Pesawat Turun Lebih dari 9.000 Meter dalam 7 Menit, Penumpang Panik

Internasional
Ditolak Rumah Sakit, Seorang Ibu Terpaksa Melahirkan di Bak Mandi Rumahnya

Ditolak Rumah Sakit, Seorang Ibu Terpaksa Melahirkan di Bak Mandi Rumahnya

Internasional
Jika Perang Pecah di Timur Tengah, Cadangan BBM Australia Bisa Habis dalam 3 Minggu

Jika Perang Pecah di Timur Tengah, Cadangan BBM Australia Bisa Habis dalam 3 Minggu

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X