Kompas.com - 14/08/2019, 16:13 WIB

Polisi yang mengenakan peralatan anti huru hara dan membawa tongkat pemukul datang dan terlibat kerusuhan. Di satu video, terlihat seorang polisi mengacungkan pistol ke demonstran.

Sebabnya, dia dihajar menggunakan tongkatnya sendiri karena dilaporkan menangkap perempuan. Dia disudutkan dan dihajar habis-habisan sebelum menarik pistolnya.

Aksi dari para pendemo terjadi setelah kepolisian Hong Kong mengakui mereka sengaja menyebar anggota yang menyamar sebagai demonstran untuk mengendalikan situasi.

Terdapat dua orang yang ditangkap dan sempat dianiaya demonstran. Tabloid Global Times kemudian mengonfirmasi salah satunya merupakan jurnalis mereka.

Baca juga: Tongkat Pemukul dan Semprotan Merica Warnai Kerusuhan di Bandara Hong Kong

Sepanjang malam, kelompok penentang pemerintah kemudian merilis permintaan maaf secara daring. Mereka mengungkapkan "takut" dan meminta pertolongan.

Pemerintah Hong Kong langsung bereaksi dengan menyatakan mereka mengecam keras aksi tersebut, dan berjanji bakal segera menangkap pelaku yang bertanggung jawab.

"Aksi yang dipertontonkan sangatlah kejam dan sudah melangkah batas dari masyarakat yang beradab," demikian pernyataan yang dirilis pemerintah setempat.

Demonstrasi itu terjadi sejak awal Juni ketika oposisi menentang UU Ekstradisi yang mengizinkan terduga kriminal untuk dikirim ke China daratan.

Kritik yang berembus menyatakan bahwa mereka khawatir kemerdekaan Hong Kong bakal terenggut, dengan aturan itu bisa dipakai untuk membungkam lawan politik.

Meski pemerintah setempat sudah mengumumkan penangguhan peraturan tersebut, publik mendesak supaya mereka memutuskan menarik sepenuhnya UU Ekstradisi.

Tuntutan mereka kemudian menjadi lebih luas dengan seruan penyelidikan independen akan kebrutalan polisi dan amnesti bagi peserta unjuk rasa yang ditahan.

Hong Kong adalah bagian dari China. Namun, mereka menganut "satu negara, dua sistem" yang menjamin otonomi serta hak yang tidak didapatkan di daratan utama.

Baca juga: Demonstrasi di Hong Kong, Ini Imbauan Kemenlu untuk WNI

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.